Saadat Padjadjaran
Ashadu sahadat islam,
Sarsilah gusti panutan,
Panut pangkon pangandika,
Kanjeng gusti rosul,
Anembah guru,
Anembah ratu,
Anembah telekon agama islam,
Syeh haji kuncung putih,
Kian santang
kan lumejang,
Kudrat yaa insun qursy Allah,



Susuci
Sri suci tunggal sabangsa,
Banyu suci tungggal sabangsa,
Geni suci tunggal sabangsa,
Braja suci tunggal sabangsa,
Suka suci mulya badan sampurna,
Sampurna kersaning allah ta'ala,
Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.

Translate

Selasa, 12 Februari 2013

SEJARAH BANTEN

000ASAL MUASAL
Tidak banyak yang diketahui mengenai
sejarah dari bagian terbarat pulau Jawa
ini, terutama pada masa sebelum
masuknya Islam. Keberadaanya sedikit
dihubungkan dengan masa kejayaan
maritim Kerajaan Sriwijaya, yang
menguasai Selat Sunda, yang
menghubungkan pulau Jawa dan
Sumatera. Dan juga dikaitkan dengan
keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran,
yang berdiri pada abad ke 14 dengan
ibukotanya Pakuan yang berlokasi di
dekat kota Bogor sekarang ini.
Berdasarkan catatan, Kerajaan ini
mempunyai dua pelabuhan utama,
Pelabuhan Kalapa, yang sekarang
dikenal sebagai Jakarta, dan Pelabuhan
Banten.
Dari beberapa data mengenai Banten
yang tersisa, dapat diketahui, lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir pantai, melainkan
sekitar 10 Kilometer masuk ke daratan, di tepi sungai Cibanten, di bagian selatan dari Kota Serang
sekarang ini. Wilayah ini dikenal dengan nama Banten Girang atau Banten di atas sungai, nama
ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Kemungkinan besar, kurangnya dokumentasi
mengenai Banten, dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di
Nusantara, baru berlangsung setelah masuknya Dinasti Islam di permulaan abad ke 16.
Peta Lokasi Banten Girang
800px-java-map2
Penelitian yang dilakukan di lokasi
Banten Girang di tahun 1988 pada
program Ekskavasi Franco Indonesia,
berhasil menemukan titik terang akan
sejarah Banten. Walaupun dengan
keterbatasan penelitian, namun banyak
bukti baru yang ditemukan. Sekaligus
dapat dipastikan bahwa keberadaan
Banten ternyata jauh lebih awal dari
perkiraan semula dengan ditemukannya
bukti baru bahwa Banten sudah ada di
awal abad ke 11 12 Masehi. Banten
pada masa itu sudah merupakan
kawasan pemukiman yang penting yang
ditandai dengan telah dikelilingi oleh
benteng pertahanan dan didukung oleh
berbagai pengrajin mulai dari pembuat
kain, keramik, pengrajin besi, tembaga,
perhiasan emas dan manik manik kaca.
Mata uang logam (koin) sudah digunakan sebagai alat pembayaran, dan hubungan internasional
sudah terjalin dengan China, Semenanjung Indochina, dan beberapa kawasan di India
000
Banten Girang : Pertapaan yang diukir di dalam bukit batu
Secara nyata, tidak ada keputusan final yang dapat diambil sebelum penelitian dilakukan lebih lanjut, tapi dapat dipastikan bahwa keberadaan Banten sudah berlangsung sangat lama dan teori bahwa keberadaannya dimulai pada saat terbentuknya Kerajaan Islam di Banten, tidak lagi dapat dipertahankan.
Bangsa Portugis telah mendokumentasikan keberadaan Banten dan sekitarnya pada awal abad ke
16, kurang lebih 15 tahun sebelum Kerajaan Islam Banten terbentuk.
Setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, bangsa Portugis memulai perdagangan dengan bangsa
Sunda. Ketertarikan utama mereka adalah pada Lada yang banyak terdapat di kedua sisi Selat
Sunda. Bangsa Cina juga sangat berminat pada jenis rempah rempah ini, dan kapal Jung mereka
telah berlayar ke pelabuhan Sunda setiap tahunnya untuk membeli lada. Walaupun Kerajaan
Pajajaran masih berdiri, namun kekuasaannya mulai menyusut. Kelemahan ini tidak luput dari
perhatian Kerajaan Islam Demak. Beberapa dekade sebelumnya Kerajaan Demak telah menguasai
bagian timur pulau Jawa dan pada saat itu bermaksud untuk juga menguasai pelabuhan Sunda.
Masyarakat Sunda, memandang serius ekspansi Islam, melihat makin berkembangnya komunitas
ulama dan pedagang Islam yang semakin memiliki peranan penting di kota pelabuhan Hindu.
Menghadapi ancaman ini, Otoritas Banten, baik atas inisiatifnya sendiri maupun atas seizin Pakuan,
memohon kepada bangsa Portugis di Malaka, yang telah berulangkali datang berniaga ke Banten.
Di mata otoritas Banten, bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda; bangsa Portugis sangat
anti Islam, dan armada lautnya sangat kuat dan menguasai perairan di sekitar Banten. Banten, di sisi
lain, dapat menawarkan komoditas lada bagi Portugis. Negosiasi ini di mulai tahun 1521 Masehi.
Tahun 1522 Masehi, Portugis di Malaka, yang sadar akan pentingnya urusan ini, mengirim utusan
ke Banten, yang dipimpin oleh Henrique Leme. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak, sebagai
ganti dari perlindungan yang diberikan, Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk persediaan
lada, dan diperkenankan untuk membangun benteng di pesisir dekat Tangerang. Kemurah hatian
yang sangat tinggi ini menggaris bawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten.
Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lagi untuk dua alasan : yang
pertama, agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak, dan yang kedua untuk
menahan agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu, tidak terlalu dekat dengan kota
Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi
Portugis. Lima tahun yang panjang berlalu, sebelum akhirnya armada Portugis tiba di pesisir
Banten, di bawah pimpinan Francisco de S, yang bertanggungjawab akan pembangunan benteng.
Sementara itu, situasi politik telah sangat berubah dan sehingga armada Portugis gagal untuk
merapat ke daratan. Seorang ulama yang sekarang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati,
penduduk asli Pasai, bagian utara Sumatera setelah tinggal beberapa lama di Mekah dan Demak,
pada saat itu telah menetap di Banten Girang, dengan tujuan utama untuk menyebarkan ajaran
agama Islam. Walaupun pada awalnya kedatangannya diterima dengan baik oleh pihak otoriti, akan
tetapi Ia tetap meminta Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten ketika Ia menilai
waktunya tepat. Dan adalah puteranya, Hasanudin, yang memimpin operasi militer di Banten. Islam
mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 M bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Sadar
akan adanya perjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya, Islam mencegah siapapun
untuk merapat ke Banten. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua
pelabuhan utama Sunda, yaitu Kalapa dan Banten, penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh
Pakuan.
Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah, Kaum Muslim, sekarang merupakan
kelas sosial baru, yang memegang kekuasaan politik di Banten, dimana sebelumnya juga telah
memegang kekuasaan ekonomi. Putera Sunan Gunung Jati, Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan
Banten oleh Sultan Demak, yang juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. Dengan itu, sebuah
dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. Dan Banten dipilih
sebagai ibukota Kerajaan baru tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar