Saadat Padjadjaran
Ashadu sahadat islam,
Sarsilah gusti panutan,
Panut pangkon pangandika,
Kanjeng gusti rosul,
Anembah guru,
Anembah ratu,
Anembah telekon agama islam,
Syeh haji kuncung putih,
Kian santang
kan lumejang,
Kudrat yaa insun qursy Allah,



Susuci
Sri suci tunggal sabangsa,
Banyu suci tungggal sabangsa,
Geni suci tunggal sabangsa,
Braja suci tunggal sabangsa,
Suka suci mulya badan sampurna,
Sampurna kersaning allah ta'ala,
Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.

Translate

Selasa, 12 Februari 2013

Silsilah Penguasa Kerajaan Panjalu Ciamis


Batara Tesnajati

Batara Tesnajati adalah tokoh pendiri Kabataraan Gunung Sawal, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Layah. Petilasan Batara Tesnajati terdapat di Karantenan Gunung Sawal.

Batara Layah

Batara Layah menggantikan ayahnya sebagai Batara di Karantenan Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Karimun Putih.

Batara Karimun Putih

Ia menggantikan ayahnya menjadi Batara di Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Prabu Sanghyang Rangga Sakti. Petilasan Batara Karimun Putih terletak di Pasir Kaputihan, Gunung Sawal.

Prabu Sanghyang Rangga Gumilang

Sanghyang Rangga Gumilang naik tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia dikenal juga sebagai Sanghyang Rangga Sakti dan pada masa pemerintahaanya terbentuklah suatu pemerintahan yang berpusat di Dayeuhluhur Maparah setelah berakhirnya masa Kabataraan di Karantenan Gunung Sawal Panjalu.
Sanghyang Rangga Gumilang menikahi seorang puteri Galuh bernama Ratu Permanadewi dan mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Lembu Sampulur. Petilasan Prabu Sanghyang Rangga Gumilang terletak di Cipanjalu.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I

Sanghyang Lembu Sampulur I naik tahta sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Cakradewa.

Prabu Sanghyang Cakradewa

Sanghyang Cakradewa memperisteri seorang puteri Galuh bernama Ratu Sari Kidang Pananjung dan mempunyai enam orang anak yaitu:
1) Sanghyang Lembu Sampulur II,
2) Sanghyang Borosngora,
3) Sanghyang Panji Barani,
4) Sanghyang Anggarunting,
5) Ratu Mamprang Kancana Artaswayang, dan
6) Ratu Pundut Agung (diperisteri Maharaja Sunda).
Petilasan Prabu Sanghyang Cakradewa terdapat di Cipanjalu.
Menurut kisah dalam Babad Panjalu, Prabu Sanghyang Cakradewa adalah seorang raja yang adil dan bijaksana, di bawah pimpinannya Panjalu menjadi sebuah kerajaan yang makmur dan disegani. Suatu ketika sang raja menyampaikan keinginannya di hari tua nanti untuk meninggalkan singgasana dan menjadi Resi atau petapa (lengser kaprabon ngadeg pendita). Untuk itu sang prabu mengangkat putera tertuanya Sanghyang Lembu Sampulur II menjadi putera mahkota, sedangkan putera keduanya yaitu Sanghyang Borosngora dipersiapkan untuk menjadi patih dan senapati kerajaan (panglima perang). Oleh karena itu Sanghyang Borosngora pergi berkelana, berguru kepada para brahmana, petapa,resi, guru dan wiku sakti di seluruh penjuru tanah Jawa untuk mendapatkan berbagai ilmu kesaktian dan ilmu olah perang.
Beberapa tahun kemudian sang pangeran pulang dari pengembaraannya dan disambut dengan upacara penyambutan yang sangat meriah di kaprabon Dayeuhluhur, Prabu Sanghyang Cakradewa sangat terharu menyambut kedatangan puteranya yang telah pergi sekian lama tersebut. Dalam suatu acara, sang prabu meminta kepada Sanghyang Borosngora untuk mengatraksikan kehebatannya dalam olah perang dengan bermain adu pedang melawan kakaknya yaitu Sanghyang Lembu Sampulur II dihadapan para pejabat istana dan para hadirin. Ketika kedua pangeran itu tengah mengadu kehebatan ilmu pedang itu, tak sengaja kain yang menutupi betis Sanghyang Borosngora tersingkap dan tampaklah sebentuk rajah (tattoo) yang menandakan pemiliknya menganut ilmu kesaktian aliran hitam.
Prabu Sanghyang Cakradewa sangat kecewa mendapati kenyataan tersebut, karena ilmu itu tidak sesuai dengan Anggon-anggon Kapanjaluan (falsafah hidup orang Panjalu) yaitu mangan kerana halal, pake kerana suci, tekad-ucap-lampah sabhenere dan Panjalu tunggul rahayu, tangkal waluya. Sang Prabu segera memerintahkan Sanghyang Borosngora untuk membuang ilmu terlarang itu dan segera mencari "Ilmu Sajati" yaitu ilmu yang menuntun kepada jalan keselamatan. Sebagai indikator apakah Sanghyang Borosngora telah menguasai ilmu sajati atau belum, maka sang prabu membekalinya sebuah gayung batok kelapa yang dasarnya diberi lubang-lubang sehingga tidak bisa menampung cidukan air. Apabila sang pangeran telah menguasai ilmu sajati, maka ia bisa menciduk air dengan gayung berlubang-lubang tersebut.
Untuk kedua kalinya Sanghyang Borosngora pergi meninggalkan kaprabon, dan kali ini ia berjalan tak tentu arah karena tidak tahu kemana harus mencari ilmu yang dimaksudkan oleh ayahnya itu. Letih berjalan tak tentu arah akhirnya ia duduk bersemadi, mengheningkan cipta, memohon kepada Sanghyang Tunggal agar diberikan petunjuk untuk mendapatkan Ilmu Sajati. Sekian lama bersemadi akhirnya ia mendapat petunjuk bahwa pemilik ilmu yang dicarinya itu ada di seberang lautan, yaitu di tanah suci Mekkah, Jazirah Arab. Dengan ilmu kesaktiannya Sanghyang Borosngora tiba di Mekkah dalam sekejap mata.
Di Mekkah itu Sanghyang Borosngora bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya agar dapat bertemu dengan seseorang yang mewarisi Ilmu Sajati yang dimaksud. Orang-orang yang tidak mengerti maksud sang pangeran menunjukkan agar ia menemui seorang pria yang tinggal dalam sebuah tenda di gurun pasir. Sanghyang Borosngora bergegas menuju tenda yang dimaksud dan ketika ia membuka tabir tenda itu dilihatnya seorang pria tua yang sedang menulis dengan pena. Karena terkejut dengan kedatangan tamunya, pena yang ada di tangan pria tua itu terjatuh menancap di tanah berpasir.
Lelaki misterius itu menegur sang pangeran karena telah datang tanpa mengucapkan salam sehingga mengejutkannya dan mengakibatkan pena yang dipegangnya jatuh tertancap di pasir, padahal sesungguhnya lelaki itu hanya berpura-pura terkejut karena ingin memberi pelajaran kepada pemuda pendatang yang terlihat jumawa karena kesaktian yang dimilikinya itu. Setelah bertanya apa keperluannya datang ke tendanya, lelaki itu hanya meminta Sanghyang Borosngora agar mengambilkan penanya yang tertancap di pasir. Sang pangeran segera memenuhi permintaan pria itu, tetapi terjadi kejanggalan, pena yang menancap di tanah itu seperti sudah menyatu dengan bumi sehingga walaupun segenap kekuatannya telah dikerahkan, namum pena itu tak bergeming barang sedikitpun.
Sanghyang Borosngora segera menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Sebagai seorang kesatria ia mengakui kehebatan pria itu dan memohon ampun atas kelancangan sikapnya tadi. Sang pangeran juga memohon kesediaan pria misterius itu mengajarinya ilmu yang sangat mengagumkannya ini. Lelaki yang kemudian diketahui adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib R.A. ini hanya meminta Sanghyang Borosngora mengucapkan kalimat syahadat seperti yang dicontohkannya dan sungguh ajaib, pena yang menancap di tanah itu bisa dicabut dengan mudah olehnya.
Setelah peristiwa itu Sanghyang Borosngora menetap beberapa lama di Mekkah untuk menimba Ilmu Sajati kepada Baginda Ali R.A. yang ternyata adalah Dien Al Islam (Agama Islam). Di akhir masa pendidikannya Sanghyang Borosngora diberi wasiat oleh Baginda Ali agar melaksanakan syiar Islam di tanah asalnya. Sanghyang Borosngora yang sekarang bernama Syeikh Haji Abdul Iman ini kemudian diberi cinderamata berupa Pedang, Cis (tombak bermata dua atau dwisula), dan pakaian kebesaran. Sebelum pulang Syeikh Haji Abdul Iman juga menciduk air zam-zam dengan gayung berlubang pemberian ayahnya dan ternyata air zam-zam itu tidak menetes yang berarti ia telah berhasil menguasai ilmu sajati dengan sempurna.
Ringkas cerita Sanghyang Borosngora kembali ke kaprabon dan disambut dengan suka cita oleh sang prabu beserta seluruh kerabatnya. Sanghyang Borosngora juga menyampaikan syiar Islam kepada seluruh kerabat istana. Sang Prabu yang telah uzur menolak dengan halus ajakan puteranya itu dan memilih hidup sebagai pendeta sebagaimana kehendaknya dahulu dan menyerahkan singgasana kepada putera mahkota Sanghyang Lembu Sampulur II.
Air zam-zam yang dibawa Sanghyang Borosngora dijadikan cikal bakal air Situ Lengkong yang sebelumnya merupakan sebuah lembah yang mengelilingi bukit bernama Pasir Jambu. Gayung berlubang pemberian ayahnya dilemparkan ke Gunung Sawal dan kemudian menjadi sejenis tanaman paku yang bentuknya seperti gayung. Sanghyang Borosngora melanjutkan syiar Islamnya dengan mengembara ke arah barat melewati daerah-daerah yang sekarang bernama Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.
Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II tidak lama memerintah di Kerajaan Panjalu, ia kemudian hijrah ke daerah Cimalaka di kaki Gunung Tampomas, Sumedang dan mendirikan kerajaan baru di sana. Sanghyang Borosngora yang menempati urutan kedua sebagai pewaris tahta Panjalu meneruskan kepemimpinan kakaknya itu dan menjadikan Panjalu sebagai kerajaan Islam yang sebelumnya bercorak Hindu.
Sebagai media syiar Islam, Sanghyang Borosngora mempelopori tradisi upacara adat Nyangku yang diadakan setiap Bulan Maulud (Rabiul Awal), yaitu sebuah prosesi ritual penyucian pusaka-pusaka yang diterimanya dari Baginda Ali R.A. yang setelah disucikan kemudian dikirabkan dihadapan kumpulan rakyatnya. Acara yang menarik perhatian khalayak ramai ini dipergunakan untuk memperkenalkan masyarakat dengan agama Islam dan mengenang peristiwa masuk Islamnya Sanghyang Borosngora.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II

Sanghyang Lembu Sampulur II naik tahta menggantikan Prabu Sanghyang Cakradewa, akan tetapi ia kemudian menyerahkan singgasana kerajaan kepada adiknya yaitu Sanghyang Borosngora,sedangkan ia sendiri hijrah dan mendirikan kerajaan baru di Cimalaka Gunung Tampomas (Sumedang).

Prabu Sanghyang Borosngora

Sanghyang Borosngora naik tahta Panjalu menggantikan posisi kakaknya, ia kemudian membangun keraton baru di Nusa Larang. Adiknya yang bernama Sanghyang Panji Barani diangkat menjadi Patih Panjalu. Di dalam Babad Panjalu tokoh Prabu Sanghyang Borosngora ini dikenal sebagai penyebar Agama Islam dan Raja Panjalu pertama yang menganut Islam, benda-benda pusaka peninggalannya masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit dan dikirabkan pada setiap bulan Maulud setelah terlebih dulu disucikan dalam rangkaian prosesi acara adat Nyangku.
Sanghyang Borosngora mempunyai dua orang putera yaitu:
1) Rahyang Kuning, dan
2) Rahyang Kancana.
Prabu Sanghyang Borosngora juga didamping oleh Guru Aji Kampuhjaya dan Bunisakti, dua orang ulama kerajaan yang juga merupakan senapati-senapati pilih tanding.
Petilasan Prabu Sanghyang Borosngora terdapat di Jampang Manggung (Sukabumi), sedangkan petilasan Sanghyang Panji Barani terdapat di Cibarani (Banten).

Sanghyang Borosngora dan Hyang Bunisora Suradipati

Hyang Bunisora Suradipati adalah adik Maharaja Sunda yang bernama Maharaja Linggabuana. Sang Maharaja terkenal sebagai Prabu Wangi yang gugur sebagai pahlawan di palagan Bubat melawan tentara Majapahit pada tahun 1357. Ketika peristiwa memilukan itu terjadi puteranya yang bernama Niskala Wastu Kancana baru berusia 9 tahun, untuk itu Hyang Bunisora menjabat sebagai Mangkubumi Suradipati mewakili keponakannya itu atas tahta Kawali .
Hyang Bunisora juga dikenal sebagai Prabu Kuda Lelean dan Batara Guru di Jampang karena menjadi seorang petapa atau resi yang mumpuni di Jampang (Sukabumi). Nama Hyang Bunisora yang mirip dengan Sanghyang Borosngora dan gelarnya sebagai Batara Guru di Jampang menyiratkan adanya keterkaitan antara kedua tokoh ini, meskipun belum bisa dipastikan apakah kedua tokoh ini adalah orang yang sama. Jika ternyata kedua tokoh ini adalah orang yang sama, pastinya akan membuka salah satu lembar yang tersembunyi dari Sejarah Sunda.
Hyang Bunisora atau Mangkubumi Suradipati menikah dengan Dewi Laksmiwati dan menurunkan 4 (empat) anak (Djadja Sukardja,2007):
1). Giri Dewata (Gedeng Kasmaya) di Cirebon Girang menikahi Ratna Kirana puteri Ratu Cirebon Girang, di lereng Gunung Ciremai.
2). Bratalegawa (Haji baharudin/Haji Purwa) menikahi puteri Gujarat.
3). Ratu Banawati.
4). Ratu Mayangsari yang diperisteri Niskala Wastu Kancana.
Hyang Bunisora dikabarkan dimakamkan di Geger Omas, diperkirakan lokasi Geger Omas sekarang adalah Desa Ciomas (Panjalu Ciamis), di desa tersebut terdapat situs makam yang dikenal sebagai makam Dalem Penghulu Gusti dan Dalem Mangkubumi (Djadja Sukardja, 2007: 29-30).

Sanghyang Borosngora dan Baginda Ali RA

Legenda pertemuan antara Sanghyang Borosngora dengan Baginda Ali R.A. ini sampai sekarang masih kontroversial mengingat keduanya hidup di zaman yang berbeda. Sayidina Ali hidup pada abad ke-7 M (tahun 600-an) sedangkan pada periode masa itu di tatar Sunda tengah berdiri Kerajaan Tarumanagara dan nama Panjalu belum disebut-sebut dalam sejarah. Nama Panjalu (Kabuyutan Sawal) mulai disebut-sebut ketika Sanjaya (723-732) hendak merebut Galuh dari tangan Purbasora, ketika itu Sanjaya mendapat bantuan pasukan khusus dari Rabuyut Sawal (Panjalu) yang merupakan sahabat ayahnya, Sena (709-716).
Sementara itu jika dirunut melalui catatan silsilah Panjalu sampai keturunannya sekarang, maka Sanghyang Borosngora diperkirakan hidup pada tahun 1400-an atau paling tidak sezaman dengan Sunan Gunung Jati Cirebon (1448-1568). Namun demikian, bukti-bukti cinderamata dari Sayidina Ali R.A. yang berupa pedang, tongkat dan pakaian kebesaran masih dapat dilihat dan tersimpan di Pasucian Bumi Alit. Kabarnya pedang pemberian Baginda Ali itu pernah diteliti oleh para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa kandungan logam dan besi yang membentuk pedang itu bukan berasal dari jenis bahan pembuatan senjata yang biasa dipakai para Empu dan Pandai Besi di Nusantara.

Sanghyang Borosngora, Walangsungsang dan Kian Santang

Kisah masuk Islamnya Sanghyang Borosngora yang diislamkan oleh Sayidina Ali R.A. ini mirip dengan kisah Kian Santang. Kian Santang adalah putera Prabu Siliwangi dari isteri keduanya yang bernama Nyai Subang Larang binti Ki Gedeng Tapa yang beragama Islam. Dari isteri keduanya ini Prabu Siliwangi mempunyai tiga orang putera-puteri yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Nyai Rara Santang, dan Kian Santang (Raja Sangara). Walangsungsang dan Rara Santang menuntut ilmu agama Islam mulai dari Pasai, Makkah, sampai ke Mesir; bahkan Rara Santang kemudian dinikahi oleh penguasa Mesir Syarif Abdullah atau Sultan Maulana Mahmud dan berputera Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Setelah naik haji Pangeran Cakrabuana berganti nama menjadi Syeikh Abdullah Iman, sedangkan Rara Santang setelah menikah berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.
Sementara itu, berbeda dengan kedua kakaknya; Kian Santang dikisahkan memeluk Islam setelah bertemu dengan Baginda Ali lalu kembali ke tanah air untuk menyampaikan syiar Islam kepada sang ayah: Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi yang tidak bersedia memeluk Islam lalu menghilang beserta seluruh pengikutnya di Leuweung Sancang (hutan Sancang di daerah Garut sekarang). Kian Santang yang juga berganti nama menjadi Syeikh Mansyur, melanjutkan syiar Islamnya dan kemudian dikenal sebagai Sunan Rahmat Suci atau Sunan Godog yang petilasannya terdapat di Garut.

Sanghyang Borosngora versi Sejarah Cianjur

Menurut versi Sejarah Cianjur, Sanghyang Borosngora dikenal sebagai Prabu Jampang Manggung. Nama aslinya adalah Pangeran Sanghyang Borosngora, ia putera kedua Adipati Singacala (Panjalu) yang bernama Prabu Cakradewa. Prabu Cakradewa sendiri adalah putera Sedang Larang, Sedang Larang adalah putera Ratu Prapa Selawati.
Sanghyang Borosngora adalah putera Prabu Cakradewa dari permaisuri yang bernama Ratu Sari Permanadewi. Ratu Sari Permanadewi adalah putera keenam dari Adipati Wanaperi Sang Aria Kikis, jadi Sanghyang Borosngora adalah saudara misan Dalem Cikundul.
Sanghyang Borosngora mempunyai empat orang saudara dan pada usia 14 tahun ia diperintah sang ayah untuk berziarah ke tanah suci Mekkah. Pada bulan Safar 1101 H Sanghyang Borosngora berangkat ke Mekkah yang lama perjalanannya adalah 6 tahun.
Sepulang dari tanah suci, Sanghyang Borosngora mendapat julukan Syeikh Haji Sampulur Sauma Dipa Ulama. Tiba di kampung halamannya Kerajaan Singacala, sang ayah ternyata telah meninggal dunia. Borosngora kemudian berniat menurunkan ilmunya dan menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat Pajajaran Girang dan Pajajaran Tengah, karena itu Borosngora mengembara ke nagari Sancang dan tanah Jampang.
Pada hitungan windu pertama, Sanghyang Borosngora melakukan perjalanan kunjungan ke tanah leluhurnya di Karantenan Gunung Sawal, nagari Sancang, Parakan Tilu, Kandangwesi, Gunung Wayang, Gunung Kendan (Galuh Wiwitan), Dayeuhkolot (Sagalaherang), nagari Wanayasa Razamantri, Bayabang (menemui Kyai Nagasasra), Paringgalaya (sekarang sudah terbenam oleh Waduk Jatiluhur) dan kemudian kembali ke Gunung Wayang.
Pada windu kedua ia berangkat ke Jampang Wetan, Gunung Patuha, Gunung Pucung Pugur, Pasir Bentang, Gunung Masigit, Pager Ruyung, Pagelarang, Jampang Tengah, Curug Supit, Cihonje, Teluk Ratu, Gunung Sunda, Cipanegah, Cicatih kemudian mengunjungi Salaka Domas di Sela Kancana, Cipanengah, Cimandiri.
Windu ketiga Sanghyang Borosngora pergi ke Jampang Tengah mendirikan padepokan di Hulu Sungai Cikaso, Taman Mayang Sari (kuta jero), Jampang Kulon. Di tempat ini ia dikenal dengan nama Haji Soleh dan Haji Mulya. Setelah itu ia kembali ke Cipanengah, Gunung Rompang, di tempat ini ia dikenal sebagai Syeikh Haji Dalem Sepuh.
Sanghyang Borosngora menikahi seorang gadis yatim, cucu angkat Kanjeng Kiai Cinta Linuwih di Gunung Wayang. Gadis yatim ini adalah turunan langsung Senapati Amuk Murugul Sura Wijaya, Mantri Agung Mareja, wakil Sri Maharaja Pajajaran untuk wilayah Cirebon Girang dan Tengah.
Padaa windu ketiga, ia memiliki dua orang putra yaitu Hariang Sancang Kuning dan Pangeran Hariang Kancana. Sanghyang Borosngora hidup sampai usia lanjut, ia wafat setelah dari Gunung Rompang serta dimakamkan di suatu tempat di tepi sungai Cileuleuy, Kp Langkob, Desa Ciambar, Kecamatan Nagrak, Sukabumi.
Putra cikalnya yaitu Hariang Sancang Kuning melakukan napak tilas perjalanan mendiang ayahnya ke Pajajaran Girang dan Tengah, kemudian ke Singacala (Panjalu). Ia wafat dan dimakamkan di Cibungur, selatan Panjalu. Salah seorang keturunannya yang terkenal adalah Raden Alit atau Haji Prawata Sari yang gigih menentang penjajah Belanda. Ia dikenal sebagai pemberontak yang sangat ditakuti berjuluk "Karaman Jawa". Sedangkan adik Sancang Kuning yakni Pangeran Hariang Kancana menjadi Adipati Singacala kemudian hijrah ke Panjalu, setelah wafat ia dimakamkan di Giri Wanakusumah, Situ Panjalu.
Pertemuan para raja di Gunung Rompang
Pada suatu masa beberapa orang raja dan adipati dari bekas kawasan Pajajaran tengah dan Pajajaran girang yang mencakup wilayah Cianjur, Sukabumi dan sekitarnya berkumpul di puncak gunung yang biasa dipakai sebagai lokasi musyawarah oleh para raja dan adipati yaitu di Gunung Rompang (dalam bhs. Sunda istilah rompang menunjukan keadaan senjata pedang, golok atau pisau yang sudah retak bergerigi karena terlalu sering dipakai). Dinamai Gunung Rompang karena pada masa akhir berdirinya kerajaan Sunda Pajajaran setelah melewati perang selama 50 tahun, senjata para prajurit Pajajaran telah menjadi rompang karena dipakai bertempur terus-menerus.
Lokasi ini dikenal juga sebagai "Karamat Pasamoan", adapun tokoh-tokoh yang hadir pada pertemuan itu adalah :
1. Syeikh Dalem Haji Sepuh Sang Prabu Jampang Manggung yang berasal dari negeri Singacala (Panjalu) bawahan Galuh, di tanah Pajampangan ia dikenal dengan berbagai julukan yaitu sebagai Syeikh Haji Mulya, Syeikh Haji Sholeh, dan Syeikh Aulia Mantili.
2. Kanjeng Aria Wira Tanu Cikundul atau Pangeran Jaya Lalana, bergelar Raden Ngabehi Jaya Sasana, Pangeran Panji Nata Kusumah.
3. Raden Sanghyang Panaitan atau Raden Widaya bergelar Pangerang Rangga Sinom di Sedang, Kanjeng Adipati Sukawayana.
4. Raden Adipati Lumaju Gede Nyilih Nagara di Cimapag.
5. Kanjeng Kyai Aria Wangsa Merta dari Tarekolot, Cikartanagara.
6. Kanjeng Dalem Nala Merta dari Cipamingkis.
7. Pangeran Hyang Jaya Loka dari Cidamar.
8. Pangeran Hyang Jatuna dari Kadipaten Kandang Wesi.
9. Pangeran Hyang Krutu Wana dari Parakan Tiga.
10. Pangeran Hyang Manda Agung dari Sancang.
Tujuan pertemuan para raja ini adalah untuk membahas keinginan para raja dan adipati untuk menjalin kerjasama yang lebih erat terutama dalam usaha menangkal serangan musuh dari luar. Untuk itu dibutuhkan adanya seorang pemimpin yang tangguh, pemimpin yang memegang tangkai, yang disebut sebagai Raja Gagang (Raja pemegang tangkai). Prabu Jampang Manggung mengusulkan agar Aria Wira Tanu Dalem Cikundul yang ditunjuk sebagai Raja Gagang, dan usul ini diterima oleh semua tokoh yang hadir.
Akhirnya, setelah menjalankan Salat Jum'ah yang bertepatan dengan bulan purnama Rabiul Awal 1076 H atau 2 September 1655 berdiri negeri Cianjur yang merupakan negeri merdeka dan berdaulat, tidak tunduk kepada Kompeni, Mataram maupun Banten, hanya tunduk kepada Allah SWT. Negeri ini dipimpin oleh Aria Wira Tanu, Dalem Cikundul sebagai Raja Gagang.
Pemberontakan Raden Haji Alit Prawatasari
RH Alit Prawatasari
Raden Haji Alit Prawatasari adalah seorang ulama dari Jampang yang juga merupakan keturunan Sancang Kuning dari Singacala (Panjalu). Pemberontakan Raden Haji Alit Prawatasari dimulai pada bulan Maret 1703 dan terjadi sangat dahsyat. Haji Prawatasari sanggup memobilisasi rakyat menjadi pasukannya sebanyak 3000 orang sehingga membuat VOC kalang kabut. Pada suatu ketika tersebar berita bahwa RH Alit Prawatasari telah tewas. Pieter Scorpoi komandan pasukan VOC segera saja menawan dan menggiring seluruh warga Jampang yang mencapai 1354 orang untuk menjalani hukuman di Batavia melewati Cianjur.
Tujuan VOC tidak lain adalah untuk menghancurkan semangat dan kekuatan pengikut RH Alit Prawatasari. Penduduk Jampang yang berbaris sepanjang jalan itu sebagian besar tewas diperjalanan, yang tersisa hanyalah 582 orang dengan kondisi yang menyedihkan, mereka kemudian digiring terus menuju ke Bayabang.
Pada waktu itu sesungguhnya RH Alit Prawatasari tidak tewas melainkan sedang mengumpulkan wadya balad (pengikut) yang sangat besar, ia kemudian memimpin penyerbuan ke kabupaten priangan wetan (timur). Pada tahun 1705 RH Alit Prawatasari muncul lagi di Jampang dan kemudian mengepung sekeliling Batavia, pada sekitar Januari di dekat Bogor.
Dikarenakan VOC tak mampu menangkap RH Alit Prawatasari, tiga orang tokoh masyarakat yang ditangkap di Kampung Baru, Bogor dieksekusi mati oleh VOC. Pada bulan Maret RH Alit Prawatasari membuat kekacauan di Sumedang utara, kemudian pada Agustus 1705 RH Alit Prawatasari berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang mencoba mengejar dan menangkapnya melalui tiga kali pertempuran.
Akibat kegagalan-kegalannya menangkap RH Alit Prawatasari, maka VOC menjatuhkan hukuman berat kepada siapa saja yang disangka membantu RH Alit Prawatasari, namun jumlah pengikutnya bukan berkurang malah semakin bertambah banyak karena rakyat bersimpati kepada perjuangannya.
Pihak Belanda lalu mengeluarkan ultimatum dan tenggat waktu selama enam bulan kepada para bupati di Tatar Sunda agar menangkap RH Alit Prawatasari. Pada tahun 1706 RH Alit Prawatasari meninggalkan Tatar Sunda menuju ke Jawa Tengah. RH Alit Prawatasari akhirnya tertangkap di Kartasura setelah ditipu oleh Belanda pada tangal 12 Juli 1707.
Makam pahlawan yang terlupakan ini terletak di Dayeuh Luhur, Cilacap. Penduduk setempat menyebutnya sebagai makam turunan Panjalu, makamnya ini sampai sekarang masih sering diziarahi oleh penduduk sekitar dan peziarah dari Ciamis.

Prabu Rahyang Kuning

Rahyang Kuning atau Hariang Kuning menggantikan Sanghyang Borosngora menjadi Raja Panjalu, akibat kesalahpahaman dengan adiknya yang bernama Rahyang Kancana sempat terjadi perseteruan yang akhirnya dapat didamaikan oleh Guru Aji Kampuh Jaya dari Cilimus. Rahyang Kuning kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan tahta Panjalu kepada Rahyang Kancana.
Menurut Babad Panjalu, perselisihan ini dikenal dengan peristiwa Ranca Beureum. Peristiwa ini terjadi sewaktu Prabu Rahyang Kuning bermaksud menguras air Situ Lengkong untuk diambil ikannya (Sunda:ngabedahkeun). Rahyang Kuning mengutus patih kerajaan untuk menjemput sang ayah Sanghyang Borosngora di Jampang Manggung agar menghadiri acara itu. Namun karena Sanghyang Borosngora berhalangan, maka ia menunjuk Rahyang Kancana untuk mewakili sang ayah menghadiri acara tersebut.
Berhubung hari yang telah ditentukan untuk perayaan itu semakin dekat, Rahyang Kuning memerintahkan para abdinya untuk mulai membobol Situ Lengkong sambil menunggu kedatangan ayahnya, air pembuangannya dialirkan melalui daerah jalan Sriwinangun sekarang. Sang Prabu turun langsung memimpin para abdi dan rakyatnya berbasah-basahan di tengah cuaca dingin di pagi buta itu. Untuk sekedar menghangatkan badan, Rahyang Kuning menyalakan api unggun sambil berdiang menghangatkan telapak tangannya menghadap ke arah barat.
Pada saat yang bersamaan dari arah barat, sang adik Rahyang Kancana bersama rombongan pasukan pengawalnya tiba di sekitar daerah Sriwinangun yang akan dilewati dan terkejut mendapati Situ Lengkong telah mulai dikeringkan tanpa menunggu kedatangannya sebagai wakil sang ayah. Rahyang Kancana yang tersinggung lalu membendung saluran pembuangan air itu dengan tergesa-gesa. Akibatnya meskipun sudah dibendung, tetapi tempat itu masih dipenuhi rembesan air dan gundukan tanah tak beraturan sehingga sampai sekarang tempat itu dikenal dengan nama Cibutut (Bhs. Sunda: butut artinya jelek).
Rahyang Kuning yang tengah menghangatkan telapak tangannya menghadapi api unggun terkejut melihat kedatangan Rahyang Kancana bersama pasukan pengawalnya yang dipenuhi emosi. Sebaliknya Rahyang Kancana mengira kakaknya itu sedang menunggu untuk menantangnya adu kesaktian karena ia telah membendung air Situ Lengkong supaya tidak kering. Singkat cerita, akibat kesalahpahaman tersebut terjadilah duel pertarungan antara Rahyang Kancana bersama pasukan pengawalnya melawan Rahyang Kuning bersama pasukan pengawal kerajaan, akibat pertempuran itu banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, akibatnya sebuah ranca (rawa atau danau dangkal) airnya menjadi berwarna merah oleh genangan darah sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama Ranca Beureum (Bhs. Sunda: beureum artinya merah).
Perang saudara ini baru berakhir setelah didamaikan oleh Guru Aji Kampuhjaya, ulama kerajaan yang sangat dihormati sekaligus sahabat Prabu Sanghyang Borosngora. Rahyang Kuning yang menyesal karena telah menimbulkan perselisihan tersebut menyerahkan tahta Panjalu kepada Rahyang Kancana dan meninggalkan kaprabon lalu mengembara ke wilayah selatan Galuh.
Rahyang Kuning di akhir hayatnya menjadi Raja di Kawasen (Ciamis Selatan), jasadnya dibawa pulang ke Panjalu dan dimakamkan di Kapunduhan Cibungur, Desa Kertamandala, Kecamatan Panjalu.

Prabu Rahyang Kancana

Rahyang Kancana atau Hariang Kancana melanjutkan tahta Panjalu dari kakaknya, untuk melupakan peristiwa berdarah perang saudara di Ranca Beureum ia memindahkan kaprabon dari Nusa Larang ke Dayeuh Nagasari, sekarang termasuk wilayah Desa Ciomas Kecamatan Panjalu.
Rahyang Kancana mempunyai dua orang putera yaitu:
1) Rahyang Kuluk Kukunangteko, dan
2) Rahyang Ageung.
Prabu Rahyang Kancana setelah mangkat dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong. Pusara Prabu Rahyang Kancana sampai sekarang selalu ramai didatangi para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Prabu Rahyang Kuluk Kukunangteko

Rahyang Kuluk Kukunangteko atau Hariang Kuluk Kukunangteko menggantikan Rahyang Kancana menduduki tahta Panjalu, ia didampingi oleh adiknya yang bernama Rahyang Ageung sebagai Patih Panjalu. Sang Prabu mempunyai seorang putera bernama Rahyang Kanjut Kadali Kancana.
Pusara Rahyang Kuluk Kukunangteko terletak di Cilanglung, Simpar, Panjalu.

Prabu Rahyang Kanjut Kadali Kancana

Rahyang Kanjut Kadali Kancana atau Hariang Kanjut Kadali Kancana menggantikan ayahnya sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Rahyang Kadacayut Martabaya. Rahyang Kanjut Kadali Kancana setelah mangkat dipusarakan di Sareupeun Hujungtiwu, Panjalu.

Prabu Rahyang Kadacayut Martabaya

Rahyang Kadacayut Martabaya atau Hariang Kadacayut Martabaya naik tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia mempunyai seorang anak bernama Rahyang Kunang Natabaya.
Rahyang Kadacayut Martabaya jasadnya dipusarakan di Hujungwinangun, Situ Lengkong Panjalu.

Prabu Rahyang Kunang Natabaya

Rahyang Kunang Natabaya atau Hariang Kunang Natabaya menduduki tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia menikah dengan Apun Emas. Apun Emas adalah anak dari penguasa Kawali bernama Pangeran Mahadikusumah atau Apun di Anjung yang dikenal juga sebagai Maharaja Kawali (1592-1643) putera Pangeran Bangsit (1575-1592) (Djadja Sukardja, 2007: 33). Sementara adik Apun Emas yang bernama Tanduran di Anjung menikah dengan Prabu di Galuh Cipta Permana (1595-1608) dan menurunkan Adipati Panaekan.
Dari perkawinannya dengan Nyai Apun Emas, Prabu Rahyang Kunang Natabaya mempunyai tiga orang putera yaitu :
1) Raden Arya Sumalah,
2) Raden Arya Sacanata, dan
3) Raden Arya Dipanata (kelak diangkat menjadi Bupati Pagerageung oleh Mataram).
Pada masa kekuasaan Prabu Rahyang Kunang Natabaya ini, Panembahan Senopati (1586-1601) berhasil menaklukkan Cirebon beserta daerah-daerah bawahannya termasuk Panjalu dan Kawali menyusul kemudian Galuh pada tahun 1618.
Pusara Prabu Rahyang Kunang Natabaya terletak di Ciramping, Desa Simpar, Panjalu.

Raden Arya Sumalah

Arya Sumalah naik tahta Panjalu bukan sebagai Raja, tapi sebagai Bupati di bawah kekuasaan Mataram. Ia menikah dengan Ratu Tilarnagara puteri dari Bupati Talaga yang bernama Sunan Ciburuy atau yang dikenal juga dengan nama Pangeran Surawijaya, dari pernikahannya itu Arya Sumalah mempunyai dua orang anak, yaitu:
1) Ratu Latibrangsari dan
2) Raden Arya Wirabaya.
Arya Sumalah setelah wafat dimakamkan di Buninagara Simpar, Panjalu.

Pangeran Arya Sacanata atau Pangeran Arya Salingsingan

Raden Arya Sumalah wafat dalam usia muda dan meninggalkan putera-puterinya yang masih kecil. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Kabupaten Panjalu Raden Arya Sacanata diangkat oleh Sultan Agung (1613-1645) sebagai Bupati menggantikan kakaknya dengan gelar Pangeran Arya Sacanata.
Pangeran Arya Sacanata juga memperisteri Ratu Tilarnagara puteri Bupati Talaga Sunan Ciburuy yang merupakan janda Arya Sumalah. Pangeran Arya Sacanata mempunyai banyak keturunan, baik dari garwa padminya yaitu Ratu Tilarnagara maupun dari isteri-isteri selirnya (ada sekitar 20 orang anak), anak-anaknya itu dikemudian hari menjadi pembesar-pembesar di tanah Pasundan.
Dua belas di antara putera-puteri Pangeran Arya Sacanata itu adalah:
1) Raden Jiwakrama (Cianjur),
2) Raden Ngabehi Suramanggala,
3) Raden Wiralaksana (Tengger, Panjalu),
4) Raden Jayawicitra (Pamekaran, Panjalu),
5) Raden Dalem Singalaksana (Cianjur),
6) Raden Dalem Jiwanagara (Bogor),
7) Raden Arya Wiradipa (Maparah, Panjalu),
8) Nyi Raden Lenggang,
9) Nyi Raden Tilar Kancana,
10) Nyi Raden Sariwulan (Gandasoli, Sukabumi),
11) Raden Yudaperdawa (Gandasoli, Sukabumi), dan
12) Raden Ngabehi Dipanata.
Putera Sultan Agung, Sunan Amangkurat I (1645-1677) pada tahun 1656-1657 secara sepihak mencopot jabatan Pangeran Arya Sacanata sebagai Bupati Panjalu yang diangkat oleh Sultan Agung serta menghapuskan Kabupaten Panjalu dengan membagi wilayah Priangan menjadi 12 Ajeg; salah satunya adalah Ajeg Wirabaya yang meliputi wilayah Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang serta dikepalai oleh keponakan sekaligus anak tirinya yaitu Raden Arya Wirabaya sehingga membuat Pangeran Arya Sacanata mendendam kepada Mataram.
Suatu ketika Pangeran Arya Sacanata ditunjuk oleh mertuanya yang juga Bupati Talaga Sunan Ciburuy untuk mewakili Talaga mengirim seba (upeti) ke Mataram. Pada kesempatan itu Pangeran Arya Sacanata menyelinap ke peraduan Sinuhun Mataram dan mempermalukanya dengan memotong sebelah kumisnya sehingga menimbulkan kegemparan besar di Mataram. Segera saja Pangeran Arya Sacanata menjadi buruan pasukan Mataram, namun hingga akhir hayatnya Pangeran Arya Sacanata tidak pernah berhasil ditangkap oleh pasukan Mataram sehingga ia mendapat julukan Pangeran Arya Salingsingan (dalam Bahasa Sunda kata "salingsingan" berarti saling berpapasan tapi tidak dikenali).
Pangeran Arya Sacanata menghabiskan hari tuanya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian dan memilih hidup seperti petapa mengasingkan diri di tempat-tempat sunyi di sepanjang hutan pegunungan dan pesisir Galuh. Mula-mula ia mendirikan padepokan di Gandakerta sebagai tempatnya berkhalwat (menyepi), Sang Pangeran kemudian berkelana ke Palabuhan Ratu, Kandangwesi, Karang, Lakbok, kemudian menyepi di Gunung Sangkur, Gunung Babakan Siluman, Gunung Cariu, Kuta Tambaksari dan terakhir di Nombo, Dayeuhluhur. Pangeran Arya Sacanata wafat dan dipusarakan di Nombo, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Raden Arya Wirabaya

Sewaktu Sunan Amangkurat I berkuasa (1645-1677) pada sekitar tahun 1656-1657 wilayah Mancanagara Kilen (Mataram Barat) dibagi menjadi dua belas Ajeg (daerah setingkat kabupaten) serta menghapuskan jabatan Wedana Bupati Priangan, keduabelas Ajeg itu adalah: Sumedang, Parakan Muncang (Bandung Timur), Bandung, Sukapura (Tasikmalaya), Karawang, Imbanagara (Ciamis), Kawasen (Ciamis Selatan), Wirabaya (Ciamis Utara termasuk Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang), Sindangkasih (Majalengka), Banyumas, Ayah/Dayeuhluhur (Kebumen, Cilacap) dan Banjar (Ciamis Timur).
Pada waktu itulah Arya Wirabaya diangkat oleh Sunan Amangkurat I menjadi Kepala Ajeg Wirabaya sekaligus menggantikan Pangeran Arya Sacanata yang tidak lagi menjabat Bupati karena Kabupaten Panjalu telah dihapuskan dan dimasukkan kedalam Ajeg Wirabaya.
Arya Wirabaya mempunyai seorang putera yang bernama Raden Wirapraja, setelah wafat jasad Arya Wirabaya dimakamkan di Cilamping, Panjalu, Ciamis

Raden Tumenggung Wirapraja

Raden Wirapraja menggantikan ayahnya menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Wirapraja. Pada masa pemerintahannya kediaman bupati dipindahkan dari Dayeuh Nagasari, Ciomas ke Dayeuh Panjalu sekarang.
Tumenggung Wirapraja setelah mangkat dimakamkan di Kebon Alas Warudoyong, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis.

Raden Tumenggung Cakranagara I

Salah seorang putera Pangeran Arya Sacanata yang bernama Arya Wiradipa memperisteri Nyi Mas Siti Zulaikha puteri Tandamui dari Cirebon, ia bersama kerabat dan para kawula-balad (abdi dan rakyatnya) dari keraton Talaga mendirikan pemukiman yang sekarang menjadi Desa Maparah, Panjalu. Dari pernikahannya itu Arya Wiradipa mempunyai empat orang anak, yaitu:
1) Raden Ardinata,
2) Raden Cakradijaya,
3) Raden Prajasasana, dan
4) Nyi Raden Ratna Gapura.
Raden Prajasasana yang setelah dewasa dikenal juga dengan nama Raden Suragostika mengabdi sebagai pamong praja bawahan Pangeran Arya Cirebon (1706-1723) yang menjabat sebagai Opzigter (Pemangku Wilayah) VOC untuk wilayah Priangan (Jawa Barat) dan bertugas mengepalai dan mengatur para bupati Priangan. Raden Suragostika yang dianggap berkinerja baik dan layak menduduki jabatan bupati kemudian diangkat oleh Pangeran Arya Cirebon menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara menggantikan Tumenggung Wirapraja.
Tumenggung Cakranagara I memperisteri Nyi Raden Sojanagara puteri Ratu Latibrang Sari (kakak Arya Wirabaya) sebagai garwa padmi (permaisuri) dan menurunkan tiga orang putera, yaitu:
1) Raden Cakranagara II,
2) Raden Suradipraja, dan
3) Raden Martadijaya.
Sementara dari garwa ampil (isteri selir) Tumenggung Cakranagara I juga mempunyai empat orang puteri, yaitu:
1) Nyi Raden Panatamantri,
2) Nyi Raden Widaresmi.
3) Nyi Raden Karibaningsih, dan
4) Nyi Raden Ratnaningsih.
Tumenggung Cakranagara I setelah wafat dimakamkan di Cinagara, Desa Simpar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.

Raden Tumenggung Cakranagara II

Raden Cakranagara II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara II, sedangkan adiknya yang bernama Raden Suradipraja diangkat menjadi Patih Panjalu dengan gelar Raden Demang Suradipraja.
Tumenggung Cakranagara II mempunyai enam belas orang anak dari garwa padmi dan isteri selirnya, keenambelas putera-puterinya itu adalah:
1) Nyi Raden Wijayapura,
2) Nyi Raden Natakapraja,
3) Nyi Raden Sacadinata,
4) Raden Cakradipraja,
5) Raden Ngabehi Angreh,
6) Raden Dalem Cakranagara III,
7) Nyi Raden Puraresmi,
8) Nyi Raden Adiratna,
9) Nyi Raden Rengganingrum,
10) Nyi Raden Janingrum,
11) Nyi Raden Widayaresmi,
12) Nyi Raden Murdaningsih,
13) Raden Demang Kertanata,
14) Raden Demang Argawijaya,
15) Nyi Raden Adipura, dan
16) Nyi Raden Siti Sarana.
Tumenggung Cakranagara II setelah wafat dimakamkan di Puspaligar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.

Raden Tumenggung Cakranagara III

Raden Cakranagara III sebagai putera tertua dari garwa padmi (permaisuri) menggantikan posisi ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara III.
Tahun 1810 wilayah Kawali yang dikepalai Raden Adipati Mangkupraja III (1801-1810) digabungkan kedalam wilayah Kabupaten Panjalu dibawah Raden Tumenggung Cakranagara III yang sama-sama berada dalam wilayah administratif Cirebon. Wilayah Kawali ini kemudian dikepalai oleh Raden Tumenggung Suradipraja I (1810-1819) yang menginduk ke Kabupaten Panjalu.
Pada tahun 1819 ketika Pemerintah Hindia-Belanda dibawah pimpinan Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. Baron Van der Capellen (1816-1836) dikeluarkanlah kebijakan untuk menggabungkan Kabupaten Panjalu, Kawali, Distrik Cihaur dan Rancah kedalam Kabupaten Galuh. Berdasarkan hal itu maka Tumenggung Cakranagara III dipensiunkan dari jabatannya sebagai Bupati Panjalu dan sejak itu Panjalu menjadi kademangan (daerah setingkat wedana) di bawah Kabupaten Galuh.
Pada tahun itu Bupati Galuh Tumenggung Wiradikusumah digantikan oleh puteranya yang bernama Adipati Adikusumah (1819-1839), sedangkan di Panjalu pada saat yang bersamaan putera tertua Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Sumawijaya diangkat menjadi Demang (Wedana) Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya, sementara itu putera ketujuh Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Cakradikusumah diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar Raden Arya Cakradikusumah.
Tumenggung Cakranagara III mempunyai dua belas orang putera-puteri, yaitu:
1) Raden Sumawijaya Demang Panjalu (Nusa Larang, Panjalu),
2) Raden Prajasasana Kyai Sakti (Nusa Larang, Panjalu),
3) Raden Aldakanata,
4) Raden Wiradipa,
5) Nyi Raden Wijayaningrum,
6) Raden Jibjakusumah,
7) Raden Cakradikusumah (Wedana Kawali),
8) Raden Cakradipraja,
9) Raden Baka,
10) Nyi Raden Kuraesin,
11) Raden Raksadipraja (Kuwu Ciomas, Panjalu), dan
12) Raden Prajadinata (Kuwu Maparah, Panjalu), penulis naskah Babad Panjalu dalam bahasa Sunda dengan aksara latin (tersimpan di Perpustakaan Nasional RI), wafat di Mekkah.
Tumenggung Cakranagara III wafat pada tahun 1853 dan dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu berdekatan dengan pusara Prabu Rahyang Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora.

Raden Demang Sumawijaya

Raden Sumawijaya pada tahun 1819 diangkat menjadi Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya. Adiknya yang bernama Raden Cakradikusumah pada waktu yang berdekatan juga diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar Raden Arya Cakradikusumah. Demang Sumawijaya mempunyai tiga orang anak, yaitu:
1) Raden Aldakusumah,
2) Nyi Raden Asitaningsih, dan
3) Nyi Raden Sumaningsih.
Demang Sumawijaya setelah wafat dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.

Raden Demang Aldakusumah

Raden Aldakusumah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Aldakusumah, ia menikahi Nyi Raden Wiyata (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) dan mempunyai empat orang anak, yaitu:
1) Raden Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),
2) Nyi Raden Wijayaningsih,
3) Nyi Raden Kasrengga (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu), dan
4) Nyi Raden Sukarsa-Karamasasmita (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu).
Semantara itu adik sepupunya yang bernama Raden Argakusumah (putera Wedana Kawali Raden Arya Cakradikusumah) diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang Indramayu) dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara IV. Raden Demang Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) setelah wafatnya dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.

Raden Kertadipraja

Putera tertua Demang Aldakusumah yang bernama Raden Kertadipraja tidak lagi menjabat sebagai Demang Panjalu karena Panjalu kemudian dijadikan salah satu desa/kecamatan yang masuk kedalam wilayah kawedanaan Panumbangan Kabupaten Galuh, sementara ia sendiri tidak bersedia diangkat menjadi Kuwu (Kepala Desa) Panjalu. Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis.
Raden Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) menikahi Nyi Mas Shinta (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) dan menurunkan empat orang anak yaitu:
1) Raden Hanafi Argadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),
2) Nyi Raden Aminah - Adkar (Cirebon),
3)Nyi Raden Hasibah - Junaedi (Reumalega, Desa Kertamandala Panjalu),
4) Nyi Raden Halimah - Suminta (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),
5) Raden Ahmad Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu), dan
6) Nyi Raden Aisah - Padma (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu)

Raden Hanafi Argadipraja

Raden Hanafi Argadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) mempersunting Nyi Raden Dewi Hunah Murtiningsih (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) puteri dari Kuwu Cimuncang (sekarang Desa Jayagiri Kecamatan Panumbangan Ciamis) yang bernama Raden Nitidipraja, penulis catatan sejarah & silsilah Panjalu dalam bahasa Sunda dengan aksara arab dan latin (makamnya di Puspaligar, Panjalu), dan dari pernikahannya itu menurunkan lima orang putera-puteri:
1) Nyi Raden Sukaesih-Raden Abdullah Suriaatmaja,
2) H. Raden Muhammad Tisna Argadipraja,
3) Raden Galil Aldar Argadipraja,
4) Hj. Nyi Raden Siti Maryam-H.Encur Mansyur,
5) Nyi Raden Siti Rukomih-Raden Sukarsana Sadhi Pasha.

Sedangkan adik Raden Hanafi Argadipraja, yakni Raden Ahmad Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) menurunkan empat orang anak:
1) H. Raden Afdanil Ahmad,
2) Raden Nasuha Ahmad,
3) Nyi Raden Nia Kania, dan
4) Raden Ghia Subagia.

Hj. Nyi Raden Siti Maryam

Hj. Nyi Raden Siti maryam(Panumbangan) menikah dengan Eyang Mad Syahri(Panumbangan, Cibonteng) dan melahirkan sembilan orang anak, Yaitu:
1)Raden Sasmita,
2)Raden Elon Dahlan,
3)Nyimas Raden Ipoh Saripah,
4)Raden Endah Dahri,
5)Nyimas Raden Erum Atikah,
6)Nyimas Raden Zaenab Sukarsih,
7)Nyimas Raden Khotimah,
8)Nyimas Raden Aisyah Rukmanah,
9)Raden Rosyadi,

Nyimas Raden Aisyah Rukmanah

Nyimas raden Aisyah Rukmanah (Panumbangan), menikah dengan Raden Ade Sutisna (Desa Golat). Dan melahirkan lima orang putra-putri, Yaitu:
1)Nyimas Raden Djohar Sry Kantini,
2)Nyimas Raden Nina Tursina Irania,
3)Raden Tepi Nugraha Jayaprana,
4)Nyimas Raden Rika Gartika Gumilar,
5)Raden Taufik Fitra Jaya Burnama,

Nyimas Raden Djohar Sry Kantini

Nyimas Raden Djohar Sry Kantini(Desa Golat) menikah dengan Raden Muhammad Syafe'i (Cianjur), dan melahirkan dua orang putra-putri, Yaitu:
1)Nyimas Raden Gitta Fenny Sari,
2)Raden Panji Fenitra,

Nyimas Raden Nina Tursina Irania

Nyimas Raden Nina Tursina Irania(Desa Golat) menikah dengan Hassan Ridwan(Jakarta) dan melahirkan tiga orang putra-putri, yaitu:
1)Raden Aldy Agustiar Ridmansyah,
2)Nyimas Raden Annisa Septiani Nur Faridah,
3)Nyimas Raden Azizah Zahra Ulfah,

PRABU KIAN SANTANG ( SYAIKH SUNAN ROHMAT NUR KHALIFAH SUCI )

Kian santang adalah Tokoh tasawuf dari tanah pasundan yang ceritanya melogenda khususnya di hati masarakat pasundan dan kaum tasawuf ditanah air pada umumnya.

Tokoh kian-santang ini, pertama kali berhembus di bumi pasundan dikisahkan oleh raden CAKRABUANA atau pangeran walangsungsang ketika menyebarkan islam di tanah cirbon dan pasundan. Pangeran cakrabuana adalah anak dari prabu sili-wangi atau jaya dewata raja pajajaran, yang dilahirkan dari permisuri ketiga yang bernama Nyi Subang Larang; Subang-larang sendiri murid dari mubaliq kondang yaitu syeh Maulana-hasanudin atau terkenal dengan Syeh Kuro krawang.

Bermula dari, Ketika raden Walangsungsang memilih untuk pergi meninggalkan galuh pakuan atau pajajaran ,yang di sbeapkan oleh ke_berbedaan haluan dengan keyakinan ayahnya yang memeluk agama “shangyang”, pada waktu itu. Diriwayatkan beliau berkelana mensyi’arkan islam bersama adiknya yaitu rara santang (ibu dari syarif hidayatullah atau “sunan gunung jati“)dengan membuka perkampungan di pesisir utara dengan bantuan gendeg tapa atau kakeknya ayah dari nyi subang larang dan perkampungan inilah yang akhirnya menjadi cikal-bakal kerajaan caruban atau kasunanan cirebon yang sekarang adalah “kota madya cirebon”

Logenda kian-santang sendiri diambil dari sebuah kisah nyata, dari tanah pasundan tempo dulu yang ceritanya pada waktu itu tersimpan rapi berbentuk buku di perpustakaan kerajaan pajajaran. Karena pajajaran adalah hasil dari penyatuan dua kerajaan antara galuh dan kerajaan sunda pura yang dimana kerajaan galuh dan sundapura adalah dua kerajaan pecahan dari taruma negara, yang di masa prabu PURNA-WARMAN yaitu raja ketiga dari kerajaan taruma negara, sengaja di pecah menjadi dua yaitu tarumanegara yang berganti sundapura dan ibukota lama menjadi galuh pakuan. Dan jaya dewata menyatukan kembali dua pecahan kerajaan taruma negara menjadi pajajaran, dengan mengawini dua putri dari kedua kerajaan tersebut. Sehingga secara otomatis kedua kerajaan tersebut menjadi hak waris Jaya Dewata.

Di mana di kisahkan dalam buku tersebut ; tersebutlah pada waktu itu yaitu abad ke 4m atau tahun 450m pernah terdapat putra mahkota yang sakti mandraguna bernama GAGAK LUMAYUNG yang dalam ceritanya “di tataran suda dan sekitarnya ,tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya. hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti TANG yang hendak menaklukkan kerajaan tarumanegara. namun berkat gagak lumayung, pasukan TANG dapat di halau dan tunggang-langgang meninggalkan taruma negara.

semenjak itu raden gagak lumayung di beri sebutan ”KI AN SAN TANG” atau yang artinya ”penakluk pasukan tang” Di ceritakan sang kiansantang ini karena saking saktinya hingga dia rindu kepingin melihat darahnya sendiri seperti apa. Hingga sampailah di suatu ketika sa’at dia mendapat wangsit di tapabratanya bahwah di tanah Arab terdapat orang sakti mandraguna yang tak terkalahkan. Konon…. dengan ajian Napak Sancangnya raden kian santang mampu mengarungi lautan dengan berkuda saja.

“Di mana dalam ceritanya ketika sampai di pesisir beliau bertemu seorang kakek ,dan padanya dia minta untuk di tunjukan di mana orang sakti yang Kian Santang maksud tersebut”. Dan dengan senang hati si-kakek tersebut menyanggupi untuk menunjukkannya, namun sebelumnya dia mengajak dahulu Kian-Santang untuk mampir ke rumahnya.

Al-kisah setelah sampai di rumahnya tongkat dari sang kakek tersebut tertinggal di pesisir dan minta kian santang untuk mengambilkanya ,konon dikisahkan si-kian santang tak mampu mencabutnya sampai tanganya berdarah-darah ,disitulah kian santang baru sadar kalau kakek itu adalah orang yang di carinya.

Dan akhirnya dengan membaca kalimah syahadat yang di ajarkan sang kakek tadi “yang akhirnya menjadi guru spiritualnya” tongkat tersebut dapat di cabut .dan siapakah kakek tersebut? ya dia adalah taklain dan tak bukan syaidina ali r.a menantu dari baginda nabi muhamad s.a.w.

Cerita tersebut membumi sekali sampai saat sekarang. Dan yang aneh, kebanyakan orang menduga kalau kian santang itu adalah raden walang sungsang. Padahal banyak sekali cerita yang sepadan dengan kisah raden walang sungsang tersebut. Yang sesungguhnya dialah yang mengisahkan justru dialah yang di kira pelaku (raden walang sungsang atau pangeran cakrabuana) sebagai tokoh yang diceritakan itu. Tujuannya adalah hanya sebagai media dakwah dan penyebaran islam di bumi cirbon dan sekitarnya. Sehingga sampai sekarang banyak kalangan yang menyangka raden walangsungsang adalah kian santang bahkan ada yang menafikan kian santang adalah adik cakrabuana dan kakak dari rara santang. Tentu hal ini akan membuat bingung karena saydina ali hidup antara th: 500-650an sedang raden walang sungsang atau babad tanah cirbon itu sekitar tahun 1400 an.

Raden walangsungsang mengambil cerita ini dari perpustakaan kerajaan pajajaran dengan pertimbangan karena kisah itu mirip dengan kisahnya, Yang di mana kian santang setelah pulang dari arab dia ingin meng-islamkan ayahnya prabu purnawarman namun di tolaknya dan kian santang memilih meninggalkan istana dan tahtanya di berikan adiknya yaitu darmayawarman begitu pula raden walang sungsang yang pernah merantau ke arab dan meningkahkan adiknya rara santang yang di ambil istri oleh putra kerajaan mesir waktu itu dan pernikahan berlangsum di mesir yang dari perkawinan inilah nanti akan lahirlah raden syarif hidayatullah atau sunan gunung jati. Keinginan Walangsungsang untuk meng-islamkan prabu siliwangi ditolak mentah-mentah dan ayahnya tidak ingin bertarung dengan anaknya maka dia memilih mensucikan diri atau bertapa, konon beliau menjelma macan putih.

Pengambilan kisah penokohan dalam sebuah ceritra seperti ini sebenarnya pernah pula terjadi pada era sebelum raden walang sungsang yang tepatnya dilakukan oleh raja jaya-baya (raja islam pertama di tanah jawa) dari kerajaan panjalu atau kediri, di mana suaktu masih di pegang raja airlangga kerajaan tersebut bernama kerajaan KAHURIPAN dan karena kedua anaknya semua meminta tahta maka kahuripan di bagi dua yaitu panjalu dan jenggala. Sepanjang perkembangan dua kerajaan tersebut selalu bermusuhan dan pada masa kerajaan panjalu dirajai oleh jaya baya, panjalu mampu menaklukkan jenggala dan di satukan lagi antara jenggala dan panjalu.

Pada waktu panjalu menaklukkan jenggala rajanya jaya-baya meminta empu sedha dan empu panuluh untuk mengutip naskah dari india yang judulnya maha barata. namun di ferifikasi dengan gaya jawa. Sebagai perlambang atas kemenangan perang saudara panjalu atas jenggala. Yang akhirnya kitab tersebut di beri judul barata-yuda. Dan dalam kisah klasik jawa ini banyak kalangan masarakat yang mengira bahwa jaya baya adalah kelanjutan dari trah barata yaitu cicit dari parikesit putra abimanyu dan kakek dari angling darma, padahal itu hanya fiksi.

Juga kisah lainnya yang serupa pernah pula hadir kemasarakat yang tujuannya waktu itu sebagai media dakwah untuk melindungi rongrongan ajaran syariat terhadap kaum sufi.maka ketika bergerak menyebarkan islam WALI SONGO menurt banyak kalangan membuat cerita al-halaj dalam fersi indonesia yaitu; cerita syeh siti jenar. Yang menurut doktor simon dari UGM berdasarkan temuannya karya-karya besar berupa naskah suluk dari Sunan Kalijaga dan lain sebagainya. Dapat di pastikan tokoh siti jenar adalah imajener hanya untuk media dakwah dan melindungi islam agar tetap pada ajaran ahlusunah wa jamaah.

Dan sampai saat ini pendapat itu masih simpang siur dan menjadi perdebatan dan polemik panjang oleh para ahli sejarah di tanah air.

sumber : http://my.opera.com/Jiwa558/blog/show.dml/2857408
Posted in Sejarah | Tagged ajian Napak Sancang, cakrabuana, gagak lumayung, galuh pakuan, kiansantang, macan putih, rara santang, tarumanegara, walang sungsang | Leave a reply
Prabu Kiansantang Dan Aji Suket Kalanjana
Posted on April 21, 2011


“Niat ingsun amatek ajiku si suket kalanjana, aji pengawasan soko sang hyang pramana, byar padhang jumengglang paningalingsun, sakabehing sipat podho katon saking kersaning Allah”

Aji suket kalanjana adalah ilmu yang tercipta dari pengaruh islam dan aliran kepercayaan masyarakat jawa-sunda. Ajian ini pernah dikuasi oleh Prabu Kian Santang (putra Prabu Siliwangi) dan Syeh Siti Jenar. Ajian ini merupakan ilmu yang sangat tinggi dan untuk mendapatkannya pun tidak mudah karena harus punya niat yang baik dan tekad yang membaja. Konon ajian ini merupakan ajian yang langka dikuasai orang. Ia termasuk tingkatan paling tinggi diantara ilmu kejawen lainnya. Namun begitu, mereka yang menginginkan ajian ini bisa saja mendapatkannya tentu dengan laku tirakat dan tahu kunci amalan rahasianya.

Ajian ini awalnya merupakan ilmu terawangan alam gaib, dan kemudian berkembang sebagai ilmu yang dapat digunakan untuk meraga sukma dan menggerakan benda tanpa menyentuh (telekinetik). Intinya berfungsi mengaktifkan seluruh panca indera. Bereaksi terhadap gejala alam, baik alam sadar maupun alam mimpi. Versi para guru spiritual yang menguasainya menyebut ajian ini merupakan ilmu yang didasarkan pada gerakan rumput tertiup angin. Ia bisa bergerak kemana saja, tapi tetap pada tempatnya semula. Artinya, orang yang menguasai ilmu ini bisa memasuki dimensi gaib atau berada di alam lain tapi jasadnya tetap pada tempatnya.

Adapun legenda ajian suket kalanjana ini terdapat berbagai versi. Diyakini ajian ini sudah adal sebelum islam masuk ke tanah jawa. Sumber kontroversinya mengatakan ajian ini ada ketika islam masuk ke tanah pasundan. Tepatnya pada pemerintahan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Dan konon, dari sinilah ajian ini bermula.

Pada masa itu memang pengaruh islam di kerajaan pajajaran belum meluas, sehingga ilmu-ilmu kesaktian para pendekan jaman pajajaran merupakan ilmu yang tiada banding dan banyak jenisnya. Ada yang mampu terbang, menghilang dan lain lain.

Mitos yang berkaitan dengan kegaiban pun terbukti. Misal, sampai kini makam prabu siliwangi tidak pernah ditemukan. Itu sebabnya masyarakat pasundan mempercayai bahwa prabu siliwangi moksa (menghilang) dari bumi dan berubah wujud menjadi harimau. Hal ini bisa dilacak dari cerita rakyat garut. Konon prabu siliwangi tidak mau masuk islam. Ia lebih baik keluar dari keraton daripada mengikuti ajakan prabu kean santang, anaknya untuk masuk agama islam.

Prabu siliwangi akhirnya lari menuju hutan sancang. Maka untuk menjaga hal-hal yang akan terjadi prabu kean santang membendung larinya prabu siliwangi beserta pengikutnya yang telah menjadi harimau. Dan harimau jejadian itu kemudian digiring menuju sebuah gua di pantai selatan kawasan hutan sancang, garut selatan. Ketika itulah prabu kean santang mengerahkan aji suket kalanjana dan berhasil mengalahkan ayahnya yang juga terkenal sakti itu. Kemudian prabu siliwangi akhirnya mendapat hidayah dari Allah dan masuk islam.

Namun sampai sekarang ilmu sakti ini mengalami perkembangan seiring banyaknya minat kalangan keraton pajajaran menuntut ilmu. Dan prabu kean santang adalah orang yang paling suka mempelajari segala macam ilmu agama, kesatriaan maupun ilmu gaib.

Menurut versi lain, aji suket kalanjana juga dimiliki oleh syeh dari tanah jawa. Dari syeh inilah ajian diturunkan kepada murid-muridnya. Syeh ini dikenal dengan sebuatn syeh lemah abang alias syeh siti jenar. Pada masa mudanya, siti jenar juga mendalami ilmu kebatinan. Setelah mendalami bidang agama melalui Syarif Hidayatullah atau sunan gunung jati, semakin bertambah tinggilah ilmu kesaktiannya. Tidak heran jiak banyak pemuda berguru kepada syeh siti jenar.

Ajian suket kalanjana dapat dikuasai siapa saja sepanjang orang tersebut mampu mensucikan dirinya dan mampu melakoni apa yang dipersyaratkan, antara lain harus mampu menjalani puasa 40 hari dan makan hanya boleh dilakukan jam 12 malam. Selain itu juga harus ngrowot (hanya makan umbi-umbian) dan tidak boleh makan jenis lainnya selama 40 hari. Hal lain yang harus dilakukan adalah menjalankan tapa kungkum (berendam) di dalam suangi selama 7 malam berturu-turut, dan yang paling berat harus pati geni yaitu tidak makan,minum,tidur dan bersemedi di ruang gelap selama 7 hari 7 malam. Selama ritual itu pula harus membaca mantra khusus yang harus dihapalnya. Bila ingin melihat alam gaib, mantra ini dibaca tiga kali sambil membuka telapak tangan lalu diusap ke mata.

Untuk memiliki ajian ini maka harus menjalani laku yang berat yaitu puasa 40 hari, patigeni sehari semalam mulai hari Kamis Kliwon. Mantra dibaca setiap jam 12 malam selama menjalani puasa dan patigeni.

sumber : Mengenal Aji Suket Kalanjana
Posted in Kesaktian | Tagged alam gaib, Kalanjana, meraga sukma, Prabu, Prabu Kian Santang, prabu siliwangi, syeh siti jenar | Leave a reply
Kerajaan Pajajaran
Posted on April 20, 2011


Kerajaan Pajajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat. Kata Pakuan sendiri berasal dari kata Pakuwuan yang berarti kota. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam Prasasti Sanghyang Tapak.
Sejarah
Daftar raja Pajajaran
Keruntuhan
Sumber
Lihat pula

Sejarah
Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:
Prasasti Batu Tulis, Bogor
Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
Prasasti Kawali, Ciamis
Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

Daftar Raja Pajajaran
Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang.

Keruntuhan Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.
Posted in Sejarah | Tagged Banten, kebun raya bogor, kerajaan pajajaran, keraton surosowan, kesultanan banten, raja raja, Sunda | Leave a reply
Pakuan Bogor Adalah Ibukota Kerajaan Sunda
Posted on April 20, 2011


Tarusbawa naik tahta kerajaan dalam tahun 669 M sebagai penguasa Tarumanagara. Setahun kemudian ia mengganti nama negaranya menjadi SUNDA, lalu ia harus berbagi kekuasaan dengan Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh. Walau pun demikian, dalam tahun 669 M dia masih sempat berkirim surat kepada raja-raja tetangga sahabat yang memberikan penobatan dirinya sebagai penguasa Tarumanagara yang baru, menggantikan mertuanya, Maharaja Linggawarman. Itulah sebabnya dalam sumber-sumber berita Cina tercatat bahwa kedatangan duta Tarumanagara yang terakhir ke negeri tersebut terjadi tahun 669 M. Mudah dipahami karena sejak tahun 670 M Tarumanagara sudah dipecah menjadi dua kerajaan yaitu : SUNDA dan GALUH dengan Sungai Citarum sebagai batas kekuasaan masing-masing.

Tindakan lain yang dilakukan Tarusbawa ialah pemindahan ibukota kerajaannya dari daerah Bekasi ke daerah pedalaman. Hal ini dapat kita ketahui dari berita Kropak 406 yang kadang-kadang disebut Carita Parahiyangan bagian II atau fragmen Carita Parahiyangan. Naskah tersebut memberitakan pembangunan istana baru.

Di inya urut kadatwan, ku Bujangga Sedamanah ngaran Sri Kadatwan Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja Tarusbawa deung Bujangga Sedamanah.

Disiar ka hulu Cipakancilan, katimu Bagawat Sunda Mayajati, ku Bujangga Sedamanah dibaan ka hareupeun Maharaja Tarusbawa. (Di sanalah bekas keraton yang oleh Bujangga Sedamanah diberi nama Sri Kedatuan Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati. Setelah selesai dibangun lalu diberkati oleh Maharaja Tarusbawa dan Bujangga Sedamanah.

Dicari ke hulu Cipakancilan, ditemuilah di sana Bagawati Sunda Mayajati oleh Bujangga Sedamanah dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa.)

Dari Carita Parahiyangan kita mengetahui bahwa istana yang eranama demikian (kelak) ditempati oleh Sri Baduga Maharaja yang terkenal dengan julukan Ratu Sunda atau Ratu Pakuan dalam naskah-naskah yang lebih muda. Lokasinya pun tidak akan jauh dari hulu Cipakancilan. Nama keraton dan lokasinya menunjukkan bahwa keraton yang didirikan oleh Maharaja Tarusbawa ini terletak di kawasan Kelurahan Batutulis di sudut bagian tenggara kota Bogor sekarang.

Berita serupa kita temukan dalam Pustaka Nusantara II/3 halaman 204/205. Di sana diberitakan, “Hana Pwanung mangadekna Pakwan Pajajaran lawan kadatwan Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati ya ta Sang Prabhu Tarusbawa” (Ada pun yang mendirikan Pakuan Pajajaran beserta keraton Sang Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati adalah Maharaja Tarusbawa).

Kedua sumber itu menunjukan bahwa Tarusbawa telah memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah pedalaman atau lebih tepatnya lagi ke lokasi kampung Batutulis yang sekarang termasuk Wilayah Kotamadya Bogor. Kata Pakuan dalam bahasa Sunda kuno berarti Istana. Ada bermacam-macam tafsiran dari para ahli tentang arti Pakuan Pajajran. Ini (uraian lengkap tentang hal ini terdapat dalam buku “Sejarah Bogor”, 1983).

Pakuan Pajajaran menurut Poerbatjaraka (1921) berarti istana yang berjajar (“aanrijen staande hoven”). Bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri itu dapat diambil kesimpulan bahwa istana tersebut rupa-rupanya terdiri atas lima buah bangunan yang masing-masing bernama Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Itulah yang biasa disebut panca persada (5 bangunan keraton) dalam satra klasik. Dalam naskah-naskah Wangsakerta nama yang panjang itu sering disingkatkan menjadi Sang Bima atau Sri Bima saja.

Nama Keraton sering meluas menjadi nama ibukota bahkan akhirnya sering menjadi nama negara. Contoh nyata adalah; Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat yang sebenarnya nama-nama keraton sekarang meluas menjadi nama ibukota dan juga nama wilayah. Pakuan Pajajaran pun demikian halnya. Nama itu selain nama rangkuman untuk keraton juga menjadi nama dayeuh dan negara (kerajaan).

Dalam prasasti-prasasti tembaga peninggalan Sri Baduga yang ditemukan di daerah Bekasi, ada tiga versi nama yang digunakan, yaitu Pakuan Pajajaran (lengkap), Pakuan (tanpa Pajajaran) dan Pajajaran (tanpa Pakuan). Orang Sunda yang kemudian cenderung menggunakan kata Pakuan untuk nama ibukota dan Pajajaran untuk nama negara (Kerajaan). Dalam tulisan ini pun akan ditempuh penggunaan seperti itu sedangkan untuk menyingkatkan nama keraton akan digunakan nama “Sri Bima”.

Pakuan didirikan oleh Maharaja Tarusbawa (669 –723 M). Hal ini dapat kita artikan bahwa Pakuan adalah ibukota Kerajaan Sunda, dan didirikan dalam kwartal pertama abad ke-8 Masehi. Bangunan keraton tentu akan diperbaharui beberapa kali oleh beberapa orang penguasa sekali pun namanya tidak berubah. Kropak 406 menunjukkan bahwa keraton itu pernah dipunar (diperbaharui) oleh Prabuguru Darmasiksa dan Prabu Susuktunggal.

Lokasi Keraton ini terletak pada lahan lemah-duwur (lahan datar di atas bukit) yang diapit oleh tiga batang sungai berlereng curam yaitu; Cisadane, Ciliwung dan Cipaku (anak Cisadane). Sebagai berkah di tengah-tengah mengalir Cipakancilan yang ke bagian hulu sungainya bernama Ciawi). Pakuan terlindung oleh lereng terjal pada ke tiga sisinya. Hanyalah pada sisi tenggara kota itu berbatas dengan lahan yang datar. Karena itu pada bagian inilah terdapat benteng atau kuta yang paling besar dengan lebar dasar 7 meter dan tingginya 4 meter serta pada bagian atasnya diperkuat dengan batu. Seperti di Karang Kamulyan (bekas Ibukota Galuh), pada tepi bagian luar benteng tersebut terdapat parit yang merupakan bentuk negatif dari benteng itu. Tanah galian parit inilah yang dijadikan bagan pembangunan benteng.

Pakuan sebagai ibukota Sunda tercatat pula dalam “The Suma Oriantal” yang berisi catatan perjalanan Tome Pires (1513). Ia menyebutkan bahwa ibukota kerajaan Sunda yang disebut Dayo (Dayeuh) itu terletah sejauh dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa. Menurut laporan-laporan VOC, perjalanan dari bekas benteng Pakuan ke muara Ciliwung tempat benteng mereka memakan waktu dua hari. Jadi, sejak Maharaja Tarusbawa sampai abad ke-16 ibukota sunda tetap berada di kawasan kota Bogor yang sekarang. Di badingkan dengan usia keraton Galuh, pakuan lebih muda kira-kira satu abad. Yang jelas ialah : pendapat yang mengemukakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Baduga Maharaja tidak cocok bahkan bertentangan dengan sumber-sumber sejarah yang ada.

Diambil dari Buku Sejarah Jawa Barat (rintisan penelusuran masa silam) Jilid ke-3. PEMDA Tk. I Jawa Barat tahun 1983-1984 hal. 1 – 3
Sumber : http://citraresmi.4t.com/babad1.htm
Posted in Sejarah | Tagged Ibukota, kerajaan sunda, keraton, pakuan, raja raja, Sunda, tarumanagara | Leave a reply
Sejarah Pasundan 130 – 1579 M
Posted on April 19, 2011
1

Berikut ini adalah beberapa siklus sejarah pasundan, yang di ambil dari karangan Yoseph Iskandar.

Purwacarita
Pengertian sejarah secara tradisi adalah beberapa kisah dongeng, legenda, babad, tambo dan lain-lain. Sesungguhnya hal itu berada dibawah disiplin ilmu sastra, sedangkan sejarah, pembuktiannya harus berdasarkan disiplin ilmu : filologi (ilmu yang mempelajari naskah kuna), epigrafi (ilmu yang mempelajari aksara prasasti), arkeologi (ilmu yang mempelajari artefak-artefak peninggalan sejarah), dan geografi (ilmu yang mempelajari permukaan bumi).

Karya sastra bisa diuji dan dikaji oleh disiplin ilmu sejarah sejauh karya sastra yang bernilai sejarah itu dapat menunjang temuan sejarah itu sendiri. Sebaliknya hasil penelitian sejarah dapat disusun menjadi karya sastra yang sering kita sebut roman sejarah. Naskah Pangeran Wangsakerta, menurut Edi S. Ekadjati dan menurut Ayat Rohaedi, adalah naskah sejarah. Sistematika dan pengungkapannya sudah dalam bentuk sejarah, menggunakan referensi atau sumber-sumber tertulis lainnya.

Purwayuga
Sejarah Sunda dimulai dari masa Purwayuga (jaman purba) atau dari masa Nirleka (silam), yang terbagi atas :
Prathama Purwayuga (jaman purba pertama), dengan kehidupan manusia hewan Satwapurusa, antara 1 jt s.d. 600 rb th silam
Dwitiya Purwayuga (jaman purba kedua), dengan kehidupan manusia yaksa, antara 500 rb sampai 300 rb tahun silam
Tritiya Purwayuga (jaman purba ketiga), dengan kehidupan manusia kerdil (wamana purusa), antara 50 rb sampai 25 rb tahu silam.

Dukuh Pulasari Pandeglang
menurut naskah Pangeran Wangsakerta, kehidupan masyarakat Sunda pertama di pesisir barat ujung pulau Jawa, yaitu pesisir Pandeglang. Dipimpin oleh seorang kepala suku (panghulu) Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya. Sistem religi mereka adalah Pitarapuja, yaitu pemuja roh leluhur, dengan bukti sejumlah menhir seperti Sanghiyang Dengdek, Sanghiyang Heuleut, Batu Goong, Batu Cihanjuran, Batu Lingga Banjar, Batu Parigi, dll. Refleksi dukuh Pulasari dapat kita lihat di kehidupan masyarakat Sunda Kanekes (Baduy).

Salakanagara
Putri Aki Tirem yaitu Pohaci Larasati, menikah dengan seorang duta niaga dari Palawa (India Selatan) bernama Dewawarman. Ketika Aki Tirem wafat, Dewawarman menggantikannya sebagai penghulu dukuh Pulasari.
Dewawarman mengembangkan Dukuh Pulasari hingga menjadi kerajaan corak Hindu pertama di Nusantara, yang kemudian diberi nama Salakanagara. Salaka berarti Perak dan Nagara berarti negara atau negeri. Oleh ahli dari Yunani, Claudius Ptolomeus, Salakanagara dicatat sebagai Argyre. Dalam berita China dinasti Han, tercatat pula bahwa raja Yehtiao bernama Tiao-Pien mengirimkan duta keChina tahun 132 M. menurut Ayat Rohaedi, Tiao berarti Dewa, dan Pien berarti Warman.

Salakanagara didirikan tahun 130 M, dengan raja pertamanya Dewawarman I dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gpura Sagara. memerintah hingga tahun 168 M. Wilayahnya meliputi propinsi banten sekarang ditambah Agrabintapura (Gunung Padang Cianjur) dan Apuynusa (Krakatau).
Raja Terakhir (ke-8) Dewawarman VIII bergelar Prabu Darmawirya Dewawarman (348-363 M).

Tarumanagara
Didirikan oleh Jayasingawarman pada 358 M dengan nobat Jayasingawarman Gurudarmapurusa.
Penerusnya adalah Purnawarman yang memindahkan pusat pemerintahan dari Jayasingapura (mungkin Jasinga) ke tepi kali Gomati (bekasi) yang diberi nama Sundapura (kota Sunda), bergelar Harimau Tarumanagara (Wyagraha ning tarumanagara), dan disebut pula Sang Purandara Saktipurusa (manusia sakti penghancur benteng) dan juga Panji Segala Raja. Sedangkan nama nobatnya adalah Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati.
Raja terakhir Sang Linggawarman sebagai raja ke-12

Kerajaan Sunda
Tarumanagara dirubah namanya menjadi Kerajaan Sunda oleh Tarusbawa, penerus Linggawarman. Akibatnya belahan timur Tarumanagara dengan batas sungai Citarum memerdekakan diri menjadi Kerajaan Galuh.

Kerajaan Sunda berlangsung hingga tahun 1482 M, dengan 34 raja.

Prabu Maharaja Linggabuana dinobatkan menjadi raja di kerajaan Sunda pada 22 februari 1350 M. Ia gugur bersama putrinya, Citraresmi, dalam tragedi Palagan Bubat akibat ulah Mahapatih Gajahmada. Peristiwa itu terjadi pada 4 September 1357 M.

Mahaprabu Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Linggabuana pada usia 9 tahun. Dia membuat Prasasti Kawali di Sanghiyang Linggahiyang atau Astana Gede Kawali. Dia juga yang membuat filsafat hidup :” Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana” (unggul dalam perang, lama hidup di dunia).
Wastukancana memerintah selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari dalam keadaan damai.

Sri Baduga Maharaja adalah putra Prabu Dewa Niskala, cucu dari Prabu Wastukancana. Ia adalah pemersatu kerajaan Sunda, ketika Galuh kembali terpisah. Kerajaan ini lebih dikenal dengan sebutan Pajajaran. Dialah raja pertama yang mengadakan perjanjian dengan bangsa Eropa, yaitu Portugis. Ia berkuasa dari tahun 1482 s.d. 1521M.

Kerajaan Galuh
Pendirinya adalah Prabu Wretikandayun pada 612 M.
Prabu Sanjaya Harisdarma. Ia disebut Taraju Jawadwipa, dan sempat menjadi Maharaja di tiga kerajaan :
Kalingga
Galuh
Sunda.

Sang Manarah yang dalam dongeng disebut Ciung Wanara. Ia putera Prabu Premana Dikusumah dari Naganingrum.

Kerajaan Pajajaran
Pajajaran adalah sebutan pengganti atas bersatunya kerajaan Galuh dengan kerajaan Sunda, yang dipegang oleh satu penguasa : Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran atau Sri Sang Ratu Dewata.

Penggantinya adalah Prabu Sanghyang Surawisesa, yang berkuasa di belahan barat Jawa barat, karena di sebelah timur sudah berdiri kerajaan Islam Pakungwati Cirebon, yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau Haji Abdullah Iman. Dia adalah putra sulung Sri Baduga Maharaja dari Subanglarang yang beragama Islam. Subanglarang adalah murid Syekh Quro Hasanudin Pura Dalem Karawang.

Tahta kerajaan Pajajaran berlangsung turun-temurun : Ratu Dewata; Ratu Sakti, Prabu Nilakendra dan yang terakhir Prabu Ragamulya Suryakancana.
Di pihak Cirebon sendiri, putera Susuhunan Jati Cirebon, yaitu Pangeran Sabakingkin, telah berhasil mendirikan kerajaan bercorak Islam Surasowan Wahanten (Banten) dan melakukan beberapa kali penyerbuan ke Pajajaran.

Pakuan Pajajaran direbut dan dimusnahkan oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Hasanudin.
Pajajaran sirna ing bhumi, atau Pajajaran lenyap dari muka bumi pada tanggal 11 bagian terang bulan wasaka tahun 1511 Saka atau 11 Rabi’ul Awal 978 hijriah atau tanggal 8 mei 1579 M.
Sebagai tunas-tunas Pajajaran, muncullah 3 kerajaan Islam di tatar Sunda :
Kerajaan Islam Pakungwati Cirebon;
Kerajaan Islam Surasowan Banten; dan
Kerajaan Islam Sumedanglarang.

Rabu, 12 September 2012

Kampung Urug Masih Keturunan Prabu Siliwangi?

Oleh : Dadang H. Padmadiredja

Dalam bukunya, Saleh mengatakan bahwa pada tanggal itu terjadi pemindahan pemerintahan dari Kawali, Ciamis ke Pakuan ( Bogor). Adanya penyatuan Kerajaan Sunda Galuh dan Pakuan menjadikan, Prabu Dewata bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji Pakuan Pajajaran atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Kebesaran Prabu Siliwangi tak pupus oleh waktu tak lekang oleh zaman, bahkan saat inipun banyak sekali kelompok masyarakat yang selalu mengkaitkannya dan mengklaim sebagai turunan dari Prabu Siliwangi
(seuweu siwi Siliwangi).

Selain itu ada juga kelompok masyarakat yang “biasa” berkomunikasi dengan Eyang Prabu yang digjaya ini, bahkan mereka secara rutin memberikan suguhan (sesajen) bagi mantan Raja Pakuan Pajajaran ini. Nama Prabu Siliwangi seakan masih hidup abadi sekalipun kerajaannnya hanya tinggal puing puingnya saja, salah satu diantaranya Prasasti Batutulis. Dari berbagai kelompok masyarakat atau perorangan yang mengklaim dirinya turunan langsung dari Prabu Siliwangi adalah masyarakat Kampung Urug. Kampung yang terletak di sebuah lembah yang subur ini masuk dalam wilayah admisnistrasi Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Menurut Kokolot Kampung Urug Tonggoh Abah Rajasa atau sering dipanggil dengan Kolot Kayod, Sejarah Kampung Urug erat kaitannya dengan zaman Eyang Prabu ( Silwangi?) saat timbul tenggelam ( tilem) yang kurun waktunya 5 tahun. “Saat berada di Kadu Jangkung, Eyang Prabu berkata bahwa suatu saat nanti kampung tersebut akan menjadi daerah pertanian,” ujar Abah

Kayod. Cerita atau Sejarah yang dipahami Kayod berasal dari kokolot sebelumnya. Saat belum menjadi orang yang dituakan, Rajasa sama sekali tidak mengetahui riwayat Kampung Urug, sekalipun kisah ini selalu diceritakan setiap tahun saat Perayaan Seren Pataunan.

Kejadian serupa dialami Kokolot Urug Lebak, Abah Ukat yang baru setahun mengemban jabatan tersebut. Ukat sendiri sebelumnya seorang pedagang yang mencari nafkah di Pasar Leuwiliang. Masamudanya dihabiskan di luar Kampung Urug. Namun karena pergantian kokolot disana berdasarkan wangsit, jadilah ia orang yang dituakan di kampung yang konon katanya pernah ditinggali mantan orang nomor satu di negeri ini, Presiden Soekarno.

Tingkah laku masyarakat Urug dalam bertani, takkan pernah lepas dari kisah (jasa ?) Nyi. Sari Pohaci atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sri. Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Urug yang diwakili kokolotnya, Dewi Sri adalah putri dari Eyang Prabu yang meninggal saat usianya masih muda dan belum sempat menikah. Saat mendapatkan menstruasi pertamakali, darahnya tidak pernah berhenti sampai akhirnya meninggal dunia.

Menurut mereka, Dewi Sri mendapat haid pertama kali pada hari Senin, makanya pantang bagi masyarakat Urug untuk mengurus padi pada hari tersebut. Sedang pada hari Jumat, darah menstruasinya disiram dengan air dan jatuh ke bumi. Hari Jumat inilah merupakan pantangan bagi petani Urug untuk pergi ke ladang atau sawah. Di hari ini sebagian besar penduduk yang masih menjaga tradisi para karuhun tidak akan pergi ke sawah, khususnya para pemegang adat. Yang masih sangat kental dan terlihat jelas atau yang membedakan budaya Kampung Urug dengan yang lainnya ialah adanya leuit atau lumbung padi di hampir seluruh rumah.

Mungkin inilah gambaran nyata dari sisa budaya Sunda baheula atau bisa jadi zaman Prabu Siliwangi masih jeneng. Namun hal ini juga sebenarnya masih menyisakan perdebatan, karena menurut Budayawan Sunda kahot, Anis Djatisunda yang tinggal di Sukabumi, budaya pertanian “urang Sunda” mah, ngahuma dan lebih cenderung berpindah pindah tempat.

Sementara budaya nyawah berasal dari Mataram. Sedang mengenai keturunan langsung dari Prabu Siliwangi, Almarhum H. Komaruddin budayawan yang rajin menulis di salah satu harian local Bogor, sebelum meninggal pernah mengatakan kalau yang dimaksudkan oleh masyarakat Kampung Urug adalah Prabu Nilakendra. Menurut Ki Marko, dilihat dari kurun waktu dan kesamaan pribadi Nilakendra yang sering jalan jalan atau ngalalana, sangat dimungkinkan bukan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja. Lepas dari itu semua, Kampung Urug saat ini masih menjaga kelestarian budaya Sunda Buhun selain yang disebutkan diatas diantaranya masih adanya Rumah Panggung tempat karuhun ngareureuh, dan kebiasaan lain yang merupakan cerminan di masa lalu.

Masuknya agama Islam ke Kampung Urug secara otomatis merubah pola hidup masyarakat setempat, meskipun masih ada sisa sisa “kebiasaan” karuhun yang dipertahankan. Gabungan dari kebiasaan yang sangat baik terlihat dalam upacara Seren Pataunan. Ada anggapan “haram” hukumnya menyatukan padi yang belum dikeluarkan zakatnya ke leuit dicampurkan dengan padi yang lama.

Zakatnyapun cukup besar tidak kurang dari 10 persen dari hasil taninya. Inilah mungkin yang membuat Kampung Urug tidak pernah terkena krisis ekonomi, seperti yang diungkapkan isteri mantan kokolot Adang (sebelum Kolot Ukat) bahwa dengan satu kali panen cukup untuk hidup selama 2 tahun. Padahal jenis padi yang ditanam adalah pare gede yang umurnya 6 – 8 bulan dengan hasil panenan tidak lebih dari 3 ton permasakali tanamnya. Satu hal yang tidak mungkin bila dihitung dengan matematik dan kurang masuk akal bila dikalikan dengan biaya hidup saat ini.

CIRI KETURUNAN PRABU SILIWANGI & CIRI KETURUNAN SUNAN GUNUNG JATI

seratan: Rd. Vishnu Kusumawardhana
diserat ulang: R.E. Achmad Fahri Al Munawar Suryakusumah
Ciri Khas Keturunan Padjadjaran-Cirebon

Melihat sejarah dari Kerajaan Padjadjaran,yang Rajanya dikenal dari masa itu hingga saat ini, yaitu Kanjeng Shri Baduga Maharaja Prabu Jayadewata, atau lebih dikenal dengan sebutan “Prabu Siliwangi”. Pada masa itu Rakyat Padjadjaran menganut agama (mungkin lebih tepatnya kepercayaan) “Ajaran Djati Sunda”, dimana ajaran yang telah lama diyakini oleh seluruh rakyat Padjadjaran ini lebih menekankan pada “Ajaran Hidup/Kehidupan”, salah satu “Ajaran Djati Sunda”, yaitu “Tri Tangtu Sundabuwana” menerapkan falsafah hidup yang sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai pedoman hidup, bahkan hingga saat ini.
Dalam “Tri Tangtu Sundabuwana” ada 3 falsafah hidup, yaitu : “Rama (Pendiri/Kepala Kampung/Kepala Daerah) ; mempunyai tugas mendirikan dan memimpin suatu daerah, dimana “Rama” ini membabat alas daerah itu, sekaligus “Rama” inilah yang menjadi pemimpin bagi rakyat di daerah tersebut, Resi (Pandita) ; mempunyai tugas membimbing rakyat menuju suatu hal yang bijaksana dan hakiki menuju “Sang Pencipta Alam”, Raja (Prabu/Pemimpin seluruh rakyat) ; mempunyai tugas memimpin dan membuat kebijakan mengenai semua hal yang berhubungan dengan rakyatnya”.
Dari 3 falsafah hidup rakyat Padjadjaran ini, mungkin dapat diterapkan oleh para keturunan Padjadjaran saat ini, baik yang berjalur dari Cirebon (baik yang berasal dari Keraton maupun yang berasal dari luar Keraton), Banten (baik yang berada pada lingkungan kesultanan Banten maupun di luar lingkungan Kesultanan Banten), Sumedang Larang (baik yang berada pada lingkungan Museum Prabu Geusan Oeloen maupun diluar lingkungan museum), Galuh (Saat ini daerah Ciamis & sekitarnya), Sukabumi, Caringin, Majalengka dan berbagai wilayah lainnya yang masih terdapat trah dari Padjadjran. Sebab 3 falsafah hidup ini dapat menuntun kita pada kehidupan yang “lurus”, sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh “Para Karuhun”.
Ada keunikan pada falsafah hidup “Tri Tangtu Sundabuwana” yang menjadi pedoman hidup rakyat Padjadjaran ini, yaitu terdapat ciri khas yang dapat dilihat secara kasat mata/lahiriyah untuk para keturunan Padjadjaran berupa tahi lalat yang membentuk seperti segitiga (untuk seseorang yang masih ada keturunan dari Padjadjran bisa langsung cek di seluruh tubuhnya).
Tanda tahi lalat yang membentuk segitiga inilah yang mempunyai makna “Tri Tangtu Sundabuwana”. Hal ini dimaksudkan agar para keturunan dari Padjadjaran mempunyai pedoman hidup seperti rakyat Padjadjaran di masa itu, bahkan “Prabu Siliwangi” pun memegang teguh pedoman hidup ini. Alangkah baiknya bagi “Para Sedulur” dari trah Padjadjaran untuk menjalani pedoman hidup yang dipegang teguh oleh “Para Karuhun” ini.
Untuk para keturunan dari Cirebon (keturunan dari Syaikh Syarief Hidayatullah/Sunan Gunung Djati) juga terdapat tanda khusus selain tanda “Tri Tangtu Sundabuwana” ini, yaitu berupa tanda garis putih lurus, yang terdapat pada kuku jari tangan/kaki. Tanda khusus dari garis putih lurus ini secara universal bermakna “Islam”, yang dilambangkan dengan warna putih, sedangkan garis lurus perlambang “Jalan Lurus menuju Sang Pencipta Alam” (untuk arti dari makna ini, silahkan diterjemahkan oleh masing-masing individu).

Sejarah KERAJAAN PAJAJARAN #Bagian I

  Pusat Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Selalu Berpindah-Pindah, Seperti Kawali Yang Juga Pernah Dijadikan Sebagai Ibu Kota Kerajaan Pajajaran. Keturunan Manarah Dalam Garis Turunan Laki-Laki Terputus Sehingga Pada Tahun 852 Tahta Galuh Jatuh Kepada Keturunan Banga, Yaitu Rakeyan Wuwus Yang Beristrikan Puteri Keturunan Galuh. Sebaliknya Adik Perempuan Rakeyan Wuwus Menikah Dengan Putera Galuh Yang Kemudian Menggantikan Kedudukan Iparnya Sebagai Raja Sunda IX Dengan Gelar Prabu Darmaraksa Buana.

 Kehadiran Orang Galuh Sebagai Raja Sunda Di Pakuan Waktu Itu Belum Dapat Diterima Secara Umum, Hal Ini Dapat Dimaklumi Karena Sama Halnya Dengan Kehadiran Sanjaya Dan Tamperan Sebagai Orang Sunda Di Galuh. Bahkan Prabu Darmaraksa [ 891 - 895 ] Tewas Dibunuh Oleh Seorang Menteri Sunda Yang Sangat Fanatik Akan Hal Ini. Setelah Peristiwa Itu, Tiap Raja Sunda Yang Baru Pastilah Akan Selalu Memperhitungkan Tempat Kedudukan Yang Akan Dipilihnya Menjadi Pusat Pemerintahan. Dengan Demikian, Pusat Pemerintahan Itu Berpindah-Pindah Dari Barat Ke Timur Dan Sebaliknya. Antara Tahun 895 Sampai Tahun 1311 Kawasan Jawa Barat Diramaikan Sewaktu-Waktu Oleh Iring-Iringan Rombongan Raja Baru Yang Berpindah Tempat.

  Ayah Sri Jayabupati Berkedudukan Di Galuh, Sri Jayabupati Di Pakuan, Tetapi Puteranya Berkedudukan Di Galuh Lagi. Dua Raja Berikutnya [ Raja Sunda Ke-22 Dan Ke-23 ] Memerintah Kembali Di Pakuan. Raja Ke-24 Memerintah Di Galuh Dan Raja Ke-25, Yaitu Prabu Guru Darmasiksa Mula-Mula Berkedudukan Di Saunggalah, Kemudian Pindah Lagi Ke Pakuan. Puteranya, Prabu Ragasuci, Berkedudukan Di Saunggalah. Proses Kepindahan Seperti Ini Memang Merepotkan, Namun Pengaruh Positifnya Jelas Sekali Dalam Hal Pemantapan Etnik Di Jawa Barat. Antara Galuh Dengan Sunda Memang Terdapat Kelainan Dalam Hal Tradisi.

  Anwas Adiwijaya [ 1975 ] Mengungkapkan Bahwa Orang Galuh Itu "Orang Air", Sedang Orang Sunda "Orang Gunung". Yang Satu Memiliki "Mitos Buaya", Yang Lain "Mitos Harimau". Di Daerah Ciamis Dan Tasikmalaya Masih Ada Beberapa Tempat Yang Bernama Panereban. Tempat Yang Bernama Demikian Pada Masa Silam Merupakan Tempat Melabuhkan [ Nerebkeun ] Mayat Karena Menurut Tradisi Galuh, Mayat Harus "Dilarung" [ Dihanyutkan ] Di Sungai. Sebaliknya Orang Kanekes Yang Masih Menyimpan Banyak Sekali "Sisa-Sisa" Tradisi Sunda, Mengubur Mayat Dalam Tanah. Tradisi "Nerebkeun" Di Sebelah Timur Dan Tradisi "Ngurebkeun" Di Sebelah Barat [ Membekas Dalam Istilah Panereban Dan Pasarean ].

  Sejarah Kerajaan Pajajaran Telah Meleburkan Kedua Kelompok Sub-Etnik Ini Menjadi Satu "Orang Air" Dengan "Orang Gunung" Itu Menjadi Akrab Dan Berbaur Seperti Dilambangkan Oleh Dongeng Sakadang Kuya Jeung Sakadang Monyet [ Kura-Kura Dan Monyet ]. Dongeng Yang Khas Sunda Ini Sangat Mendalam Dan Meluas Dalam Segala Lapisan Masyarakat, Padahal Mereka Tahu, Bahwa Dalam Kenyataan Sehari-Hari Monyet Dan Kuya Itu Bertemu Saja Mugkin Tidak Pernah. Pada Abad Ke-14 Sebutan Sunda Itu Sudah Meliputi Seluruh Jawa Barat, Baik Dalam Pengertian Wilayah Maupun Dalam Pengertian Etnik. Menurut Pustaka Paratwan I Bgumi Jawadwipa, Parwa I Sarga 1, Nama Sunda Mulai Digunakan Oleh Purnawarman Untuk Ibukota Tarumanagara Yang Baru Didirikannya, Sundapura. Idealisme Kenegaraan Memang Terpaut Di Dalamnya Karena Sundapura Mengandung Arti Kota Suci Atau Kota Murni, Sedangkan Galuh Berarti Permata Atau Batu Mulia.

  Dalam Periode Yang Sama, Di Timur Pulau Jawa Muncul Sebuah Kota Baru Yang Makin Mendesak Kedudukan Galuh Dan Saunggalah, Yaitu Kawali [ Artinya Kuali Atau Belanga ]. Lokasinya Strategis Karena Berada Di Tengah Segitiga Galunggung, Saunggalah Dan Galuh. Sejak Abad XIV Ini Galuh Selalu Disangkutpautkan Dengan Kawali. Dua Orang Raja Sunda Dipusarakan Di Winduraja. Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Yang Condong Ke Timur Sudah Mulai Nampak Sejak Masa Pemerintahan Prabu Ragasuci [ 1297-1303 ].

  Ketika Naik Tahta Menggantikan Ayahnya [ Prabu Darmasiksa ], Ia Tetap Memilih Saunggalah Sebagai Pusat Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Karena Ia Sendiri Sebelumnya Telah Lama Berkedudukan Sebagai Raja Di Timur. Tetapi Pada Masa Pemerintahan Puteranya Prabu Citraganda, Sekali Lagi Pakuan Menjadi Pusat Pemerintahan Kerajaan Pajajaran. Ragasuci Sebenarnya Bukan Putera Mahkota Karena Kedudukanya Itu Dijabat Kakaknya Rakeyan Jayadarma. Menurut Pustaka Rajyatajya I Bhumi Nusantara Parwa II Sarga 3, Jayadarma Adalah Menantu Mahisa Campaka Di Jawa Timur Karena Ia Berjodoh Dengan Dyah Singamurti Alias Dyah Lembu Tal. Mereka Berputera Sang Nararya Sanggramawijaya Atau Lebih Dikenal Dengan Nama Raden Wijaya, Yang Lahir Di Pakuan.

  Karena Jayadarma Wafat Dalam Usia Muda, Lembu Tal Tidak Bersedia Tinggal Lebih Lama Di Pakuan. Akhirnya Wijaya Dan Ibunya Diantarkan Ke Jawa Timur. Dalam Babad Tanah Jawi, Wijaya Disebut Pula Jaka Susuruh Dari Kerajaan Pajajaran Yang Kemudian Menjadi Raja Majapahit Yang Pertama. Kematian Jayadarma Mengosongkan Kedudukan Putera Mahkota Karena Wijaya Berada Di Jawa Timur. Prabu Darmasiksa Kemudian Menunjuk Putera Prabu Ragasuci, Citraganda, Sebagai Calon Ahli Warisnya. Permaisuri Ragasuci Adalah Dara Puspa, Puteri Kerajaan Melayu, Adik Dara Kencana Isteri Kertanegara. Citraganda Tinggal Di Pakuan Bersama Kakeknya.

  Ketika Prabu Darmasiksa Wafat, Untuk Sementara Ia Menjadi Raja Daerah Selama Enam Tahun Di Pakuan. Ketika Itu Raja Sunda Dijabat Ayahnya Di Saunggalah. Dari 1303 Sampai 1311, Citraganda Menjadi Raja Sunda Di Pakuan Dan Ketika Wafat Ia Dipusarakan Di Tanjung. Prabu Lingga Dewata, Putera Citraganda, Mungkin Berkedudukan Di Kawali. Yang Pasti, Menantunya, Prabu Ajiguna Wisesa [ 1333-1340 ] Sudah Berkedudukan Di Kawali Dan Sampai Tahun 1482 Pusat Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Tetap Berada Di Sana. Bisa Disebut Bahwa Tahun 1333-1482 Adalah Jaman Kawali Dalam Sejarah Pemerintahan Di Jawa Barat Dan Mengenal Lima Orang Raja.

Sejarah KERAJAAN PAJAJARAN #Bagian II

  Lain Dengan Galuh, Nama Kawali Terabadikan Dalam Dua Buah Prasasti Batu Peninggalan Prabu Raja Wastu Yang Tersimpan Di Astana Gede, Kawali. Dalam Prasasti Itu Ditegaskan "Mangadeg Di Kuta Kawali" [ Bertahta Di Kota Kawali ] Dan Keratonnya Disebut Surawisesa Yang Dijelaskan Sebagai "Dalem Sipawindu Hurip" [ Keraton Yang Memberikan Ketenangan Hidup ]. Prabu Raja Wastu Atau Niskala Wastu Kancana Adalah Putera Prabu Maharaja Lingga Buana Yang Gugur Di Medan Bubat Dalam Tahun 1357. Ketika Terjadi Pasunda Bubat, Usia Wastu Kancana Baru 9 Tahun Dan Ia Adalah Satu-Satunya Ahli Waris Kerajaan Yang Hidup Karena Ketiga Kakaknya Meninggal.

 Pemerintahan Kemudian Diwakili Oleh Pamannya Mangkubumi Suradipati Atau Prabu Bunisora [ Ada Juga Yang Menyebut Prabu Kuda Lalean, Sedangkan Dalam Babad Panjalu Disebut Prabu Borosngora. Selain Itu Ia Pun Dijuluki Batara Guru Di Jampang Karena Ia Menjadi Pertapa Dan Resi Yang Ulung ]. Mangkubumi Suradipati Dimakamkan Di Geger Omas. Setelah Pemerintahan Di Jalankan Pamannya Yang Sekaligus Juga Mertuanya, Wastu Kancana Dinobatkan Menjadi Raja Di Kerajaan Pajajaran Pada Tahun 1371 Pada Usia 23 Tahun. Permaisurinya Yang Pertama Adalah Lara Sarkati Puteri Lampung. Dari Perkawinan Ini Lahir Sang Haliwungan, Yang Setelah Dinobatkan Menjadi Raja Sunda Bergelar Prabu Susuktunggal. Permaisuri Yang Kedua Adalah Mayangsari Puteri Sulung Bunisora Atau Mangkubumi Suradipati. Dari Perkawinannya Dengan Mayangsari Lahir Ningrat Kancana, Yang Setelah Menjadi Penguasa Galuh Bergelar Prabu Dewa Niskala.

  Setelah Wastu Kancana Wafat Tahun 1475, Kerajaan Dipecah Dua Diantara Susuktunggal Dan Dewa Niskala Dalam Kedudukan Sederajat. Politik Kesatuan Wilayah Telah Membuat Jalinan Perkawinan Antar Cucu Wastu Kencana. Jayadewata, Putera Dewa Niskala, Mula-Mula Memperistri Ambetkasih, Puteri Ki Gedeng Sindangkasih, Kemudian Memperistri Subanglarang. Yang Terakhir Ini Adalah Puteri Ki Gedeng Tapa Yang Menjadi Raja Singapura. Subanglarang Ini Keluaran Pesantren Pondok Quro Di Pura, Karawang. Ia Seorang Wanita Muslim Murid Syekh Hasanudin Yang Menganut Mazhab Hanafi. Pesantren Qura Di Karawang Didirikan Tahun 1416 Dalam Masa Pemerintahan Wastu Kancana. Subanglarang Belajar Di Situ Selama Dua Tahun. Ia Adalah Nenek Syarif Hidayatullah. Kemudian Jayadewata Mempersitri Kentring Manik Mayang Sunda Puteri Prabu Susuktunggal. Jadilah Antara Raja Sunda Dan Raja Galuh Yang Seayah Ini Menjadi Besan.

  Kejatuhan Prabu Kertabumi [ Brawijaya V ] Raja Majapahit Tahun 1478 Telah Mempengaruhi Jalan Sejarah Di Jawa Barat. Rombongan Pengungsi Dari Kerabat Keraton Majapahit Akhirnya Ada Juga Yang Sampai Di Kawali. Salah Seorang Diantaranya Ialah Raden Baribin Saudara Seayah Prabu Kertabumi. Ia Diterima Dengan Baik Oleh Prabu Dewa Niskala Bahkan Kemudian Dijodohkan Dengan Ratna Ayu Kirana [ Puteri Bungsu Dewa Niskala Dari Salah Seorang Isterinya ], Adik Raden Banyak Cakra [ Kamandaka ] Yang Telah Jadi Raja Daerah Di Pasir Luhur. Disamping Itu Dewa Niskala Sendiri Menikahi Salah Seorang Dari Wanita Pengungsi Yang Kebetulan Telah Bertunangan. Dalam Carita Parahiyangan Disebutkan "Estri Larangan Ti Kaluaran". Sejak Peristiwa Bubat, Kerabat Keraton Kawali Ditabukan Berjodoh Dengan Kerabat Keraton Majapahit. Selain Itu, Menurut "Perundang-Undangan" Waktu Itu, Seorang Wanita Yang Bertunangan Tidak Boleh Menikah Dengan Laki-Laki Lain Kecuali Bila Tunangannya Meninggal Dunia Atau Membatalkan Pertunangan.

  Dengan Demikian, Dewa Niskala Telah Melanggar Dua Peraturan Sekaligus Dan Dianggap Berdosa Besar Sebagai Raja. Kehebohan Pun Tak Terelakkan. Susuktunggal [ Raja Sunda Yang Juga Besan Dewa Niskala ] Mengancam Memutuskan Hubungan Dengan Kawali. Namun, Kericuhan Dapat Dicegah Dengan Keputusan, Bahwa Kedua Raja Yang Berselisih Itu Bersama-Sama Mengundurkan Diri. Akhirnya Prabu Dewa Niskala Menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh Kepada Puteranya Jayadewata. Demikian Pula Dengan Prabu Susuktungal Yang Menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda Kepada Menantunya Ini [ Jayadewata ]. Dengan Peristiwa Yang Terjadi Tahun 1482 Itu, Kerajaan Warisan Wastu Kencana Berada Kembali Dalam Satu Tangan. Jayadewata Memutuskan Untuk Berkedudukan Di Pakuan Sebagai "Susuhunan" Karena Ia Telah Lama Tinggal Di Sini Menjalankan Pemerintahan Sehari-Hari Mewakili Mertuanya. Sekali Lagi Pakuan Menjadi Pusat Pemerintahan.

  Masa Pemerintahan Kerajaan Pajajaran Diawali Oleh Pemerintahan Sri Baduga Maharaja [ Ratu Jayadewata ] Yang Memerintah Selama 39 Thn [ 1482 - 1521 ]. Pada Masa Inilah Pakuan Mencapai Puncak Perkembangannya. Dalam Prasasti Batutulis Diberitakan Bahwa Sri Baduga Dinobatkan Dua Kali, Yaitu Yang Pertama Ketika Jayadewata Menerima Tahta Galuh Dari Ayahnya [ Prabu Dewa Niskala ] Yang Kemudian Bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang Kedua Ketika Ia Menerima Tahta Kerajaan Sunda Dari Mertuanya, Susuktunggal. Dengan Peristiwa Ini, Ia Menjadi Penguasa Sunda-Galuh Dan Dinobatkan Dengar Gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Di Pakuan Kerajaan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi Sekali Lagi Dan Untuk Terakhir Kalinya, Setelah "Sepi" Selama 149 Tahun, Jawa Barat Kembali Menyaksikan Iring-Iringan Rombongan Raja Yang Berpindah Tempat Dari Timur Ke Barat.

  Di Jawa Barat Sri Baduga Ini Lebih Dikenal Dengan Nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi Sudah Tercatat Dalam Kropak 630 Sebagai Lakon Pantun. Naskah Itu Ditulis Tahun 1518 Ketika Sri Baduga Masih Hidup. Lakon Prabu Siliwangi Dalam Berbagai Versinya Berintikan Kisah Tokoh Ini Menjadi Raja Di Pakuan. Peristiwa Itu Dari Segi Sejarah Berarti Saat Sri Baduga Mempunyai Kekuasaan Yang Sama Besarnya Dengan Wastu Kancana [ Kakeknya ] Alias Prabu Wangi [ Menurut Pandangan Para Pujangga Sunda ].

  Menurut Tradisi Lama. Orang Segan Atau Tidak Boleh Menyebut Gelar Raja Yang Sesungguhnya, Maka Juru Pantun Mempopulerkan Sebutan Siliwangi. Dengan Nama Itulah Ia Dikenal Dalam Literatur Sunda. Wangsakerta Pun Mengungkapkan Bahwa Siliwangi Bukan Nama Pribadi, Ia Menulis:
 "Kawalya Ta Wwang Sunda Lawan Ika Wwang Carbon Mwang Sakweh Ira Wwang Jawa Kulwan Anyebuta Prabhu Siliwangi Raja Kerajaan Pajajaran. Dadyeka Dudu Ngaran Swaraga Nira".
 [ Hanya Orang Sunda Dan Orang Cirebon Serta Semua Orang Jawa Barat Yang Menyebut Prabu Siliwangi Raja Kerajaan Pajajaran. Jadi Nama Itu Bukan Nama Pribadinya ].