Barros Menyebut Fadillah Dengan Faletehan. Ini Barangkali Lafal Orang
Portugis Untuk Fadillah Khan. Tome Pinto Menyebutnya Tagaril Untuk Ki
Fadil [ Julukan Fadillah Khan Sehari-Hari ]. Kretabhumi I/2 Menyebutkan,
Bahwa Makam Fadillah Khan [ Disebut Juga Wong Agung Pase ] Terletak Di
Puncak Gunung Sembung Berdampingan [ Di Sebelah Timurnya ] Dengan Makam
Susushunan Jati. Hoesein Djajaningrat [ 1913 ] Menganggap Fadillah
Identik Dengan Susuhunan Jati. Nama Fadillah Sendiri Baru Muncul Dalam
Buku Sejarah Indonesia Susunan Sanusi Pane [ 1950 ]. Carita Parahiyangan
Menyebut Fadillah Dengan Arya Burah. Pasukan Fadillah Yang Merupakan
Gabungan Pasukan Demak-Cirebon Berjumlah 1967 Orang. Sasaran Pertama
Adalah Banten, Pintu Masuk Selat Sunda.
Kedatangan Pasukan
Ini Telah Didahului Dengan Huru-Hara Di Banten Yang Ditimbulkan Oleh
Pangeran Hasanudin Dan Para Pengikutnya. Kedatangan Pasukan Fadillah
Menyebabkan Pasukan Banten Terdesak. Bupati Banten Beserta Keluarga Dan
Pembesar Keratonnya Mengungsi Ke Ibukota Pakuan. Hasanudin Kemudian
Diangkat Oleh Ayahnya [ Susuhunan Jati ], Menjadi Bupati Banten [ 1526
]. Setahun Kemudian, Fadillah Bersama 1452 Orang Pasukannya Menyerang
Dan Merebut Pelabuhan Kalapa. Bupati Kalapa Bersama Keluarga Dan Para
Menteri Kerajaan Yang Bertugas Di Pelabuhan Gugur. Pasukan Bantuan Dari
Pakuan Pun Dapat Dipukul Mundur. Keunggulan Pasukan Fadillah Terletak
Pada Penggunaan Meriam Yang Justru Tidak Dimiliki Oleh Laskar Kerajaan Pajajaran.
Bantuan
Portugis Datang Terlambat Karena Francisco De Sa Yang Ditugasi
Membangun Benteng Diangkat Menjadi Gubernur Goa Di India. Keberangkatan
Ke Sunda Dipersiapkan Dari Goa Dengan 6 Buah Kapal. Galiun Yang Dinaiki
De Sa Dan Berisi Peralatan Untuk Membangun Benteng Terpaksa Ditinggalkan
Karena Armada Ini Diterpa Badai Di Teluk Benggala. De Sa Tiba Di Malaka
Tahun 1527. Ekspedsi Ke Sunda Bertolak Dari Malaka. Mula-Mula Menuju
Banten, Akan Tetapi Karena Banten Sudah Dikuasai Hasanudin, Perjalanan
Dilanjutkan Ke Pelabuhan Kalapa. Di Muara Cisadane, De Sa Memancangkan
Padrao Pada Tanggal 30 Juni 1527 Dan Memberikan Nama Kepada Cisadane
"Rio De Sa Jorge".
Kemudian Galiun De Sa Memisahkan Diri.
Hanya Kapal Brigantin [ Dipimpin Duarte Coelho ] Yang Langsung Ke
Pelabuhan Kalapa. Coelho Terlambat Mengetahui Perubahan Situasi,
Kapalnya Menepi Terlalu Dekat Ke Pantai Dan Menjadi Mangsa Sergapan
Pasukan Fadillah. Dengan Kerusakan Yang Berat Dan Korban Yang Banyak,
Kapal Portugis Ini Berhasil Meloloskan Diri Ke Pasai. Tahun 1529
Portugis Menyiapkan 8 Buah Kapal Untuk Melakukan Serangan Balasan, Akan
Tetapi Karena Peristiwa 1527 Yang Menimpa Pasukan Coelho Demikian
Menakutkan, Maka Tujuan Armada Lalu Di Ubah Menuju Pedu.
Setelah Sri Baduga Wafat, Kerajaan Pajajaran
Dengan Cirebon Berada Pada Generasi Yang Sejajar. Meskipun Yang
Berkuasa Di Cirebon Syarif Hidayat, Tetapi Dibelakangnya Berdiri
Pangeran Cakrabuana [ Walasungsang Atau Bernama Pula Haji Abdullah Iman
]. Cakrabuana Adalah Kakak Seayah Prabu Surawisesa. Dengan Demikian,
Keengganan Cirebon Menjamah Pelabuhan Atau Wilayah Lain Di Kerajaan Pajajaran
Menjadi Hilang. Meskipun, Cirebon Sendiri Sebenarnya Relatif Lemah.
Akan Tetapi Berkat Dukungan Demak, Kedudukannya Menjadi Mantap. Setelah
Kedudukan Demak Goyah Akibat Kegagalan Serbuannya Ke Pasuruan Dan
Panarukan [ Bahkan Sultan Trenggana Terbunuh ], Kemudian Disusul Dengan
Perang Perebutan Tahta, Maka Cirebon Pun Turut Menjadi Goyah Pula. Hal
Inilah Yang Menyebabkan Kedudukan Cirebon Terdesak Dan Bahkan Terlampaui
Oleh Banten Di Kemudian Hari.
Perang Cirebon - Kerajaan Pajajaran
Berlangsung 5 Tahun Lamanya. Yang Satu Tidak Berani Naik Ke Darat, Yang
Satunya Lagi Tak Berani Turun Ke Laut. Cirebon Dan Demak Hanya Berhasil
Menguasai Kota-Kota Pelabuhan. Hanya Di Bagian Timur Pasukan Cirebon
Bergerak Lebih Jauh Ke Selatan. Pertempuran Dengan Galuh Terjadi Tahun
1528. Di Sini Pun Terlihat Peran Demak Karena Kemenangan Cirebon Terjadi
Berkat Bantuan Pasukan Meriam Demak Tepat Pada Saat Pasukan Cirebon
Terdesak Mundur. Laskar Galuh Tidak Berdaya Menghadapi "Panah Besi Yang
Besar Yang Menyemburkan Kukus Ireng Dan Bersuara Seperti Guntur Serta
Memuntahkan Logam Panas". Tombak Dan Anak Panah Mereka Lumpuh Karena
Meriam. Maka Jatuhlah Galuh. Dua Tahun Kemudian Jatuh Pula Kerajaan
Talaga, Benteng Terakhir Kerajaan Galuh.
Sumedang Masuk Ke
Dalam Lingkaran Pengaruh Cirebon Dengan Dinobatkannya Pangeran Santri
Menjadi Bupati Sumedang Pada Tanggal 21 Oktober 1530. Pangeran Santri
Adalah Cucu Pangeran Panjunan, Kakak Ipar Syarif Hidayat. Buyut Pangeran
Santri Adalah Syekh Datuk Kahfi Pendiri Pesantren Pertama Di Cirebon.
Ia Menjadi Bupati Karena Pernikahannya Dengan Satyasih, Pucuk Umum [
Unun? ] Sumedang. Secara Tidak Resmi Sumedang Menjadi Daerah Cirebon.
Dengan Kedudukan Yang Mantap Di Timur Citarum, Cirebon Merasa
Kedudukannya Mapan. Selain Itu, Karena Gerakan Ke Pakuan Selalu Dapat
Dibendung Oleh Pasukan Surawisesa, Maka Kedua Pihak Mengambil Jalan
Terbaik Dengan Berdamai Dan Mengakui Kedudukan Masing-Masing. Tahun 1531
Tercapai Perdamaian Antara Surawisesa Dan Syarif Hidayat. Masing-Masing
Pihak Berdiri Sebagai Negara Merdeka. Di Pihak Cirebon, Ikut
Menandatangani Naskah Perjanjian, Pangeran Pasarean [ Putera Mahkota
Cirebon ], Fadillah Khan Dan Hasanudin [ Bupati Banten ].
Perjanjian
Damai Dengan Cirebon Memberikan Peluang Kepada Surawisesa Untuk
Mengurus Dalam Negerinya. Setelah Berhasil Memadamkan Beberapa
Pemberontakkan, Ia Berkesempatan Menerawang Situasi Dirinya Dan
Kerajaannya. Warisan Dari Ayahnya Hanya Tinggal Setengahnya, Itupun
Tanpa Pelabuhan Pantai Utara Yang Pernah Memperkaya Kerajaan Pajajaran
Dengan Lautnya. Dengan Dukungan 1.000 Orang Pasukan Belamati Yang Setia
Kepadanyalah, Ia Masih Mampu Mempertahankan Daerah Inti Kerajaannya.
Dalam
Suasana Seperti Itulah Ia Mengenang Kebesaran Ayahandanya. Perjanjian
Damai Dengan Cirebon Memberi Kesempatan Kepadanya Untuk Menunjukkan Rasa
Hormat Terhadap Mendiang Ayahnya. Mungkin Juga Sekaligus Menunjukkan
Penyesalannya Karena Ia Tidak Mampu Mempertahankan Keutuhan Wilayah
Pakuan Kerajaan Pajajaran Yang Diamanatkan Kepadanya.
Dalam Tahun 1533, Tepat 12 Tahun Setelah Ayahnya Wafat, Ia Membuat
Sasakala [ Tanda Peringatan ] Buat Ayahnya. Ditampilkannya Di Situ
Karya-Karya Besar Yang Telah Dilakukan Oleh Susuhunan Kerajaan Pajajaran.
Itulah Prasasati Batutulis Yang Diletakkannya Di Kabuyutan Tempat Tanda
Kekuasaan Sri Baduga Yang Berupa Lingga Batu Ditanamkan. Penempatannya
Sedemikian Rupa Sehingga Kedudukan Antara Anak Dengan Ayah Amat Mudah
Terlihat. Si Anak Ingin Agar Apa Yang Dipujikan Tentang Ayahnya Dengan
Mudah Dapat Diketahui [ Dibaca ] Orang. Ia Sendiri Tidak Berani Berdiri
Sejajar Dengan Si Ayah. Demikianlah, Batutulis Itu Diletakkan Agak Ke
Belakang Di Samping Kiri Lingga Batu.
Saadat Padjadjaran
Ashadu sahadat islam,
Sarsilah gusti panutan,
Panut pangkon pangandika,
Kanjeng gusti rosul,
Anembah guru,
Anembah ratu,
Anembah telekon agama islam,
Syeh haji kuncung putih,
Kian santang kan lumejang,
Kudrat yaa insun qursy Allah,
Susuci
Sri suci tunggal sabangsa,
Banyu suci tungggal sabangsa,
Geni suci tunggal sabangsa,
Braja suci tunggal sabangsa,
Suka suci mulya badan sampurna,
Sampurna kersaning allah ta'ala,
Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.
Ashadu sahadat islam,
Sarsilah gusti panutan,
Panut pangkon pangandika,
Kanjeng gusti rosul,
Anembah guru,
Anembah ratu,
Anembah telekon agama islam,
Syeh haji kuncung putih,
Kian santang kan lumejang,
Kudrat yaa insun qursy Allah,
Susuci
Sri suci tunggal sabangsa,
Banyu suci tungggal sabangsa,
Geni suci tunggal sabangsa,
Braja suci tunggal sabangsa,
Suka suci mulya badan sampurna,
Sampurna kersaning allah ta'ala,
Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.
Translate
Rabu, 12 September 2012
Sejarah KERAJAAN PAJAJARAN #Bagian VII
Surawisesa Tidak Menampilkan Namanya Dalam Prasasti. Ia Hanya
Meletakkan Dua Buah Batu Di Depan Prasasti Itu. Satu Berisi Astatala
Ukiran Jejak Tangan, Yang Lainnya Berisi Padatala Ukiran Jejak Kaki.
Mungkin Pemasangan Batutulis Itu Bertepatan Dengan Upacara Srada Yaitu
"Penyempurnaan Sukma" Yang Dilakukan Setelah 12 Tahun Seorang Raja
Wafat. Dengan Upacara Itu, Sukma Orang Yang Meninggal Dianggap Telah
Lepas Hubungannya Dengan Dunia Materi. Surawisesa Dalam Kisah
Tradisional Lebih Dikenal Dengan Sebutan Guru Gantangan Atau Munding
Laya Dikusuma. Permaisurinya, Kinawati, Berasal Dari Kerajaan Tanjung
Barat Yang Terletak Di Daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sekarang.
Kinawati Adalah Puteri Mental Buana, Cicit Munding Kawati Yang
Kesemuanya Penguasa Di Tanjung Barat.
Baik Pakuan Maupun Tanjung Barat Terletak Di Tepi Ciliwung. Diantara Dua Kerajaan Ini Terletak Kerajaan Kecil Muara Beres Di Desa Karadenan [ Dahulu Kawung Pandak ]. Di Muara Beres In Bertemu Silang Jalan Dari Pakuan Ke Tanjung Barat Terus Ke Pelabuhan Kalapa Dengan Jalan Dari Banten Ke Daerah Karawang Dan Cianjur. Kota Pelabuhan Sungai Ini Jaman Dahulu Merupakan Titik Silang. Menurut Catatan VOC Tempat Ini Terletak 11/2 Perjalanan Dari Muara Ciliwung Dan Disebut Jalan Banten Lama [ Oude Bantamsche Weg ]. Surawisesa Memerintah Selama 14 Tahun Lamanya. Dua Tahun Setelah Ia Membuat Prasasti Sebagai Sasakala Untuk Ayahnya, Ia Wafat Dan Dipusarakan Di Padaren. Di Antara Raja-Raja Jaman Kerajaan Pajajaran, Hanya Dia Dan Ayahnya Yang Menjadi Bahan Kisah Tradisional, Baik Babad Maupun Pantun. Babad Kerajaan Pajajaran Atau Babad Pakuan, Misalnya, Semata Mengisahkan "Petualangan" Surawisesa [ Guru Gantangan ] Dengan Cerita Panji.
Surawisesa Digantikan Oleh Puteranya, Ratu Dewata [ 1535 - 1534 ]. Berbeda Dengan Surawisesa Yang Dikenal Sebagai Panglima Perang Yang Perwira, Perkasa Dan Pemberani, Ratu Dewata Sangat Alim Dan Taat Kepada Agama. Ia Melakukan Upacara Sunatan [ Adat Khitan Pra-Islam ] Dan Melakukan Tapa Pwah-Susu, Hanya Makan Buah-Buahan Dan Minum Susu. Menurut Istilah Kiwari Vegetarian. Resminya Perjanjian Perdamaian Kerajaan Pajajaran-Cirebon Masih Berlaku. Tetapi Ratu Dewata Lupa Bahwa Sebagai Tunggul Negara Ia Harus Tetap Bersiaga. Ia Kurang Mengenal Seluk-Beluk Politik.
Hasanudin Dari Banten Sebenarnya Ikut Menandatangani Perjanjian Perdamaian Kerajaan Pajajaran-Cirebon, Akan Tetapi Itu Dia Lakukan Hanya Karena Kepatuhannya Kepada Siasat Ayahnya [ Susuhunan Jati ] Yang Melihat Kepentingan Wilayah Cirebon Di Sebelah Timur Citarum. Secara Pribadi Hasanudin Kurang Setuju Dengan Perjanjian Itu Karena Wilayah Kekuasaannya Berbatasan Langsung Dengan Kerajaan Pajajaran. Maka Secara Diam-Diam Ia Membentuk Pasukan Khusus Tanpa Identitas Resmi Yang Mampu Bergerak Cepat. Kemampuan Pasukan Banten Dalam Hal Bergerak Cepat Ini Telah Dibuktikannya Sepanjang Abad Ke-18 Dan Merupakan Catatan Khusus Belanda, Terutama Gerakan Pasukan Syekh Yusuf. Menurut Carita Parahiyangan, Pada Masa Pemerintahan Ratu Dewata Ini Terjadi Serangan Mendadak Ke Ibukota Pakuan Dan Musuh "Tambuh Sangkane" [ Tidak Dikenal Asal-Usulnya ].
Ratu Dewata Masih Beruntung Karena Memiliki Para Perwira Yang Pernah Mendampingi Ayahnya Dalam 15 Kali Pertempuran. Sebagai Veteran Perang, Para Perwira Ini Masih Mampu Menghadapi Sergapan Musuh. Di Samping Itu, Ketangguhan Benteng Pakuan Peninggalan Sri Baduga Menyebabkan Serangan Kilat Banten [ Dan Mungkin Dengan Kalapa ] Ini Tidak Mampu Menembus Gerbang Pakuan. Alun-Alun Empang Sekarang Pernah Menjadi Ranamandala [ Medan Pertempuran ] Mempertaruhkan Sisa-Sisa Kebesaran Siliwangi Yang Diwariskan Kepada Cucunya. Penyerang Tidak Berhasil Menembus Pertahanan Kota, Tetapi Dua Orang Senapati Kerajaan Pajajaran Gugur, Yaitu Tohaan Ratu Sangiang Dan Tohaan Sarendet.
Kokohnya Benteng Pakuan Adalah Pertama Merupakan Jasa Banga Yang Pada Tahun 739 Menjadi Raja Di Pakuan Yang Merupakan Bawahan Raja Galuh. Ia Ketika Itu Berusaha Membebaskan Diri Dari Kekuasaaan Manarah Di Galuh. Ia Berhasil Setelah Berjuang Selama 20 Tahun Dan Keberhasilannya Itu Di Awali Dengan Pembuatan Parit Pertahanan Kota. Kemudian Keadaan Pakuan Ini Diperluas Pada Jaman Sri Baduga Seperti Yang Bisa Ditemukan Pada Pustaka Nagara Kretabhuni I/2 Yang Isinya :
"Sang Maharaja Membuat Karya Besar, Yaitu Membangun Telaga Besar Yang Bernama Maharena Wijaya, Membuat Jalan Yang Menuju Ke Ibukota Pakuan Dan Jalan Ke Wanagiri, Memperteguh Kedatuan, Memberikan Desa [ Perdikan ] Kepada Semua Pendeta Dan Pengiringnya Untuk Menggairahkan Kegiatan Agama Yang Menjadi Penuntun Kehidupan Rakyat. Kemudian Membuat Kaputren [ Tempat Isteri-Isteri-Nya ], Kesatrian [ Asrama Prajurit ], Satuan-Satuan Tempat [ Pageralaran ], Tempat-Tempat Hiburan, Memperkuat Angkatan Perang, Memungut Upeti Dari Raja-Raja Bawahan Dan Kepala-Kepala Desa Dan Menyusun Undang-Undang Kerajaan Pajajaran"
Amateguh Kedatwan [ Memperteguh Kedatuan ] Sejalan Dengan Maksud "Membuat Parit" [ Memperteguh Pertahanan ] Pakuan, Bukan Saja Karena Kata Pakuan Mempunyai Arti Pokok Keraton Atau Kedatuan, Melainkan Kata Amateguh Menunjukkan Bahwa Kata Kedatuan Dalam Hal Ini Kota Raja. Jadi Sama Dengan Pakuan Dalam Arti Ibukota.
Selain Hal Di Atas, Juga Lokasi Pakuan Yang Berada Pada Posisi Yang Disebut Lemah Duwur Atau Lemah Luhur [ Dataran Tinggi, Oleh Van Riebeeck Disebut "Bovenvlakte" ]. Pada Posisi Ini, Mereka Tidak Berlindung Di Balik Bukit, Melainkan Berada Di Atas Bukit. Pasir Muara Di Cibungbulang Merupakan Contoh Bagaimana Bukit Rendah Yang Dikelilingi Tiga Batang Sungai Pernah Dijadikan Pemukiman "Lemah Duwur" Sejak Beberapa Ratus Tahun Sebelum Masehi. Lokasi Pakuan Merupakan Lahan Lemah Duwur Yang Satu Sisinya Terbuka Menghadap Ke Arah Gunung Pangrango. Tebing Ciliwung, Cisadane Dan Cipaku Merupakan Pelindung Alamiah. Tipe Lemah Duwur Biasanya Dipilih Sama Masyarakat Dengan Latar Belakang Kebudayaan Huma [ Ladang ]. Kota-Kota Yang Seperti Ini Adalah Bogor, Sukabumi Dan Cianjur.
Kota Seperti Ini Biasanya Dibangun Dengan Konsep Berdasarkan Pengembangan Perkebunan. Tipe Lain Adalah Apa Yang Disebut Garuda Ngupuk. Tipe Seperti Ini Biasanya Dipilih Oleh Masyarakat Dengan Latar Belakang Kebudayaan Sawah. Mereka Menganggap Bahwa Lahan Yang Ideal Untuk Pusat Pemerintahan Adalah Lahan Yang Datar, Luas, Dialiri Sungai Dan Berlindung Di Balik Pegunungan. Kota-Kota Yang Dikembangkan Dengan Corak Ini Misalnya Garut, Bandung Dan Tasikmalaya. Sumedang Memiliki Dua Persyaratan Tipe Ini. Kutamaya Dipilih Oleh Pangeran Santri Menurut Idealisme Pesisir Cirebon Karena Ia Orang Sindangkasih [ Majalengka ] Yang Selalu Hilir Mudik Ke Cirebon. Baru Pada Waktu Kemudian Sumedang Dikukuhkan Dengan Pola Garuda Ngupuk Pada Lokasi Pusat Kota Sumedang Yang Sekarang.
Gagal Merebut Benteng Kota, Pasukan Penyerbu Ini Dengan Cepat Bergerak Ke Utara Dan Menghancurkan Pusat-Pusat Keagamaan Di Sumedeng, Ciranjang Dan Jayagiri Yang Dalam Jaman Sri Baduga Merupakan Desa Kawikuan Yang Dilindungi Oleh Negara. Sikap Ratu Dewata Yang Alim Dan Rajin Bertapa, Menurut Norma Kehidupan Jaman Itu Tidak Tepat Karena Raja Harus "Memerintah Dengan Baik". Tapa-Brata Seperti Yang Dilakukannya Itu Hanya Boleh Dilakukan Setelah Turun Tahta Dan Menempuh Kehidupan Manurajasuniya Seperti Yang Telah Dilakukan Oleh Wastu Kancana. Karena Itulah Ratu Dewata Dicela Oleh Penulis Carita Parahiyangan Dengan Sindiran :
"Nya Iyatna-Yatna Sang Kawuri, Haywa Ta Sira Kabalik Pupuasaan"
[ Maka Berhati-Hatilan Yang Kemudian, Janganlah Engkau Berpura-Pura Rajin Puasa ].
Penulis Kisah Kuno Itu Melihat Bahwa Kealiman Ratu Dewata Itu Disebabkan Karena Ia Tidak Berani Menghadapi Kenyataan. Penulis Kemudian Berkomentar Pendek "Samangkana Ta Precinta" [ Begitulah Jaman Susah ].
Baik Pakuan Maupun Tanjung Barat Terletak Di Tepi Ciliwung. Diantara Dua Kerajaan Ini Terletak Kerajaan Kecil Muara Beres Di Desa Karadenan [ Dahulu Kawung Pandak ]. Di Muara Beres In Bertemu Silang Jalan Dari Pakuan Ke Tanjung Barat Terus Ke Pelabuhan Kalapa Dengan Jalan Dari Banten Ke Daerah Karawang Dan Cianjur. Kota Pelabuhan Sungai Ini Jaman Dahulu Merupakan Titik Silang. Menurut Catatan VOC Tempat Ini Terletak 11/2 Perjalanan Dari Muara Ciliwung Dan Disebut Jalan Banten Lama [ Oude Bantamsche Weg ]. Surawisesa Memerintah Selama 14 Tahun Lamanya. Dua Tahun Setelah Ia Membuat Prasasti Sebagai Sasakala Untuk Ayahnya, Ia Wafat Dan Dipusarakan Di Padaren. Di Antara Raja-Raja Jaman Kerajaan Pajajaran, Hanya Dia Dan Ayahnya Yang Menjadi Bahan Kisah Tradisional, Baik Babad Maupun Pantun. Babad Kerajaan Pajajaran Atau Babad Pakuan, Misalnya, Semata Mengisahkan "Petualangan" Surawisesa [ Guru Gantangan ] Dengan Cerita Panji.
Surawisesa Digantikan Oleh Puteranya, Ratu Dewata [ 1535 - 1534 ]. Berbeda Dengan Surawisesa Yang Dikenal Sebagai Panglima Perang Yang Perwira, Perkasa Dan Pemberani, Ratu Dewata Sangat Alim Dan Taat Kepada Agama. Ia Melakukan Upacara Sunatan [ Adat Khitan Pra-Islam ] Dan Melakukan Tapa Pwah-Susu, Hanya Makan Buah-Buahan Dan Minum Susu. Menurut Istilah Kiwari Vegetarian. Resminya Perjanjian Perdamaian Kerajaan Pajajaran-Cirebon Masih Berlaku. Tetapi Ratu Dewata Lupa Bahwa Sebagai Tunggul Negara Ia Harus Tetap Bersiaga. Ia Kurang Mengenal Seluk-Beluk Politik.
Hasanudin Dari Banten Sebenarnya Ikut Menandatangani Perjanjian Perdamaian Kerajaan Pajajaran-Cirebon, Akan Tetapi Itu Dia Lakukan Hanya Karena Kepatuhannya Kepada Siasat Ayahnya [ Susuhunan Jati ] Yang Melihat Kepentingan Wilayah Cirebon Di Sebelah Timur Citarum. Secara Pribadi Hasanudin Kurang Setuju Dengan Perjanjian Itu Karena Wilayah Kekuasaannya Berbatasan Langsung Dengan Kerajaan Pajajaran. Maka Secara Diam-Diam Ia Membentuk Pasukan Khusus Tanpa Identitas Resmi Yang Mampu Bergerak Cepat. Kemampuan Pasukan Banten Dalam Hal Bergerak Cepat Ini Telah Dibuktikannya Sepanjang Abad Ke-18 Dan Merupakan Catatan Khusus Belanda, Terutama Gerakan Pasukan Syekh Yusuf. Menurut Carita Parahiyangan, Pada Masa Pemerintahan Ratu Dewata Ini Terjadi Serangan Mendadak Ke Ibukota Pakuan Dan Musuh "Tambuh Sangkane" [ Tidak Dikenal Asal-Usulnya ].
Ratu Dewata Masih Beruntung Karena Memiliki Para Perwira Yang Pernah Mendampingi Ayahnya Dalam 15 Kali Pertempuran. Sebagai Veteran Perang, Para Perwira Ini Masih Mampu Menghadapi Sergapan Musuh. Di Samping Itu, Ketangguhan Benteng Pakuan Peninggalan Sri Baduga Menyebabkan Serangan Kilat Banten [ Dan Mungkin Dengan Kalapa ] Ini Tidak Mampu Menembus Gerbang Pakuan. Alun-Alun Empang Sekarang Pernah Menjadi Ranamandala [ Medan Pertempuran ] Mempertaruhkan Sisa-Sisa Kebesaran Siliwangi Yang Diwariskan Kepada Cucunya. Penyerang Tidak Berhasil Menembus Pertahanan Kota, Tetapi Dua Orang Senapati Kerajaan Pajajaran Gugur, Yaitu Tohaan Ratu Sangiang Dan Tohaan Sarendet.
Kokohnya Benteng Pakuan Adalah Pertama Merupakan Jasa Banga Yang Pada Tahun 739 Menjadi Raja Di Pakuan Yang Merupakan Bawahan Raja Galuh. Ia Ketika Itu Berusaha Membebaskan Diri Dari Kekuasaaan Manarah Di Galuh. Ia Berhasil Setelah Berjuang Selama 20 Tahun Dan Keberhasilannya Itu Di Awali Dengan Pembuatan Parit Pertahanan Kota. Kemudian Keadaan Pakuan Ini Diperluas Pada Jaman Sri Baduga Seperti Yang Bisa Ditemukan Pada Pustaka Nagara Kretabhuni I/2 Yang Isinya :
"Sang Maharaja Membuat Karya Besar, Yaitu Membangun Telaga Besar Yang Bernama Maharena Wijaya, Membuat Jalan Yang Menuju Ke Ibukota Pakuan Dan Jalan Ke Wanagiri, Memperteguh Kedatuan, Memberikan Desa [ Perdikan ] Kepada Semua Pendeta Dan Pengiringnya Untuk Menggairahkan Kegiatan Agama Yang Menjadi Penuntun Kehidupan Rakyat. Kemudian Membuat Kaputren [ Tempat Isteri-Isteri-Nya ], Kesatrian [ Asrama Prajurit ], Satuan-Satuan Tempat [ Pageralaran ], Tempat-Tempat Hiburan, Memperkuat Angkatan Perang, Memungut Upeti Dari Raja-Raja Bawahan Dan Kepala-Kepala Desa Dan Menyusun Undang-Undang Kerajaan Pajajaran"
Amateguh Kedatwan [ Memperteguh Kedatuan ] Sejalan Dengan Maksud "Membuat Parit" [ Memperteguh Pertahanan ] Pakuan, Bukan Saja Karena Kata Pakuan Mempunyai Arti Pokok Keraton Atau Kedatuan, Melainkan Kata Amateguh Menunjukkan Bahwa Kata Kedatuan Dalam Hal Ini Kota Raja. Jadi Sama Dengan Pakuan Dalam Arti Ibukota.
Selain Hal Di Atas, Juga Lokasi Pakuan Yang Berada Pada Posisi Yang Disebut Lemah Duwur Atau Lemah Luhur [ Dataran Tinggi, Oleh Van Riebeeck Disebut "Bovenvlakte" ]. Pada Posisi Ini, Mereka Tidak Berlindung Di Balik Bukit, Melainkan Berada Di Atas Bukit. Pasir Muara Di Cibungbulang Merupakan Contoh Bagaimana Bukit Rendah Yang Dikelilingi Tiga Batang Sungai Pernah Dijadikan Pemukiman "Lemah Duwur" Sejak Beberapa Ratus Tahun Sebelum Masehi. Lokasi Pakuan Merupakan Lahan Lemah Duwur Yang Satu Sisinya Terbuka Menghadap Ke Arah Gunung Pangrango. Tebing Ciliwung, Cisadane Dan Cipaku Merupakan Pelindung Alamiah. Tipe Lemah Duwur Biasanya Dipilih Sama Masyarakat Dengan Latar Belakang Kebudayaan Huma [ Ladang ]. Kota-Kota Yang Seperti Ini Adalah Bogor, Sukabumi Dan Cianjur.
Kota Seperti Ini Biasanya Dibangun Dengan Konsep Berdasarkan Pengembangan Perkebunan. Tipe Lain Adalah Apa Yang Disebut Garuda Ngupuk. Tipe Seperti Ini Biasanya Dipilih Oleh Masyarakat Dengan Latar Belakang Kebudayaan Sawah. Mereka Menganggap Bahwa Lahan Yang Ideal Untuk Pusat Pemerintahan Adalah Lahan Yang Datar, Luas, Dialiri Sungai Dan Berlindung Di Balik Pegunungan. Kota-Kota Yang Dikembangkan Dengan Corak Ini Misalnya Garut, Bandung Dan Tasikmalaya. Sumedang Memiliki Dua Persyaratan Tipe Ini. Kutamaya Dipilih Oleh Pangeran Santri Menurut Idealisme Pesisir Cirebon Karena Ia Orang Sindangkasih [ Majalengka ] Yang Selalu Hilir Mudik Ke Cirebon. Baru Pada Waktu Kemudian Sumedang Dikukuhkan Dengan Pola Garuda Ngupuk Pada Lokasi Pusat Kota Sumedang Yang Sekarang.
Gagal Merebut Benteng Kota, Pasukan Penyerbu Ini Dengan Cepat Bergerak Ke Utara Dan Menghancurkan Pusat-Pusat Keagamaan Di Sumedeng, Ciranjang Dan Jayagiri Yang Dalam Jaman Sri Baduga Merupakan Desa Kawikuan Yang Dilindungi Oleh Negara. Sikap Ratu Dewata Yang Alim Dan Rajin Bertapa, Menurut Norma Kehidupan Jaman Itu Tidak Tepat Karena Raja Harus "Memerintah Dengan Baik". Tapa-Brata Seperti Yang Dilakukannya Itu Hanya Boleh Dilakukan Setelah Turun Tahta Dan Menempuh Kehidupan Manurajasuniya Seperti Yang Telah Dilakukan Oleh Wastu Kancana. Karena Itulah Ratu Dewata Dicela Oleh Penulis Carita Parahiyangan Dengan Sindiran :
"Nya Iyatna-Yatna Sang Kawuri, Haywa Ta Sira Kabalik Pupuasaan"
[ Maka Berhati-Hatilan Yang Kemudian, Janganlah Engkau Berpura-Pura Rajin Puasa ].
Penulis Kisah Kuno Itu Melihat Bahwa Kealiman Ratu Dewata Itu Disebabkan Karena Ia Tidak Berani Menghadapi Kenyataan. Penulis Kemudian Berkomentar Pendek "Samangkana Ta Precinta" [ Begitulah Jaman Susah ].
Sejarah KERAJAAN PAJAJARAN #Bagian VIII
Raja Kerajaan Pajajaran Keempat Adalah Ratu Sakti [
1543 - 1551 ]. Untuk Mengatasi Keadaan Yang Ditinggalkan Ratu Dewata
Yang Bertindak Serba Alim, Ia Bersikap Keras Bahkan Akhirnya Kejam Dan
Lalim. Dengan Pendek Carita Parahiyangan Melukiskan Raja Ini. Banyak
Rakyat Dihukum Mati Tanpa Diteliti Lebih Dahulu Salah Tidaknya. Harta
Benda Rakyat Dirampas Untuk Kepentingan Keraton Tanpa Rasa Malu Sama
Sekali. Kemudian Raja Ini Melakukan Pelanggaran Yang Sama Dengan Dewa
Niskala Yaitu Mengawini "Estri Larangan Ti Kaluaran" [ Wanita Pengungsi
Yang Sudah Bertunangan ]. Masih Ditambah Lagi Dengan Berbuat Skandal
Terhadap Ibu Tirinya Yaitu Bekas Para Selir Ayahnya. Karena Itu Ia
Diturunkan Dari Tahta Kerajaan. Ia Hanya Beruntung Karena Waktu Itu
Sebagian Besar Pasukan Hasanuddin Dan Fadillah Sedang Membantu Sultan
Trenggana Menyerbu Pasurua Dan Panarukan. Setelah Meninggal, Ratu Sakti
Dipusarakan Di Pengpelengan.
Nilakendra Atau Tohaan Di Majaya Naik Tahta Sebagai Penguasa Kerajaan Pajajaran Yang Kelima [ 1551 - 1567 ]. Pada Saat Itu Situasi Kenegaraan Telah Tidak Menentu Dan Frustasi Telah Melanda Segala Lapisan Masyarakat. Carita Parahiyangan Memberitakan Sikap Petani "Wong Huma Darpa Mamangan, Tan Igar Yan Tan Pepelakan" [ Petani Menjadi Serakah Akan Makanan, Tidak Merasa Senang Bila Tidak Bertanam Sesuatu ]. Ini Merupakan Berita Tidak Langsung, Bahwa Kelaparan Telah Berjangkit. Frustasi Di Lingkungan Kerajaan Lebih Parah Lagi. Ketegangan Yang Mencekam Menghadapi Kemungkinan Serangan Musuh Yang Datang Setiap Saat Telah Mendorong Raja Beserta Para Pembesarnya Memperdalam Aliran Keagamaan Tantra. Aliran Ini Mengutamakan Mantera-Mantera Yang Terus Menerus Diucapkan Sampai Kadang-Kadang Orang Yang Bersangkutan Merasa Bebas Dari Keadaan Di Sekitarnya. Seringkali, Untuk Mempercepat Keadaan Tidak Sadar Itu, Digunakan Minuman Keras Yang Didahului Dengan Pesta Pora Makanan Enak.
"Lawasnya Ratu Kampa Kalayan Pangan, Tatan Agama Gyan Kewaliya Mamangan Sadrasa Nu Surup Ka Sangkan Beuanghar"
[ Karena Terlalu Lama Raja Tergoda Oleh Makanan, Tiada Ilmu Yang Disenanginya Kecuali Perihal Makanan Lezat Yang Layak Dengan Tingkat Kekayaan ].
Selain Itu, Nilakendra Malah Memperindah Keraton, Membangun Taman Dengan Jalur-Jalur Berbatu [ "Dibalay" ] Mengapit Gerbang Larangan. Kemudian Membangun "Rumah Keramat" [ Bale Bobot ] Sebanyak 17 Baris Yang Ditulisi Bermacam-Macam Kisah Dengan Emas. Mengenai Musuh Yang Harus Dihadapinya, Sebagai Penganut Ajaran Tantra Yang Setia, Ia Membuat Sebuah "Bendera Keramat" [ "Ngibuda Sanghiyang Panji" ]. Bendera Inilah Yang Diandalkannya Menolak Musuh. Meskipun Bendera Ini Tak Ada Gunanya Dalam Menghadapi Laskar Banten Karena Mereka Tidak Takut Karenanya. Akhirnya Nasib Nilakendra Dikisahkan "Alah Prangrang, Maka Tan Nitih Ring Kadatwan" [ Kalah Perang, Maka Ia Tidak Tinggal Di Keraton ].
Nilakendra Sejaman Dengan Panembahan Hasanudin Dari Banten Dan Bila Diteliti Isi Buku Sejarah Banten Tentang Serangan Ke Pakuan Yang Ternyata Melibatkan Hasanudin Dengan Puteranya Yusuf, Dapatlah Disimpulkan, Bahwa Yang Tampil Ke Depan Dalam Serangan Itu Adalah Putera Mahkota Yusuf. Peristiwa Kekalahan Nilakendra Ini Terjadi Ketika Susuhunan Jati Masih Hidup [ Ia Baru Wafat Tahun 1568 Dan Fadillah Wafat 2 Tahun Kemudian ]. Sejak Saat Itu Ibukota Pakuan Telah Ditinggalkan Oleh Raja Dan Dibiarkan Nasibnya Berada Pada Penduduk Dan Para Prajurit Yang Ditinggalkan. Namun Ternyata Pakuan Sanggup Bertahan 12 Tahun Lagi.
Raja Kerajaan Pajajaran Yang Terakhir Adalah Nusya Mulya [ Menurut Carita Parahiyangan ] 1567 - 1579. Dalam Naskah-Naskah Wangsakerta Ia Disebut Raga Mulya Alias Prabu Suryakancana. Raja Ini Tidak Berkedudukan Di Pakuan, Tetapi Di Pulasari, Pandeglang. Oleh Karena Itu, Ia Disebut Pucuk Umun [ Panembahan ] Pulasari. Mungkin Raja Ini Berkedudukan Di Kaduhejo, Kecamatan Menes Pada Lereng Gunung Palasari.
Menurut Pustaka Nusantara III/1 Dan Kretabhumi I/2 :
"Kerajaan Pajajaran Sirna Ing Ekadaca Cuklapaksa Weshakamasa Sewu Limang Atus Punjul Siki Ikang Cakakala"
[ Kerajaan Pajajaran Lenyap Pada Tanggal 11 Bagian Terang Bulan Wesaka Tahun 1501 Saka ]. Kira-Kira Jatuh Pada Tanggal 8 Mei 1579 M.
Sejarah Banten Memberitakan Keberangkatan Pasukan Banten Ketika Akan Melakukan Penyerangan Ke Pakuan Dalam Pupuh Kinanti :
"Waktu Keberangkatan Itu Terjadi Bulan Muharam Tepat Pada Awal Bulan Hari Ahad Tahun Alif Inilah Tahun Sakanya Satu Lima Kosong Satu".
Walaupun Tahun Alief Baru Digunakan Oleh Sultan Agung Mataram Dalam Tahun 1633 M, Namun Dengan Perhitungan Mundur, Tahun Kejatuhan Pakuan 1579 Itu Memang Akan Jatuh Pada Tahun Alif. Yang Keliru Hanyalah Hari, Sebab Dalam Periode Itu, Tanggal Satu Muharam Tahun Alif Akan Jatuh Pada Hari Sabtu.
Yang Penting Dari Naskah Banten Tersebut Adalah Memberitakan, Bahwa Benteng Kota Pakuan Baru Dapat Dibobol Setelah Terjadi "Penghianatan". Komandan Kawal Benteng Pakuan Merasa Sakit Hati Karena "Tidak Memperoleh Kenaikan Pangkat". Ia Adalah Saudara Ki Jongjo, Seorang Kepercayaan Panembahan Yusuf. Tengah Malam, Ki Jongjo Bersama Pasukan Khusus Menyelinap Ke Dalam Kota Setelah Pintu Benteng Terlebih Dahulu Dibukakan Saudaranya Itu. Kisah Itu Mungkin Benar Mungkin Tidak. Yang Jelas Justeru Menggambarkan Betapa Tangguhnya Benteng Pakuan Yang Dibuat Siliwangi. Setelah Ditinggalkan Oleh Raja Selama 12 Tahun, Pasukan Banten Masih Terpaksa Menggunakan Cara Halus Untuk Menembusnya. Dan Berakhirlah Jaman Kerajaan Pajajaran [ 1482 - 1579 ].
Itu Ditandai Dengan Diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana, Tempat Duduk Kala Seorang Raja Dinobatkan, Dari Pakuan Ke Surasowan Di Banten Oleh Pasukan Maulana Yusuf. Batu Berukuran 200 X 160 X 20 Cm Itu Terpaksa Di Boyong Ke Banten Karena Tradisi Politik Waktu Itu "Mengharuskan" Demikian. Pertama, Dengan Dirampasnya Palangka Tersebut, Di Pakuan Tidak Mungkin Lagi Dinobatkan Raja Baru. Kedua, Dengan Memiliki Palangka Itu, Maulana Yusuf Merupakan Penerus Kekuasaan Kerajaan Pajajaran Yang "Sah" Karena Buyut Perempuannya Adalah Puteri Sri Baduga Maharaja.
Dalam Carita Parahiyangan Diberitakan Sebagai Berikut:
"Sang Susuktunggal Inyana Nu Nyieuna Palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji Di Pakwan Kerajaan Pajajaran Nu Mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, Inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata"
[ Sang Susuktunggal Ialah Yang Membuat Tahta Sriman Sriwacana [ Untuk ] Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa Di Pakuan Kerajaan Pajajaran Yang Bersemayam Di Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati Yaitu Istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata ].
Kata Palangka Secara Umum Berarti Tempat Duduk [ Pangcalikan ]. Bagi Raja Berarti Tahta. Dalam Hal Ini Adalah Tahta Penobatanya itu Tempat Duduk Khusus Yang Hanya Digunakan Pada Upacara Penobatan. Di Atas Palangka Itulah Si [ Calon ] Raja Diberkati [ Diwastu ] Oleh Pendeta Tertinggi. Tempatnya Berada Di Kabuyutan Kerajaan, Tidak Di Dalam Istana. Sesuai Dengan Tradisi, Tahta Itu Terbuat Dari Batu Dan Digosok Halus Mengkilap. Batu Tahta Seperti Ini Oleh Penduduk Biasanya Disebut Batu Pangcalikan Atau Batu Ranjang [ Bila Kebetulan Dilengkapi Dengan Kaki Seperti Balai-Balai Biasa ]. Batu Pangcalikan Bisa Ditemukan, Misalnya Di Makam Kuno Dekat Situ Sangiang Di Desa Cibalanarik, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya Dan Di Karang Kamulyan Bekas Pusat Kerajaan Galuh Di Ciamis. Sementara Batu Ranjang Dengan Kaki Berukir Dapat Ditemukan Di Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang [ Pada Petakan Sawah Yang Terjepit Pohon ]. Palangka Sriman Sriwacana Sendiri Saat Ini Bisa Ditemukan Di Depan Bekas Keraton Surasowan Di Banten. Karena Mengkilap, Orang Banten Menyebutnya Watu Gigilang. Kata Gigilang Berarti Mengkilap Atau Berseri, Sama Artinya Dengan Kata Sriman.
Nilakendra Atau Tohaan Di Majaya Naik Tahta Sebagai Penguasa Kerajaan Pajajaran Yang Kelima [ 1551 - 1567 ]. Pada Saat Itu Situasi Kenegaraan Telah Tidak Menentu Dan Frustasi Telah Melanda Segala Lapisan Masyarakat. Carita Parahiyangan Memberitakan Sikap Petani "Wong Huma Darpa Mamangan, Tan Igar Yan Tan Pepelakan" [ Petani Menjadi Serakah Akan Makanan, Tidak Merasa Senang Bila Tidak Bertanam Sesuatu ]. Ini Merupakan Berita Tidak Langsung, Bahwa Kelaparan Telah Berjangkit. Frustasi Di Lingkungan Kerajaan Lebih Parah Lagi. Ketegangan Yang Mencekam Menghadapi Kemungkinan Serangan Musuh Yang Datang Setiap Saat Telah Mendorong Raja Beserta Para Pembesarnya Memperdalam Aliran Keagamaan Tantra. Aliran Ini Mengutamakan Mantera-Mantera Yang Terus Menerus Diucapkan Sampai Kadang-Kadang Orang Yang Bersangkutan Merasa Bebas Dari Keadaan Di Sekitarnya. Seringkali, Untuk Mempercepat Keadaan Tidak Sadar Itu, Digunakan Minuman Keras Yang Didahului Dengan Pesta Pora Makanan Enak.
"Lawasnya Ratu Kampa Kalayan Pangan, Tatan Agama Gyan Kewaliya Mamangan Sadrasa Nu Surup Ka Sangkan Beuanghar"
[ Karena Terlalu Lama Raja Tergoda Oleh Makanan, Tiada Ilmu Yang Disenanginya Kecuali Perihal Makanan Lezat Yang Layak Dengan Tingkat Kekayaan ].
Selain Itu, Nilakendra Malah Memperindah Keraton, Membangun Taman Dengan Jalur-Jalur Berbatu [ "Dibalay" ] Mengapit Gerbang Larangan. Kemudian Membangun "Rumah Keramat" [ Bale Bobot ] Sebanyak 17 Baris Yang Ditulisi Bermacam-Macam Kisah Dengan Emas. Mengenai Musuh Yang Harus Dihadapinya, Sebagai Penganut Ajaran Tantra Yang Setia, Ia Membuat Sebuah "Bendera Keramat" [ "Ngibuda Sanghiyang Panji" ]. Bendera Inilah Yang Diandalkannya Menolak Musuh. Meskipun Bendera Ini Tak Ada Gunanya Dalam Menghadapi Laskar Banten Karena Mereka Tidak Takut Karenanya. Akhirnya Nasib Nilakendra Dikisahkan "Alah Prangrang, Maka Tan Nitih Ring Kadatwan" [ Kalah Perang, Maka Ia Tidak Tinggal Di Keraton ].
Nilakendra Sejaman Dengan Panembahan Hasanudin Dari Banten Dan Bila Diteliti Isi Buku Sejarah Banten Tentang Serangan Ke Pakuan Yang Ternyata Melibatkan Hasanudin Dengan Puteranya Yusuf, Dapatlah Disimpulkan, Bahwa Yang Tampil Ke Depan Dalam Serangan Itu Adalah Putera Mahkota Yusuf. Peristiwa Kekalahan Nilakendra Ini Terjadi Ketika Susuhunan Jati Masih Hidup [ Ia Baru Wafat Tahun 1568 Dan Fadillah Wafat 2 Tahun Kemudian ]. Sejak Saat Itu Ibukota Pakuan Telah Ditinggalkan Oleh Raja Dan Dibiarkan Nasibnya Berada Pada Penduduk Dan Para Prajurit Yang Ditinggalkan. Namun Ternyata Pakuan Sanggup Bertahan 12 Tahun Lagi.
Raja Kerajaan Pajajaran Yang Terakhir Adalah Nusya Mulya [ Menurut Carita Parahiyangan ] 1567 - 1579. Dalam Naskah-Naskah Wangsakerta Ia Disebut Raga Mulya Alias Prabu Suryakancana. Raja Ini Tidak Berkedudukan Di Pakuan, Tetapi Di Pulasari, Pandeglang. Oleh Karena Itu, Ia Disebut Pucuk Umun [ Panembahan ] Pulasari. Mungkin Raja Ini Berkedudukan Di Kaduhejo, Kecamatan Menes Pada Lereng Gunung Palasari.
Menurut Pustaka Nusantara III/1 Dan Kretabhumi I/2 :
"Kerajaan Pajajaran Sirna Ing Ekadaca Cuklapaksa Weshakamasa Sewu Limang Atus Punjul Siki Ikang Cakakala"
[ Kerajaan Pajajaran Lenyap Pada Tanggal 11 Bagian Terang Bulan Wesaka Tahun 1501 Saka ]. Kira-Kira Jatuh Pada Tanggal 8 Mei 1579 M.
Sejarah Banten Memberitakan Keberangkatan Pasukan Banten Ketika Akan Melakukan Penyerangan Ke Pakuan Dalam Pupuh Kinanti :
"Waktu Keberangkatan Itu Terjadi Bulan Muharam Tepat Pada Awal Bulan Hari Ahad Tahun Alif Inilah Tahun Sakanya Satu Lima Kosong Satu".
Walaupun Tahun Alief Baru Digunakan Oleh Sultan Agung Mataram Dalam Tahun 1633 M, Namun Dengan Perhitungan Mundur, Tahun Kejatuhan Pakuan 1579 Itu Memang Akan Jatuh Pada Tahun Alif. Yang Keliru Hanyalah Hari, Sebab Dalam Periode Itu, Tanggal Satu Muharam Tahun Alif Akan Jatuh Pada Hari Sabtu.
Yang Penting Dari Naskah Banten Tersebut Adalah Memberitakan, Bahwa Benteng Kota Pakuan Baru Dapat Dibobol Setelah Terjadi "Penghianatan". Komandan Kawal Benteng Pakuan Merasa Sakit Hati Karena "Tidak Memperoleh Kenaikan Pangkat". Ia Adalah Saudara Ki Jongjo, Seorang Kepercayaan Panembahan Yusuf. Tengah Malam, Ki Jongjo Bersama Pasukan Khusus Menyelinap Ke Dalam Kota Setelah Pintu Benteng Terlebih Dahulu Dibukakan Saudaranya Itu. Kisah Itu Mungkin Benar Mungkin Tidak. Yang Jelas Justeru Menggambarkan Betapa Tangguhnya Benteng Pakuan Yang Dibuat Siliwangi. Setelah Ditinggalkan Oleh Raja Selama 12 Tahun, Pasukan Banten Masih Terpaksa Menggunakan Cara Halus Untuk Menembusnya. Dan Berakhirlah Jaman Kerajaan Pajajaran [ 1482 - 1579 ].
Itu Ditandai Dengan Diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana, Tempat Duduk Kala Seorang Raja Dinobatkan, Dari Pakuan Ke Surasowan Di Banten Oleh Pasukan Maulana Yusuf. Batu Berukuran 200 X 160 X 20 Cm Itu Terpaksa Di Boyong Ke Banten Karena Tradisi Politik Waktu Itu "Mengharuskan" Demikian. Pertama, Dengan Dirampasnya Palangka Tersebut, Di Pakuan Tidak Mungkin Lagi Dinobatkan Raja Baru. Kedua, Dengan Memiliki Palangka Itu, Maulana Yusuf Merupakan Penerus Kekuasaan Kerajaan Pajajaran Yang "Sah" Karena Buyut Perempuannya Adalah Puteri Sri Baduga Maharaja.
Dalam Carita Parahiyangan Diberitakan Sebagai Berikut:
"Sang Susuktunggal Inyana Nu Nyieuna Palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji Di Pakwan Kerajaan Pajajaran Nu Mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, Inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata"
[ Sang Susuktunggal Ialah Yang Membuat Tahta Sriman Sriwacana [ Untuk ] Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa Di Pakuan Kerajaan Pajajaran Yang Bersemayam Di Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati Yaitu Istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata ].
Kata Palangka Secara Umum Berarti Tempat Duduk [ Pangcalikan ]. Bagi Raja Berarti Tahta. Dalam Hal Ini Adalah Tahta Penobatanya itu Tempat Duduk Khusus Yang Hanya Digunakan Pada Upacara Penobatan. Di Atas Palangka Itulah Si [ Calon ] Raja Diberkati [ Diwastu ] Oleh Pendeta Tertinggi. Tempatnya Berada Di Kabuyutan Kerajaan, Tidak Di Dalam Istana. Sesuai Dengan Tradisi, Tahta Itu Terbuat Dari Batu Dan Digosok Halus Mengkilap. Batu Tahta Seperti Ini Oleh Penduduk Biasanya Disebut Batu Pangcalikan Atau Batu Ranjang [ Bila Kebetulan Dilengkapi Dengan Kaki Seperti Balai-Balai Biasa ]. Batu Pangcalikan Bisa Ditemukan, Misalnya Di Makam Kuno Dekat Situ Sangiang Di Desa Cibalanarik, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya Dan Di Karang Kamulyan Bekas Pusat Kerajaan Galuh Di Ciamis. Sementara Batu Ranjang Dengan Kaki Berukir Dapat Ditemukan Di Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang [ Pada Petakan Sawah Yang Terjepit Pohon ]. Palangka Sriman Sriwacana Sendiri Saat Ini Bisa Ditemukan Di Depan Bekas Keraton Surasowan Di Banten. Karena Mengkilap, Orang Banten Menyebutnya Watu Gigilang. Kata Gigilang Berarti Mengkilap Atau Berseri, Sama Artinya Dengan Kata Sriman.
Kian Santang, Cakrabuana dan Syarif Hidayatullah
Berdasarkan sumber sejarah lokal (seperti Babad Cireboni) bahwa Kisah Cerita Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kian Santang
merupakan tiga tokoh utama penyebar Islam di seluruh tanah Pasundan.
Ketiganya merupakan keturunan Prabu Sliliwangi (Prabu Jaya Dewata atau
Sribaduga Maha Raja) raja terakhir Pajajaran (Gabungan antara Galuh dan
Sunda). Hubungan keluarga ketiga tokoh tersebut sangatlah dekat.
Cakrabuana dan Kian Santang merupakan adik-kakak. Sedangkan, Syarif
Hidayatullah merupakan keponakan dari Cakrabuana dan Kian Santang.
Syarif Hidayatullah sendiri merupakan anak Nyai Ratu Mas Lara Santang,
sang adik Cakrabuana dan kakak perempuan Kian Santang.
Cakrabuana
(atau nama lain Walangsungsang), Lara Santang, dan Kian Santang
merupakan anak Prabu Siliwangi dan hasil perkawinannya dengan Nyai
Subang Larang, seorang puteri Ki Gede Tapa, penguasa Syah Bandar
Karawang. Peristiwa pernikahannya terjadi ketika Prabu Siliwangi belum
menjadi raja Pajajaran; ia masih bergelar Prabu Jaya Dewata atau
Manahrasa dan hanya menjadi raja bawahan di wilayah Sindangkasih
(Majalengka), yaitu salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Galuh
Surawisesa (kawali-Ciamis) yang diperintah oleh ayahnya Prabu Dewa
Niskala. Sedangkan kerajaan Sunda-Surawisesa (Pakuan/Bogor) masih
dipegang oleh kakak ayahnya (ua: Sunda) Prabu Susuk Tunggal.
Sebelum menjadi isteri (permaisuri) Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang telah memeluk Islam dan menjadi santri (murid) Syeikh Hasanuddin atau Syeikh Quro.
Ia adalah putera Syeikh Yusuf Siddiq, ulama terkenal di negeri Champa
(sekarang menjadi bagian dari Vietnam bagian Selatan). Syeikh Hasanuddin
datang ke pulau Jawa (Karawang) bersama armada ekspedisi Muhammad Cheng
Ho (Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong) dari dinasti Ming pada tahun 1405 M.
Di karawang ia mendirikan pesantren yang diberi nama Pondok Quro. Oleh
karena itu ia mendapat gelar (laqab) Syeikh Qura. Ajaran yang dikembangkan oleh Syeikh Qura adalah ajaran Islam Madzhab Hanafiah.
Pondok
Quro yang didirikan oleh Syeikh Hasanuddin tersebut merupakan lembaga
pendidikan Islam (pesantren) pertama di tanah Pasundan. Kemudian setelah
itu muncul pondok pesantren di Amparan Jati daerah Gunung Jati (Syeikh
Nurul Jati). Setelah Syeikh Nurul Jati meninggal dunia, pondok pesantren
Amparan Jati dipimpin oleh Syeikh Datuk Kahfi atau Syeikh Idhopi,
seorang ulama asal Arab yang mengembangkan ajaran Islam madzhab
Syafi’iyyah.
Sepeninggal Syeikh
Hasanuddin, penyebaran Islam melalui lembaga pesantren terus dilanjutkan
oleh anak keturunannya, di antaranya adalah Musanuddin atau Lebe Musa
atau Lebe Usa, cicitnya. Dalam sumber lisan, Musanuddin dikenal dengan
nama Syeikh Benthong, salah seorang yang termasuk kelompok wali di pulau
Jawa (Yuyus Suherman, 1995:13-14).
Dengan
latar belakang kehidupan keberagamaan ibunya seperti itulah, maka
Cakrabuana yang pada waktu itu bernama Walangsungsang dan adiknya Nyai
Lara Santang memiliki niat untuk menganut agama ibunya daripada agama
ayahnya (Sanghiyang) dan keduanya harus mengambil pilihan untuk tidak
tetap tinggal di lingkungan istana. Dalam cerita Babad Cirebon dikisahkan
bahwa Cakrabuana (Walangsungsang) dan Nyai Lara Santang pernah meminta
izin kepada ayahnya, Prabu Jaya Dewata, yang pada saat itu masih menjadi
raja bawahan di Sindangkasih untuk memeluk Islam. Akan tetapi, Jaya
Dewata tidak mengijinkannya. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara
Santang akhirnya meninggalkan istana untuk berguru menimba pengetahuan
Islam. Selama berkelana mencari ilmu pengetahuan Islam, Walangsungsang
menggunakan nama samaran yaitu Ki Samadullah. Mula-mula ia berguru
kepada Syeikh Nurjati di pesisir laut utara Cirebon. Setelah itu ia
bersama adiknya, Nyai Mas Lara Santang berguru kepada Syeikh Datuk Kahfi
(Syeikh Idhopi).
Selain berguru agama Islam,
Walangsungsang bersama Ki Gedeng Alang Alang membuka pemukinan baru
bagi orang-orang yang beragama Islam di daerah pesisir. Pemukiman baru
itu dimulai tanggal 14 Kresna Paksa bukan Caitra tahun 1367 Saka atau
bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 849 Hijrah (8 April 1445 M).
Kemudian daerah pemukiman baru itu diberi nama Cirebon (Yuyus Suherman,
1995:14). Penamaan ini diambil dari kata atau bahasa Sunda, dari kata
“cai” (air) dan “rebon” (anak udang, udang kecil, hurang).
Memang pada waktu itu salah satu mata pencaharian penduduk pemukiman
baru itu adalah menangkap udang kecil untuk dijadikan bahan terasi.
Sebagai kepada (kuwu; Sunda) pemukiman baru itu adalah Ki
Gedeng Alang Alang, sedangkan wakilnya dipegang oleh Walangsungsang
dengan gelar Pangeran Cakrabuana atau Cakrabumi.
Setelah
beberapa tahun semenjak dibuka, pemukian baru itu (pesisir Cirebon)
telah menjadi kawasan paling ramai dikunjungi oleh berbagai suku bangsa.
Tahun 1447 M, jumlah penduduk pesisir Cirebon berjumlah 348 jiwa,
terdiri dari 182 laki-laki dan 164 wanita. Sunda sebanyak 196 orang,
Jawa 106 orang, Andalas 16 orang, Semenanjung 4 orang, India 2 orang,
Persia 2 orang, Syam (Damaskus) 3 orang, Arab 11 orang, dan Cina 6
orang. Agama yang dianut seluruh penduduk pesisir Cirebon ini adalah
Islam.
Untuk kepentingan ibadah dan
pengajaran agama Islam, pangeran Cakrabuana (Walangsungsang atau
Cakrabumi, atau Ki Samadullah) kemudian ia mendirikan sebuah masjid yang
diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (Jala artinya air; grahaartinya
rumah), Mesjid ini merupakan mesjid pertama di tatar Sunda dan
didirikan di pesisir laut Cirebon. Mesjid ini sampai saat ini masih
terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi mesjid Pejalagrahan. Sudah tentu perubahan nama ini, pada dasarnya berpengaruh pada reduksitas makna historisnya. Setelah mendirikan pemukiman (padukuhan;
Sunda) baru di pesisir Cirebon, pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara
Santang pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang
kelima. Ketika di Mekah, Pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang
bertemu dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa (sultan) kota Mesir
pada waktu itu. Syarif Abdullah sendiri, secara geneologis, merupakan
keturunan Nabi Muhammad Saw. generasi ke-17.
Dalam
pertemuan itu, Syarif Abdullah merasa tertarik hati atas kecantikan dan
keelokan Nyai Mas Lara Santang. Setelah selesai menunaikan ibadah haji,
Pangeran Cakrabuana mendapat gelar Haji Abdullah Iman, dan Nyai Mas
Lara Santang mendapat gelar Hajjah Syarifah Muda’im. Selanjutnya, Nyai
Mas Larasantang dinikahkan oleh Pangeran Cakrabuana dengan Syarif
Abdullah. Di Mekah, Pangeran Walangsungsang menjadi mukimin selama tiga
bulan. Selama tiga bulan itulah, ia belajar tasawuf kepada haji
Bayanullah, seorang ulama yang sudah lama tinggal di Haramain.
Selanjutnya ia pergi ke Baghdad mempelajari fiqh madzhab Hanafi,
Syafi’i, Hambali, dan Maliki.
Selang
beberapa waktu setelah pengeran Cakrabuana kembali ke Cirebon, kakeknya
dari pihak ibu yang bernama Mangkubumi Jumajan Jati atau Ki Gedeng Tapa
meninggal dunia di Singapura (Mertasinga). Yang menjadi pewaris tahta
kakeknya itu adalah pangeran Cakrabuana. Akan tetapi, Pangeran
Cakrabuana tidak meneruskan tahta kekuasaan kakeknya di Singapura
(Mertasinga). Ia membawa harta warisannya ke pemukiman pesisir Cirebon.
Dengan modal harta warisan tersebut, pangeran Cakrabuana membangun
sebuah keraton bercorak Islam di Cirebon Pesisir. Keraton tersebut
diberi nama Keraton Pakungwati. Dengan berdirinya Keraton Pakungwati berarti
berdirilah sebuah kerajaan Islam pertama di tatar Sunda Pajajaran.
Kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana tersebut
diberi namaNagara Agung Pakungwati Cirebon atau dalam bahasa Cirebon disebut dengan sebutan Nagara Gheng Pakungwati Cirebon.
Mendengar
berdirinya kerajaan baru di Cirebon, ayahnya Sri Baduga Maharaja Jaya
Dewata (atau Prabu Suliwangi) merasa senang. Kemudian ia mengutus
Tumenggung Jayabaya untuk melantik (ngistrénan; Sunda) pangeran Cakrabuana menjadi raja Nagara Agung Pakungwati Cirebon dengan gelar Abhiseka Sri Magana.Dari Prabu Siliwangi ia juga menerima Pratanda atau gelar keprabuan (kalungguhan kaprabuan) dan menerima Anarimakna Kacawartyan atau
tanda kekuasaan untuk memerintah kerajaan lokal. Di sini jelaslah bahwa
Prabu Siliwangi tidak anti Islam. Ia justeru bersikap rasika dharmika ring pamekul agami Rasul (adil bijaksana terhadap orang yang memeluk agama Rasul Muhammad).
Berdasarkan
uraian di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang pertama
sukses menyebarkan agama Islam di tatar Sunda adalah Pangeran Cakrabuana
atau Walangsungsang atau Ki Samadullah atau Haji Abdullah Iman. Ia
merupakan Kakak Nyai Mas Lara Santang dan Kian Santang, dan ketiganya merupakan anak-anak dari Prabu Siliwangi. Dengan demikian, ia merupakan paman (ua;
Sunda) dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Ia dimakamkan di
Gunung Sembung dan makamnya berada luar komplek pemakaman (panyawéran; Sunda) Sunan Gunung Jati.
Demikianlah menyajikan Kisah Cerita Kian Santang, Cakrabuana dan Syarif Hidayatullah. Semoga
para pembaca sekalian bisa mencari hikmah dari kisah cerita ini dan
menjadikan hidup kita ini penuh dengan kebermaknaan hidup. Salam pecinta cerita rakyat
Kamis, 31 Maret 2011
Bubuka
Bismillahi Dzat nu Nyipta tur ngabuka babak lampah jagat raya Nu jadi ka-RUH-an Sarining Haya.
Sumujud nyungkur ka Papayung ti Hiung Agung nu Tunggal ngajadikeun rupaning nu Manunggal.Laaillaha illalloh Muhammaddarrosulloh.Kalayan Kasalametan ka Jungjunan Alam, Khalifatulloh Nu jadi ka-RUH-un Sarining Sukma.Sinembahing mulya ka Indung rawuh ka Bapa, tur Tatar Adat Nusa nu jadi cukang lantaran kapanga-RUH-an Sarining Kuring ngajirim jatidiri.Kalayan hormat ka para Luluhur Sunda nu nancebkeun Sulur Buah Pikiran Luhung, nu jadi Pamancar, Pamancir jeung Pamancur Palasifah Sunda
Babak carita urang buka ku tekad tata jeung cara Sunda NINDAK ngudag WAYAH : Bral urang Milampah MARTABAT Kamanusaan Sunda.Prak urang Makalangan DARAJAT Kahirupan Sunda.Prung urang Ngawangun KALUHUNGAN Adat Budaya Sunda.
Hurung ngempur Lampu Agung – Siang Leumpang Ngabaladah…Ku Rasa nu Ngabasa. Ku Basa nu Mangrupa. Ku Rupa nu Ngaungkara. Ku Ungkara nu Nanggara.Ku Tanggara nu Ngauga. Ku Uga nu Ngawaruga.
Tujuh Rupa Ungkara nyipuh ngahirupan Dalapan Belas Rupa Puraga Talahawa jadi konci pikeun muka rusiah sabundering jagat.Pangjangka nu ngajarak saban arah – ngajadikeun KARAMAH. Pamatri nu ngajirim kana diri – ngajadikeun KARIMAH. Panglawung ngagabung sabale gandrung – ngajadikeun KARUMAH.Pangleber nu meber ka sekeseler – ngajadikeun KAREMAH.Pangjero nu ngawaro ka panggero – ngajadikeun KAROMAH.Panggeter nu meper – ngajadikeun KAREMAH.Pangangkleung nu cukleuk leuweung – ngajadikeun KEREUMAH.
Basa nu hirup dina Rasa – Nga Uga KANYATAAN.Basa nu hirup jadi Wasa – Nga Waruga KALAMPAHAN.
Indung nu jadi simbul Panyipuh :Kembang tujuh rupa nu baris mere tangara seungitna Jati Sunda.Cai sajeroning kalapa nu baris matri ngadiri kana Sukma Jati Sunda.Gelarhirhing ” BABAR SUNDA – DINA UGA – NGAWARUGA “.
Bral muka jalan tatapakan Manusa Sunda ti Nusantara rek ngalanglang Jagat, Poma tong ngahalangan bisi Katulah.Kuring rek ngalengkeh ti Wewengkon Siliwangi mere beja nu TEGES – ECES – BENTES :SUNDA MAPAG UGA, Nyukcruk Kaluhungan Indung.SUNDA NANJEUR, Parahyangan Beuneur.SUNDA MEGAR, Pajajaran Medar.SUNDA SURTI, Siliwangi Walagri.SUNDA NINDAK, Buana Robah Jadi Alam Panyundaan.Sunda Indung Sagala Manusa. Bral…! Prak…! Prung…!
Sumujud nyungkur ka Papayung ti Hiung Agung nu Tunggal ngajadikeun rupaning nu Manunggal.Laaillaha illalloh Muhammaddarrosulloh.Kalayan Kasalametan ka Jungjunan Alam, Khalifatulloh Nu jadi ka-RUH-un Sarining Sukma.Sinembahing mulya ka Indung rawuh ka Bapa, tur Tatar Adat Nusa nu jadi cukang lantaran kapanga-RUH-an Sarining Kuring ngajirim jatidiri.Kalayan hormat ka para Luluhur Sunda nu nancebkeun Sulur Buah Pikiran Luhung, nu jadi Pamancar, Pamancir jeung Pamancur Palasifah Sunda
Babak carita urang buka ku tekad tata jeung cara Sunda NINDAK ngudag WAYAH : Bral urang Milampah MARTABAT Kamanusaan Sunda.Prak urang Makalangan DARAJAT Kahirupan Sunda.Prung urang Ngawangun KALUHUNGAN Adat Budaya Sunda.
Hurung ngempur Lampu Agung – Siang Leumpang Ngabaladah…Ku Rasa nu Ngabasa. Ku Basa nu Mangrupa. Ku Rupa nu Ngaungkara. Ku Ungkara nu Nanggara.Ku Tanggara nu Ngauga. Ku Uga nu Ngawaruga.
Tujuh Rupa Ungkara nyipuh ngahirupan Dalapan Belas Rupa Puraga Talahawa jadi konci pikeun muka rusiah sabundering jagat.Pangjangka nu ngajarak saban arah – ngajadikeun KARAMAH. Pamatri nu ngajirim kana diri – ngajadikeun KARIMAH. Panglawung ngagabung sabale gandrung – ngajadikeun KARUMAH.Pangleber nu meber ka sekeseler – ngajadikeun KAREMAH.Pangjero nu ngawaro ka panggero – ngajadikeun KAROMAH.Panggeter nu meper – ngajadikeun KAREMAH.Pangangkleung nu cukleuk leuweung – ngajadikeun KEREUMAH.
Basa nu hirup dina Rasa – Nga Uga KANYATAAN.Basa nu hirup jadi Wasa – Nga Waruga KALAMPAHAN.
Indung nu jadi simbul Panyipuh :Kembang tujuh rupa nu baris mere tangara seungitna Jati Sunda.Cai sajeroning kalapa nu baris matri ngadiri kana Sukma Jati Sunda.Gelarhirhing ” BABAR SUNDA – DINA UGA – NGAWARUGA “.
Bral muka jalan tatapakan Manusa Sunda ti Nusantara rek ngalanglang Jagat, Poma tong ngahalangan bisi Katulah.Kuring rek ngalengkeh ti Wewengkon Siliwangi mere beja nu TEGES – ECES – BENTES :SUNDA MAPAG UGA, Nyukcruk Kaluhungan Indung.SUNDA NANJEUR, Parahyangan Beuneur.SUNDA MEGAR, Pajajaran Medar.SUNDA SURTI, Siliwangi Walagri.SUNDA NINDAK, Buana Robah Jadi Alam Panyundaan.Sunda Indung Sagala Manusa. Bral…! Prak…! Prung…!
Sabtu, 12 Maret 2011
Gunung Sawal
Batara Tresnajati
Batara Tesnajati adalah tokoh pendiri Kabataraan Gunung Sawal, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Layah. Petilasan Batara Tesnajati terdapat di Karantenan Gunung Sawal.Batara Layah
Batara Layah menggantikan ayahnya sebagai Batara di Karantenan Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Karimun Putih.Batara Karimun Putih
Ia menggantikan ayahnya menjadi Batara di Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Prabu Sanghyang Rangga Gumilang atau Sanghyang Rangga Sakti. Petilasan Batara Karimun Putih terletak di Pasir Kaputihan Gunung Sawal.Prabu Sanghyang Rangga Gumilang
Prabu Sanghyang Rangga Gumilang naik tahta sebagai Raja Panjalu, sejak saat itu periode kebataraan di Panjalu berakhir. Ia membangun kaprabon di Dayeuhluhur, Maparah dan menikahi seorang puteri dari Galuh bernama Ratu Permanadewi, dari pernikahannya itu sang Prabu mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Rangga Lembu Sampulur I. Sanghyang Rangga Gumilang terletak di Cipanjalu.Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I
Sanghyang Lembu Sampulur I naik tahta sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Cakradewa.Prabu Sanghyang Cakradewa
Sanghyang Cakradewa memperisteri seorang puteri Galuh bernama Ratu Sari Kidang Pananjung dan mempunyai enam orang anak yaitu: 1) Sanghyang Lembu Sampulur II, 2) Sanghyang Borosngora, 3) Sanghyang Panji Barani, 4) Sanghyang Anggarunting, 5) Ratu Mamprang Kancana, dan 6) Ratu Pundut Agung (diperisteri Maharaja Sunda). Petilasan Prabu Sanghyang Cakradewa taerdapat di Cipanjalu.Menurut kisah dalam Babad Panjalu, Prabu Sanghyang Cakradewa adalah seorang raja yang adil dan bijaksana, di bawah pimpinannya Panjalu menjadi sebuah kerajaan yang makmur dan disegani. Suatu ketika sang raja menyampaikan keinginannya di hari tua nanti untuk meninggalkan singgasana dan menjadi Resi atau petapa (lengser kaprabon ngadeg pendita). Untuk itu sang prabu mengangkat putera tertuanya Sanghyang Lembu Sampulur II menjadi putera mahkota, sedangkan putera keduanya yaitu Sanghyang Borosngora dipersiapkan untuk menjadi Patih dan Senapati Kerajaan (panglima perang). Oleh karena itu Sanghyang Borosngora pergi berkelana, berguru kepada para brahmana, petapa dan wiku sakti di seluruh penjuru tanah Jawa untuk mendapatkan berbagai ilmu kesaktian dan ilmu olah perang.
Beberapa tahun kemudian sang pangeran pulang dari pengembaraannya dan disambut dengan upacara penyambutan yang sangat meriah di kaprabon Dayeuhluhur, Prabu Sanghyang Cakradewa sangat terharu menyambut kedatangan puteranya yang telah pergi sekian lama tersebut. Dalam suatu acara, sang prabu meminta kepada Sanghyang Borosngora untuk mengatraksikan kehebatannya dalam olah perang dengan bermain adu pedang melawan Sanghyang Lembu Sampulur II dihadapan para pejabat istana dan para hadirin. Ketika kedua pangeran itu tengah mengadu kehebatan ilmu pedang itu, tak sengaja kain yang menutupi betis Sanghyang Borosngora tersingkap dan tampaklah sebentuk rajah (tatto) yang menandakan pemiliknya menganut ilmu kesaktian aliran hitam.
Prabu Sanghyang Cakradewa sangat kecewa mendapati kenyataan tersebut, karena ilmu itu tidak sesuai dengan Anggon-anggon Kapanjaluan (falsafah hidup orang Panjalu) yaitu mangan kerana halal, pake kerana suci, tekad-ucap-lampah sabhenere dan Panjalu tunggul rahayu, tangkal waluya. Sang Prabu segera memerintahkan Sanghyang Borosngora untuk membuang ilmu terlarang itu dan segera mencari "Ilmu Sajati" yaitu ilmu yang benar, ilmu yang suci, ilmu yang lurus, ilmu yang menuntun kepada jalan keselamatan. Sebagai indikator apakah Sanghyang Borosngora telah menguasai ilmu sajati atau belum, maka sang prabu membekalinya sebuah gayung batok kelapa yang dasarnya diberi lubang-lubang sehingga tidak bisa menampung cidukan air. Apabila sang pangeran telah menguasai ilmu sajati, maka ia bisa menciduk air dengan gayung berlubang-lubang tersebut.
Untuk kedua kalinya Sanghyang Borosngora pergi meninggalkan kaprabon, dan kali ini ia berjalan tak tentu arah karena tidak tahu kemana harus mencari ilmu yang dimaksudkan oleh ayahnya itu. Letih berjalan tak tentu arah akhirnya ia duduk bersemadi, mengheningkan cipta, memohon kepada Sanghyang Tunggal agar diberikan petunjuk untuk mendapatkan Ilmu Sajati. Sekian lama bersemadi akhirnya ia mendapat petunjuk bahwa pemilik ilmu yang dicarinya itu ada di seberang lautan, yaitu di tanah suci Mekah, Jazirah Arab. Dengan ilmu kesaktiannya Sanghyang Borosngora tiba di Mekah dalam sekejap mata.
Di Mekah itu Sanghyang Borosngora bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya agar dapat bertemu dengan seseorang yang mewarisi Ilmu Sajati yang dimaksud. Orang-orang yang tidak mengerti maksud sang pangeran menunjukkan agar ia menemui seorang pria yang tinggal dalam sebuah tenda di gurun pasir. Sanghyang Borosngora bergegas menuju tenda yang dimaksud dan ketika ia membuka tabir tenda itu dilihatnya seorang pria tua. Karena terkejut dengan kedatangan tamunya, pena yang ada di tangan pria tua itu terjatuh menancap di tanah berpasir.
Lelaki misterius itu menegur sang pangeran karena telah datang tanpa mengucapkan salam sehingga mengejutkannya dan mengakibatkan pena yang dipegangnya jatuh tertancap di pasir, padahal sesungguhnya lelaki itu hanya berpura-pura terkejut karena ingin memberi pelajaran kepada pemuda pendatang yang terlihat jumawa karena kesaktian yang dimilikinya itu. Setelah bertanya apa keperluannya datang ke tendanya, lelaki itu meminta Sanghyang Borosngora agar mengambilkan penanya yang tertancap di pasir.
Sang pangeran segera memenuhi permintaan pria itu, tetapi terjadi kejanggalan, pena yang menancap di pasir itu seperti sudah menyatu dengan bumi sehingga walaupun segenap kekuatannya telah dikerahkan, namum alat tulis itu tak bergeming barang sedikitpun. Sanghyang Borosngora segera menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Sebagai seorang kesatria ia mengakui kehebatan pria itu dan memohon ampun atas kelancangan sikapnya tadi. Sang pangeran juga memohon kesediaan pria misterius itu mengajarinya ilmu yang sangat mengagumkannya ini. Lelaki yang kemudian diketahui adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib R.A. ini hanya meminta Sanghyang Borosngora mengucapkan kalimat syahadat seperti yang dicontohkannya dan sungguh ajaib, pena yang menancap di tanah itu bisa dicabut dengan mudah olehnya.
Setelah peristiwa itu Sanghyang Borosngora menetap beberapa lama di Mekah untuk menimba Ilmu Sajati kepada Baginda Ali R.A. yang ternyata adalah Dien Al Islam. Di akhir masa pendidikannya Sanghyang Borosngora diberi wasiat oleh Baginda Ali agar melaksanakan syiar Islam di tanah asalnya. Sanghyang Borosngora yang sekarang bernama Syeikh Haji Abdul Iman ini kemudian diberi cinderamata berupa Pedang, Cis (tombak bermata dua atau dwisula), dan pakaian kebesaran. Sebelum pulang Syeikh Haji Abdul Iman juga menciduk air zam-zam dengan gayung berlubang pemberian ayahnya dan ternyata air zam-zam itu tidak menetes yang berarti ia telah berhasil menguasai ilmu sajati dengan sempurna.
Ringkas cerita Sanghyang Borosngora kembali ke kaprabon dan disambut dengan suka cita oleh sang prabu beserta seluruh kerabatnya. Sanghyang Borosngora juga menyampaikan syiar Islam kepada seluruh kerabat istana. Sang Prabu yang telah uzur menolak dengan halus ajakan puteranya itu dan memilih hidup sebagai pendeta sebagaimana kehendaknya dahulu dan menyerahkan singgasana kepada putera mahkota Sanghyang Lembu Sampulur II. Air zam-zam yang dibawanya dijadikan cikal bakal air Situ Lengkong yang sebelumnya merupakan sebuah lembah yang mengelilingi bukit bernama Pasir Jambu. Gayung berlubang pemberian ayahnya dilemparkan ke Gunung Sawal dan kemudian menjadi sejenis tanaman paku yang bentuknya seperti gayung. Sanghyang Borosngora melanjutkan syiar Islamnya dengan mengembara ke arah barat melewati daerah-daerah yang sekarang bernama Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.
Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II tidak lama memerintah di Kerajaan Panjalu karena merasa berbeda dengan ajaran yang dibawa oleh adiknya, ia kemudian hijrah ke daerah Cimalaka di kaki Gunung Tampomas, Sumedang dan mendirikan kerajaan baru di sana. Sanghyang Borosngora yang menempati urutan kedua sebagai pewaris tahta Panjalu meneruskan kepemimpinan kakaknya itu dan menjadikan Panjalu sebagai kerajaan Islam yang sebelumnya bercorak Hindu.
Sebagai media syiar Islam, Sanghyang Borosngora mempelopori tradisi upacara adat Nyangku yang diadakan setiap Bulan Maulud (Rabiul Awal), yaitu sebuah prosesi ritual penyucian pusaka-pusaka yang diterimanya dari Baginda Ali R.A. yang setelah disucikan kemudian dikirabkan dihadapan kumpulan rakyatnya. Acara yang menarik perhatian khalayak ramai ini dipergunakan untuk memperkenalkan masyarakat dengan agama Islam dan mengenang peristiwa masuk Islamnya Sanghyang Borosngora.
Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II
Sanghyang Lembu Sampulur II naik tahta menggantikan Prabu Sanghyang Cakradewa, akan tetapi ia kemudian hijrah dan mendirikan kerajaan baru di Cimalaka Gunung Tampomas (Sumedang).Prabu Sanghyang Borosngora
Sanghyang Borosngora naik tahta Panjalu menggantikan posisi kakaknya, ia kemudian membangun keraton baru di Nusa Larang. Adiknya yang bernama Sanghyang Panji Barani diangkat menjadi Patih Panjalu. Di dalam Babad Panjalu tokoh Prabu Sanghyang Borosngora ini dikenal sebagai penyebar Agama Islam dan Raja Panjalu pertama yang menganut Islam, benda-benda pusaka peninggalannya masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit dan dikirabkan pada setiap bulan Maulud setelah terlebih dulu disucikan dalam rangkaian prosesi acara adat Nyangku. Sanghyang Borosngora mempunyai dua orang putera yaitu: 1) Rahyang Kuning dan 2) Rahyang Kancana. Prabu Sanghyang Borosngora juga didamping oleh Guru Aji Kampuhjaya dan Bunisakti, dua orang ulama kerajaan yang juga merupakan senapati-senapati pilih tanding. Petilasan Prabu Sanghyang Borosngora terdapat di Jampang Manggung (Sukabumi), sedangkan petilasan Sanghyang Panji Barani terdapat di Cibarani (Banten).Prabu Rahyang Kuning
Rahyang Kuning atau Hariang Kuning menggantikan Borosngora menjadi Raja Panjalu, akibat kesalahpahaman dengan adiknya yang bernama Rahyang Kancana sempat terjadi perseteruan yang akhirnya dapat didamaikan oleh Guru Aji Kampuh Jaya dari Cilimus. Rahyang Kuning kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan tahta Panjalu kepada Rahyang Kancana.Rahyang Kuning di akhir hayatnya menjadi Raja di Kawasen (Ciamis Selatan), jasadnya dibawa pulang ke Panjalu dan dimakamkan di Kapunduhan Cibungur, Desa Kertamandala, Kecamatan Panjalu. Prabu Rahyang Kancana
Prabu Rahyang Kancana
Rahyang Kancana atau Hariang Kancana melanjutkan tahta Panjalu dari kakaknya, untuk melupakan peristiwa berdarah perang saudara di Ranca Beureum ia memindahkan kaprabon dari Nusa Larang ke Dayeuh Nagasari, sekarang termasuk wilayah Desa Ciomas Kecamatan Panjalu.Rahyang Kancana mempunyai dua orang putera yaitu:
1) Rahyang Kuluk Kukunangteko atau Hariang Kuluk Kukunangteko, dan
2) Rahyang Ageung atau Hariang Ageung.
Prabu Rahyang Kancana setelah mangkat dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong. Pusara Prabu Rahyang Kancana sampai sekarang selalu ramai didatangi para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.
Prabu Rahyang Kuluk Kukunangteko
Rahyang Kuluk Kukunangteko menggantikan Rahyang Kancana menduduki tahta Panjalu, ia didampingi oleh adiknya yang bernama Rahyang Ageung sebagai Patih Panjalu. Sang Prabu mempunyai seorang putera bernama Rahyang Kanjut Kadali Kancana.Pusara Rahyang Kuluk Kukunangteko terletak di Cilanglung, Simpar, Panjalu.
Prabu Rahyang Kanjut Kadali Kancana
Rahyang Kanjut Kadali Kancana atau Hariang Kanjut Kadali Kancana menggantikan ayahnya sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Rahyang Kadacayut Martabaya. Rahyang Kanjut Kadali Kancana setelah mangkat dipusarakan di Sareupeun Hujungtiwu, Panjalu.Prabu Rahyang Kadacayut Martabaya
Rahyang Kadacayut Martabaya atau Hariang Kadacayut Martabaya naik tahta menggantikan ayahnya, ia mempunyai seorang anak bernama Rahyang Kunang Natabaya.Rahyang Kadacayut Martabaya jasadnya dipusarakan di Hujungwinangun, Situ Lengkong Panjalu.
Prabu Rahyang Kunang Natabaya
Rahyang Kunang Natabaya atau Hariang Kunang Natabaya menduduki tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia menikah dengan Apun Emas. Apun Emas adalah anak dari penguasa Kawali bernama Pangeran Mahadikusumah atau Apun di Anjung yang dikenal juga sebagai Maharaja Kawali (1592-1643) putera Pangeran Bangsit (1575-1592). Sementara adik Apun Emas yang bernama Tanduran di Anjung menikah dengan Prabu di Galuh Cipta Permana (1595-1608) dan menurunkan Adipati Panaekan.Dari perkawinannya dengan Nyai Apun Emas, Prabu Rahyang Kunang Natabaya mempunyai tiga orang putera yaitu :
1) Raden Arya Sumalah,
2) Raden Arya Sacanata, dan
3) Raden Arya Dipanata.
Pada masa kekuasaan Prabu Hariang Kunang Natabaya ini, Panembahan Senopati (1586-1601) berhasil menaklukkan Cirebon beserta daerah-daerah bawahannya termasuk Panjalu.
Pusara Prabu Rahyang Kunang Natabaya terletak di Ciramping, Desa Simpar, Panjalu.
[Raden Arya Sumalah
Arya Sumalah naik tahta Panjalu bukan sebagai Raja, tapi sebagai Bupati di bawah kekuasaan Mataram. Ia menikah dengan Ratu Tilarnagara puteri dari Bupati Talaga yang bernama Sunan Ciburuy atau yang dikenal juga dengan nama Pangeran Surawijaya, dari pernikahannya itu Arya Sumalah mempunyai dua orang anak, yaitu:1) Ratu Latibrangsari dan
2) Raden Arya Wirabaya.
Arya Sumalah setelah wafat dimakamkan di Buninagara Simpar, Panjalu.
Pangeran Arya Sacanata atau Pangeran Arya Salingsingan
Raden Arya Sumalah wafat dalam usia muda dan meninggalkan putera-puterinya yang masih kecil. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Kabupaten Panjalu Raden Arya Sacanata diangkat oleh Sultan Agung (1613-1645) sebagai Bupati menggantikan kakaknya dengan gelar Pangeran Arya Sacanata.Pangeran Arya Sacanata juga memperisteri Ratu Tilarnagara puteri Bupati Talaga Sunan Ciburuy yang merupakan janda Arya Sumalah. Pangeran Arya Sacanata mempunyai banyak keturunan, baik dari garwa padminya yaitu Ratu Tilarnagara maupun dari isteri-isteri selirnya (ada sekitar 20 orang anak), anak-anaknya itu dikemudian hari menjadi pembesar-pembesar di tanah Pasundan.
Dua belas diantara putera-puteri Pangeran Arya Sacanata itu adalah:
1) Raden Jiwakrama (Cianjur),
2) Raden Ngabehi Suramanggala,
3) Raden Wiralaksana (Tengger, Panjalu),
4) Raden Jayawicitra (Pamekaran, Panjalu),
5) Raden Dalem Singalaksana (Cianjur),
6) Raden Dalem Jiwanagara (Bogor),
7) Raden Arya Wiradipa (Maparah, Panjalu),
8) Nyi Raden Lenggang,
9) Nyi Raden Tilar Kancana,
10) Nyi Raden Sariwulan (Gandasoli, Sukabumi),
11) Raden Yudaperdawa (Gandasoli, Sukabumi), dan
12) Raden Ngabehi Dipanata.
Putera Sultan Agung, Sunan Amangkurat I pada tahun 1656-1657 secara sepihak mencopot jabatan Pangeran Arya Sacanata sebagai Bupati Panjalu yang diangkat oleh Sultan Agung serta menghapuskan Kabupaten Panjalu dengan membagi wilayah Priangan menjadi 12 Ajeg; salah satunya adalah Ajeg Wirabaya yang meliputi wilayah Ciamis Utara meliputi Panjalu, Utama dan Bojonglopang serta dikepalai oleh keponakan sekaligus anak tirinya yaitu Raden Arya Wirabaya sehingga membuat Pangeran Arya Sacanata mendendam kepada Mataram.
Suatu ketika Pangeran Arya Sacanata ditunjuk oleh mertuanya yang juga Bupati Talaga Sunan Ciburuy untuk mewakili Talaga mengirim seba (upeti) ke Mataram. Pada kesempatan itu Pangeran Arya Sacanata menyelinap ke peraduan Sinuhun Mataram dan mempermalukanya dengan memotong sebelah kumisnya sehingga menimbulkan kegemparan besar di Mataram. Segera saja Pangeran Arya Sacanata menjadi buruan pasukan Mataram, namun hingga akhir hayatnya Pangeran Arya Sacanata tidak pernah berhasil ditangkap oleh pasukan Mataram sehingga ia mendapat julukan Pangeran Arya Salingsingan (dalam Bahasa Sunda kata "salingsingan" berarti saling berpapasan tapi tidak dikenali).
Pangeran Arya Sacanata menghabiskan hari tuanya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian dan memilih hidup seperti petapa mengasingkan diri di tempat-tempat sunyi di sepanjang hutan pegunungan dan pesisir Galuh. Mula-mula ia mendirikan padepokan di Gandakerta sebagai tempatnya berkhalwat (menyepi), Sang Pangeran kemudian berkelana ke Palabuhan Ratu, Kandangwesi, Karang, Lakbok, kemudian menyepi di Gunung Sangkur, Gunung Babakan Siluman, Gunung Cariu, Kuta Tambaksari dan terakhir di Nombo, Dayeuhluhur. Pangeran Arya Sacanata wafat dan dipusarakan di Nombo, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Raden Arya Wirabaya
Sewaktu Sunan Amangkurat I berkuasa (1645-1677) pada sekitar tahun 1656-1657 wilayah Mancanagara Kilen (Mataram Barat) dibagi menjadi dua belas Ajeg (daerah setingkat kabupaten) serta menghapuskan jabatan Wedana Bupati Priangan, keduabelas Ajeg itu adalah: Sumedang, Parakan Muncang (Bandung Timur), Bandung, Sukapura (Tasikmalaya), Karawang, Imbanagara (Ciamis), Kawasen (Ciamis Selatan), Wirabaya (Ciamis Utara termasuk Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang), Sindangkasih, Banyumas, Ayah/Dayeuhluhur (Kebumen, Cilacap) dan Banjar (Ciamis Timur).Pada waktu itulah Arya Wirabaya diangkat oleh Sunan Amangkurat I menjadi Kepala Ajeg Wirabaya sekaligus menggantikan Pangeran Arya Sacanata yang tidak lagi menjabat Bupati karena Kabupaten Panjalu telah dihapuskan dan dimasukkan kedalam Ajeg Wirabaya.
Arya Wirabaya mempunyai seorang putera yang bernama Raden Wirapraja, setelah wafat jasad Arya Wirabaya dimakamkan di Cilamping, Panjalu, Ciamis.
Raden Tumenggung Wirapraja
Raden Wirapraja menggantikan ayahnya menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Wirapraja. Pada masa pemerintahannya kediaman bupati dipindahkan dari Dayeuh Nagasari ke Dayeuh Panjalu.Tumenggung Wirapraja setelah mangkat dimakamkan di Kebon Alas Warudoyong, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis.
Raden Tumenggung Cakranagara I
Salah seorang putera Arya Sacanata yang bernama Arya Wiradipa memperisteri Nyi Mas Siti Zulaikha puteri Tandamui dari Cirebon, ia bersama kerabat dan para kawulabaladnya dari keraton Talaga mendirikan pemukiman yang sekarang menjadi Desa Maparah, Panjalu. Dari pernikahannya itu Arya Wiradipa mempunyai empat orang anak, yaitu:1) Raden Ardinata,
2) Raden Cakradijaya,
3) Raden Prajasasana, dan
4) Nyi Raden Ratna Gapura.
Raden Prajasasana yang setelah dewasa dikenal juga dengan nama Raden Suragostika mengabdi sebagai pamong praja kepada Pangeran Arya Cirebon (1706-1723) yang menjabat sebagai Opzigter (Pemangku Wilayah) VOC untuk Wilayah Priangan dan karena kinerjanya yang baik, Raden Suragostika kemudian diangkat Pangeran Arya Cirebon menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara menggantikan Tumenggung Wirapraja.
Tumenggung Cakranagara I memperisteri Nyi Raden Sojanagara puteri Ratu Latibrangsari (kakak Arya Wirabaya) sebagai garwa padmi (permaisuri) dan menurunkan tiga orang putera, yaitu:
1) Raden Cakranagara II,
2) Raden Suradipraja, dan
3) Raden Martadijaya.
Sementara dari garwa ampil (isteri selir) Tumenggung Cakranagara I juga mempunyai empat orang puteri, yaitu:
1) Nyi Raden Panatamantri,
2) Nyi Raden Widaresmi.
3) Nyi Raden Karibaningsih, dan
4) Nyi Raden Ratnaningsih.
Tumenggung Cakranagara I setelah wafat dimakamkan di Cinagara, Desa Simpar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.
Raden Tumenggung Cakranagara II
Raden Cakranagara II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara II, sedangkan adiknya yang bernama Raden Suradipraja diangkat menjadi Patih Panjalu dengan gelar Raden Demang Suradipraja.Tumenggung Cakranagara II mempunyai enam belas orang anak dari garwa padmi dan isteri selirnya, keenambelas putera-puterinya itu adalah:
1) Nyi Raden Wijayapura,
2) Nyi Raden Natakapraja,
3) Nyi Raden Sacadinata,
4) Raden Cakradipraja,
5) Raden Ngabehi Angreh,
6) Raden Dalem Cakranagara III,
7) Nyi Raden Puraresmi,
8) Nyi Raden Adiratna,
9) Nyi Raden Rengganingrum,
10) Nyi Raden Janingrum,
11) Nyi Raden Widayaresmi,
12) Nyi Raden Murdaningsih,
13) Raden Demang Kertanata,
14) Raden Demang Argawijaya,
15) Nyi Raden Adipura, dan
16) Nyi Raden Siti Sarana.
Tumenggung Cakranagara II setelah wafat dimakamkan di Puspaligar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.
Raden Tumenggung Cakranagara III
Raden Cakranagara III sebagai putera tertua dari garwa padmi (permaisuri) menggantikan posisi ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara III.Tahun 1810 wilayah Kawali yang dikepalai Raden Adipati Mangkupraja III (1801-1810) digabungkan kedalam wilayah Kabupaten Panjalu dibawah Raden Tumenggung Cakranagara III yang sama-sama berada dalam wilayah administratif Cirebon. Wilayah Kawali ini kemudian dikepalai oleh Raden Tumenggung Suradipraja I (1810-1819) yang menginduk ke Kabupaten Panjalu.
Pada tahun 1819 ketika Pemerintah Hindia-Belanda dibawah pimpinan Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. Baron Van der Capellen (1816-1836) dikeluarkanlah kebijakan untuk menggabungkan Kabupaten Panjalu, Kawali, Cihaur dan Distrik Rancah kedalam Kabupaten Galuh. Berdasarkan hal itu maka Tumenggung Cakranagara III dipensiunkan dari jabatannya sebagai Bupati Panjalu dan sejak itu Panjalu menjadi kademangan (daerah setingkat wedana) di bawah Kabupaten Galuh.
Pada tahun itu Bupati Galuh Wiradikusumah digantikan oleh puteranya yang bernama Adipati Adikusumah (1819-1839), sedangkan di Panjalu pada saat yang bersamaan putera tertua Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Sumawijaya diangkat menjadi Demang (Wedana) Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya, sementara itu putera ketujuh Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Cakradikusumah diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar Raden Arya Cakradikusumah.
Tumenggung Cakranagara III mempunyai dua belas orang putera-puteri, yaitu:
- Raden Sumawijaya (Demang Panjalu),
- Raden Prajasasana Kyai Sakti (Nusa Larang, Panjalu),
- Raden Aldakanata,
- Raden Wiradipa,
- Nyi Raden Wijayaningrum,
- Raden Jibjakusumah,
- Raden Cakradikusumah (Wedana Kawali),
- Raden Cakradipraja,
- Raden Baka,
- Nyi Raden Kuraesin,
- Raden Raksadipraja (Kuwu Ciomas, Panjalu), dan
- Raden Prajadinata (Kuwu Maparah, Panjalu).
Tumenggung Cakranagara III wafat pada tahun 1853 dan dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu berdekatan dengan pusara Prabu Rahyang Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora.
Raden Demang Sumawijaya
Raden Sumawijaya pada tahun 1819 diangkat menjadi Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya. Adiknya yang bernama Raden Cakradikusumah pada waktu yang berdekatan juga diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar Raden Arya Cakradikusumah. Demang Sumawijaya mempunyai tiga orang anak, yaitu: 1) Raden Aldakusumah, 2) Nyi Raden Asitaningsih, dan 3) Nyi Raden Sumaningsih.Demang Sumawijaya setelah wafat dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.
Raden Demang Aldakusumah
Raden Aldakusumah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Aldakusumah, ia menikahi Nyi Raden Wiyata (Reumalega, Panjalu) dan mempunyai empat orang anak, yaitu: 1) Raden Kertadipraja (Reumalega, Panjalu), 2) Nyi Raden Wijayaningsih, 3) Nyi Raden Kasrengga (Reumalega, Panjalu), dan 4) Nyi Raden Sukarsa Karamasasmita (Reumalega, Panjalu).Semantara itu adik sepupunya yang bernama Raden Argakusumah (putera Wedana Kawali Raden Arya Cakradikusumah) diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang Indramayu) dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara IV. Raden Demang Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) setelah wafatnya dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu.
Putera tertua Demang Aldakusumah yang bernama Raden Kertadipraja tidak lagi menjadi Demang Panjalu karena Panjalu kemudian menjadi sebuah kecamatan di Kabupaten Galuh di bawah kawedanaan Panumbangan, sementara ia sendiri tidak bersedia diangkat menjadi Kuwu (Kepala Desa ) Panjalu. Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis.
Wasiat Prabu Sanghyang Borosngora
gunung teu beunang dilebur
lebak teu beunang diruksak
larangan teu beunang dirempak
buyut teu beunang diobah
lojor teu beunang dipotong
pondok teu beunang disambung
nyaur kudu diukur
nyabdana kudu diundang
ulah ngomong sagete–gete
ulah lemek sadaek-daek
ulah maling papayungan
ulah zinah papacangan
kudu ngadek sacekna
kudu nilas saplasna
mipit kudu amit
ngala kudu menta
ngeduk cikur kudu mihatur
nyokel jahe kudu micarek
ngagedag kudu bewara
weduk teu kalawan diajug
bedas teu kalawan dimomotan
nu lain kudu dilainkeun
nu ulah kudu diulahkeun
nu enya kudu dienyakeun
ulah cueut kanu beureum
ulah ponteng kanu koneng
karana lamun dirempak
matak burung jadi ratu
matak edan jadi menak
matak pupul pangaweruh
matak hambar komara
matak teu mahi juritna
matak teu jaya perangna
matak sangar ka nagara
lebak teu beunang diruksak
larangan teu beunang dirempak
buyut teu beunang diobah
lojor teu beunang dipotong
pondok teu beunang disambung
nyaur kudu diukur
nyabdana kudu diundang
ulah ngomong sagete–gete
ulah lemek sadaek-daek
ulah maling papayungan
ulah zinah papacangan
kudu ngadek sacekna
kudu nilas saplasna
mipit kudu amit
ngala kudu menta
ngeduk cikur kudu mihatur
nyokel jahe kudu micarek
ngagedag kudu bewara
weduk teu kalawan diajug
bedas teu kalawan dimomotan
nu lain kudu dilainkeun
nu ulah kudu diulahkeun
nu enya kudu dienyakeun
ulah cueut kanu beureum
ulah ponteng kanu koneng
karana lamun dirempak
matak burung jadi ratu
matak edan jadi menak
matak pupul pangaweruh
matak hambar komara
matak teu mahi juritna
matak teu jaya perangna
matak sangar ka nagara
Langganan:
Postingan (Atom)